Agar Secangkir Kopi Tidak Tinggal Kenangan

Posted by

Oleh : Amanda Katili Niode, Ph.D.

Saat panen tiba, Ningsih Maramis dengan cekatan memetik buah kopi organik di Desa Pinogu, Gorontalo. Karena lokasinya terisolir, maka pedagang yang menuju tempat itu harus berjalan kaki selama 10 jam, melintasi sungai dan menyusuri tepi jurang. Kopi Pinogu sudah pernah disajikan di Istana Kepresidenan Bogor dan diekspor ke Jerman. Di Desa Tapian Nauli, Sumatera Utara, Rusmani Nababan setiap hari memantau lahan satu hektar miliknya yang ditanami Kopi Lintong. Biji kopinya jenis Arabica dan laris di berbagai negara. Kopi Lintong diperjualbelikan antara lain di Whole Foods Market Kota New York, jaringan pasar modern milik Amazon.

Ningsih dan Rusmani adalah dua dari 125 juta orang di seluruh dunia yang menggantungkan hidup pada industri kopi, dengan produksi global tahun 2018 mencapai 10 juta ton kopi. 

Data dari International Coffee Organisation menunjukkan bahwa setiap harinya penduduk dunia menikmati 1,4 miliar cangkir kopi. Namun, secangkir kopi panas, yang kini biasa dihirup miliaran orang setiap pagi, di kemudian hari mungkin tinggal menjadi kenangan. 

Tidak kurang dari Howard Schultz, mantan CEO Starbucks, jaringan kedai kopi terbesar di dunia, profesional di bisnis kopi selama 40 tahun, yang prihatin tentang kondisi industri kopi di masa depan. “Perubahan iklim,” kata Schultz kepada Justin Worland dari Majalah Time, “akan memainkan peran yang lebih besar dalam memengaruhi kualitas dan keutuhan kopi.” 

Kopi adalah tanaman yang rentan terhadap iklim karena untuk matang dengan sempurna dibutuhkan curah hujan yang tepat, suhu ideal dan sedikit kekeringan.

Curah hujan di atas rata-rata merusak bunga dan kuncup tanaman kopi, sementara suhu yang lebih panas menyebabkan petani berpindah ke lahan yang lebih tinggi untuk iklim tumbuh yang ideal. Hama yang merusak tanaman tumbuh subur di iklim yang lebih hangat dan basah. Semuanya menyebabkan hasil dan kualitas lebih rendah, yang berarti harga lebih tinggi untuk pembeli kopi.

Kegalauan akan dampak perubahan iklim mendorong kerjasama Key Coffee Inc. dari Jepang dengan World Coffee Research dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) di Jember, Jawa Timur, untuk menguji 35 varietas Arabica di Indonesia. Bloomberg menulis, Key Coffee mencari varietas baru agar dapat mempertahankan kualitas dan kuantitas kopi Arabica dalam kondisi cuaca abnormal. 

Kerjasama lainnya adalah antara IDH – The Sustainable Trade Initiative dengan PT Asal Jaya dan Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI). Guna membangun kapasitas 15.000 petani kopi Robusta di Kecamatan Dampit, Jawa Timur, diadakan pelatihan praktik pertanian yang baik dan manajemen pasca panen. Para petani dibekali pengetahuan untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim.

F Yuliasmara dari Puslitkoka memaparkan beberapa upaya untuk menyikapi perubahan iklim di perkebunan kopi. Di antaranya, pola tanam kopi dengan penaung atau agroforestri, penggunaan jenis kopi yang toleran terhadap hama dan kekeringan, serta penerapan teknologi konservasi kelembaban tanah.

Salah satu usaha kopi yang menggunakan sistem agroforestri adalah PT GFP Indonesia yang bermitra dengan Javara Culture untuk produksi Kopi Konservasi, kopi Arabica dari 12 wilayah. Kopi Konservasi menerapkan konsep pertanian berkelanjutan dengan memperhatikan nasib petaninya. 

Penelitian World Coffee Research menyimpulkan, permintaan kopi akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2050, tetapi lahan yang cocok untuk menanam akan berkurang setengahnya.

Agar secangkir kopi tidak tinggal kenangan saja, maka perubahan iklim harus disikapi oleh semua pihak dalam rantai pasok kopi, seperti petani, pedagang, pemerintah, pengekspor, penyangrai, dan pengecer, termasuk pasar swalayan dan kedai kopi. Akan tetapi, penikmat dan pencinta kopi juga harus berjuang, sehingga Ningsih Maramis, Rusmani Nababan, dan semua yang mata pencahariannya bersumber di industri kopi, menjadi lebih makmur.

SUMBER

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *