Upaya Kita Menjaga Lingkungan dan Hutan yang Tersisa

Posted by

Oleh Stevan Manihuruk

Pada tahun 2015, terjadi peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang cukup hebat di beberapa daerah di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Papua. Di pulau Sumatera, karhutla yang paling parah terjadi di tiga provinsi yaitu Riau, Sumatera Selatan dan Jambi.            

Saya masih ingat betul peristiwa tersebut karena ikut merasakan langsung hari-hari berkabut kala itu. Ya, udara di kota ini penuh dengan kabut asap yang memerihkan mata dan menyesakkan dada.

Pemerintah kota lalu sibuk memberikan himbauan agar warga mengurangi aktivitas di luar rumah serta selalu mengenakan masker agar terhindar dari bahaya asap yang bisa mengganggu kesehatan. Selama beberapa hari, sekolah juga sempat diliburkan demi alasan menjaga kesehatan anak-anak. Beberapa jadwal penerbangan dari dan menuju Jambi juga jadi berantakan.

Saya juga sempat merasakan betapa menyebalkan ketika pesawat yang saya tumpangi dari Jakarta saat hampir mendarat di Jambi terpaksa harus kembali lagi ke Jakarta karena alasan jarak pandang untuk mendarat terlalu dekat akibat tertutup kabut asap. Itu dianggap bisa membahayakan keselamatan. Keesokan harinya, mau tak mau, akhirnya saya melanjutkan perjalanan dari Jakarta menuju Jambi dengan menggunakan moda transportasi darat.

Kabut asap menyelimuti kota Jambi (Foto: jambi.tribunnews.com)

Kabut asap menyelimuti kota Jambi (Foto: jambi.tribunnews.com)

Saat itu, aktivitas keseharian warga benar-benar terganggu. Banyak warga khususnya anak-anak yang terpaksa dirawat di rumah sakit karena mengalami ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Yang paling memilukan, bahkan ada yang meninggal dunia.

Setelah peristiwa kelam tersebut, tahun-tahun berikutnya peristiwa karhutla memang relatif lebih bisa diatasi, ditambah lagi bantuan curah hujan yang membasahi bumi.

Tiba pertengahan 2019, seiring beberapa bulan sebelumnya telah terjadi kemarau cukup panjang, lalu dikabarkan telah muncul lagi titik-titik api di sejumlah lokasi. Benar saja dan tidak menunggu waktu yang lama, kabut asap kembali menyelimuti kota ini. Sekolah sempat diliburkan beberapa hari, aktivitas warga terganggu lagi. Bayang-bayang peristiwa kelam 2015 muncul kembali.  

Saya dan isteri yang baru saja mendapatkan buah hati juga menjadi kuatir dan was-was hati terlebih ketika kabut asap itu sudah mulai berhasil masuk ke dalam rumah. Kemudian saya mendapat kabar seorang teman yang tinggal di Pekanbaru, anaknya yang masih bayi terpaksa harus dirawat di rumah sakit akibat terpapar kabut asap. Demi alasan keselamatan, bayinya itu akhirnya “diungsikan” ke daerah lain menunggu sampai kabut asap hilang.     

Isu global

Kebakaran hutan dan lahan hanya satu dari sekian banyak persoalan kita di bidang kehutanan dan lingkungan. Dunia (tak hanya Indonesia) saat ini diperhadapkan pada situasi pelik yang menunjukkan tanda-tanda bahwa dunia yang kita tempati saat ini memang sudah rusak dan renta. Cuaca yang tidak menentu, bencana terjadi dimana-mana, dan sebagainya.

Kita sering merangkum masalah-masalah lingkungan ini dengan istilah perubahan iklim atau pemanasan global. Dunia menaruh perhatian yang besar berkaitan hal ini. Dapat dipahami karena persoalan lingkungan di suatu negara sedikit banyaknya pasti memberi dampak pada dunia secara meluas. Misalnya, perusakan hutan, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia jelas tak hanya berdampak buruk bagi Indonesia semata. Secara global, itu juga turut menyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) yang memicu terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global.

