Sungguh, Kita Adalah Orang Yang Berhutang Pada Hutan

Posted by

Oleh : Novitania

Jangan cari aku,Jika aku pergi ke hutan dan lama tak kembali

Aku tak tersesat, tapi menemukan diri

~ Sam Haidy


Sepenggal puisi di atas, menggambarkan perasaanku saat ini. Pulang dari acara Forest Talk with Bloggers, aku seolah mendapat insight baru seputar harmoni kehidupan. Sungguh kita adalah orang