Dokpri

Dokpri

Tidak heran, tokoh-tokoh publik dunia kini tak lagi segan menyuarakan protes dan keprihatinannya terhadap permasalahan yang terjadi di di negara lain. Baru-baru ini, aktor tenar Leonardo Di Caprio melalui akun instagram miliknya @leonardodicaprio secara khusus menyoroti tumpukan sampah di Bantar Gebang, Jakarta. Ia bahkan menyebut tempat tersebut tempat pembuangan sampah terbesar di dunia “the worlds largest dump”  .

Beberapa tahun sebelumnya, aktor Hollywood, Harrison Ford juga sempat berseteru dengan mantan Menteri Kehutanan kita. Ford berang melihat kondisi rusaknya Taman Nasional Tesso Nilo yang terletak di kabupaten Pelalawan, Riau. Ford menemukan fakta bahwa kawasan yang seharusnya menjadi hutan belukar tersebut, lebih dari separuhnya sudah dirambah dan dijadikan lahan perkebunan.       

Forest Talk with Netizens – Jambi   

Isu pemanasan global juga menjadi salah satu topik penting dalam acara bertajuk Forest Talk with Netizens – Jambi dengan tema Menuju Pengelolaan Hutan Lestari yang diselenggarakan oleh Yayasan Doktor Sjahrir, organisasi nirlaba yang fokus pada isu pendidikan, kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup. Acara ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 31 Agustus 2019 di Swiss-BelHotel Jambi, dihadiri kurang lebih 50 netizens Jambi yang terdiri dari media, bloggers, dan pengguna aktif sosial media.

Moderator dan Narasumber Forest Talk (Dokpri)

Moderator dan Narasumber Forest Talk (Dokpri)

Jambi menjadi kota kelima tempat diselenggarakannya acara ini. Sebelumnya, event serupa telah dilaksanakan di Jakarta, Palembang, Pontianak dan Pekanbaru. Ya, tiga provinsi “langganan” kebakaran hutan dan lahan di Pulau Sumatera sepertinya memang sengaja menjadi target pilihan. Reportase kegiatan-kegiatan sebelumnya bisa dilihat di lestarihutan.id.     

Dr. Amanda Katili, Manager Climate Reality Indonesia dalam sesi penyampaian materi menyampaikan fakta menarik mengenai cuaca ekstrem yang terjadi di berbagai belahan dunia saat ini. Disebutkan bahwa 2018, ada 60 juta orang yang terdampak cuaca ekstrem. Di Indonesia masih pada tahun yang sama, terjadi 2.372 bencana, 97 % hidrometeorologi, dan 3,5 juta orang menderita dan mengungsi.

Data juga menunjukkan bahwa perubahan iklim yang diawali dari meningkatnya emisi gas rumah kaca dominan disebabkan oleh ulah/kegiatan manusia. Sementara itu, sektor kehutanan/penggunaan lahan menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca Indonesia yaitu sebesar 61,6 %. Selanjutnya, disusul sektor energi 26,2 %, sektor pertanian 8,2 %, limbah 3,2 %, industri 0,7 %, penerbangan dan perkapalan 0,1 %.

Seperti sudah suratan takdir, keseimbangan alam dan lingkungan akan segera berbenturan dengan kebutuhan dan kerakusan manusia sebagai makhluk ekonomi. Ketika kepentingan ekologi berhadapan langsung dengan kepentingan ekonomi, mengutip syair lagu, “malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya”. Namun, benarkah dan haruskah selalu demikian?  

Selanjutnya Dr. Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia secara khusus menyoroti pengelolaan hutan dan lanskap yang berkelanjutan. Fakta-fakta terjadinya deforestasi, degradasi dan konversi hutan serta kaitannya dengan emisi CO2 dijelaskan secara gamblang.

Satu hal paling menarik yang saya renungkan, benar bahwa mengembalikan kondisi hutan yang telah rusak butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun lamanya dan itu pun takkan mungkin bisa kembali persis seperti kondisi semula. Namun, kita masih punya harapan dan upaya bersama untuk mengembalikan “fungsi” hutan dengan menanam pohon serta melakukan praktik-praktik berkelanjutan pada hutan yang masih tersisa.  

Sesi penyampaian materi (Dokpri)

Sesi penyampaian materi (Dokpri)

Hal menarik berikutnya diingatkan bahwa sesungguhnya hutan dan pohon-pohon yang ada di dalamnya menyimpan banyak potensi yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan tanpa harus merusaknya.

Ibu Murni Titi Resdiana yang seyogianya menyampaikan materi namun berhalangan hadir, dalam penyampaian materi yang diwakilkan oleh Dr. Amanda Katili menyebut kegiatan menanam pohon juga berpotensi membangkitkan ekonomi kreatif. Di banyak tempat sudah terbukti pohon bisa digunakan sebagai sumber serat, sumber pewarna alam, bahan kuliner, sumber furniture, sumber barang dekorasi, sumber minyak atsiri dan sebagainya.

Praktik baik dan peran netizens   

Acara Forest Talk ini kian menarik karena tak sekadar menampilkan sesi penyampaian materi dan diskusi dengan para narasumber, namun menghadirkan langsung beberapa pelaku usaha yang melakukan praktik baik pengelolaan hasil hutan secara lestari sebagai bintang tamu. Mereka diberi panggung untuk memamerkan potensi yang dihasilkan sekaligus bercerita tentang pengalaman, pandangan mereka tentang hutan dan hasilnya yang bisa dikelola secara lestari.

Bustam Effendi, pria asal kabupaten Bungo, provinsi Jambi yang sejak kecil dipanggil Vinto memaparkan hasil karyanya seperti batik, syal, tas, tikar dan bermacam produk kerajinan lainnya. Yang menarik tentu saja penggunaan bahan-bahan alam untuk menghasilkan produk, diantaranya daun pandan hutan, serat pandan, bunga alang-alang, rotan, sutra, getah pisang, kapuk dan lainnya. Pemilik brand kain Vinto ini sudah punya segudang pengalaman dan prestasi menjuarai event-event bertaraf internasional. Sungguh pencapaian yang luar biasa membanggakan.

Bang Vinto berbagi pengalaman praktik baik pengelolaan hutan secara lestari (Dokpri)

Bang Vinto berbagi pengalaman praktik baik pengelolaan hutan secara lestari (Dokpri)

Selain Vinto, ada pula @rengkerengke yang memamerkan kerajinan rotan Suku Anak Dalam (SAD), jamur crispy @ragel.id, serta produk makanan dan kompos dari masyarakat Desa Makmur Peduli Api di Jambi yang merupakan program dari APP Sinar Mas.

Saya berasumsi, masih banyak praktik baik pengelolaan hutan secara lestari dan berkelanjutan yang ada di Jambi. Berbagai keterbatasan akses dan kompetensi mungkin membuat mereka kurang terekspos ke publik.

Menurut saya, kearifan-kearifan lokal dan praktik baik pengelolaan hutan secara lestari dan berkelanjutan seperti ini penting untuk terus digaungkan di ruang publik. Ia diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang agar ikut melakukan hal yang serupa.

Orang-orang kreatif dan berwawasan lingkungan memang harus didukung serta diberikan panggung sehingga mereka bisa berbagi pengalaman dan pandangan-pandangannya pada banyak orang. Dukungan berbagai pihak termasuk pemerintah jelas dibutuhkan agar ide dan upaya mereka tidak layu sebelum berkembang. 

Kain Vinto (Dokpri)

Kain Vinto (Dokpri)

Pada acara Forest Talk yang berlangsung kemarin, Yayasan Doktor Sjahrir secara khusus menyasar para netizens di Jambi sebagai peserta. Tujuannya jelas, para peserta yang hadir kembali diingatkan, disadarkan sekaligus diharapkan bisa menjadi “corong” yang mau terus menyuarakan kegelisahan dan ide penyelamatan hutan dan lingkungan khususnya di provinsi Jambi.

Para peserta juga diharapkan mampu menjadi agen-agen penyelamat lingkungan dengan cara melakukan gerakan penyadaran melalui penyebaran konten-konten (tulisan, gambar, video) positif dan inspiratif di media sosial. Mengkampanyekan tentang arti pentingnya penyelamatan hutan dan lingkungan sekaligus mempromosikan praktik baik pengelolaan hutan dan lingkungan secara lestari yang sudah dan sedang dikerjakan sebagian orang.

Dokpri

Dokpri

Sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk berkontribusi nyata mengatasi persoalan pemanasan global yang terjadi saat ini. Tanggung jawab kita untuk merawat serta menjaga lingkungan dan hutan kita yang masih tersisa untuk diwariskan ke generasi yang akan datang. Salam lestari hutan.           

***

Jambi, 8 September 2019

HALAMAN :

  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *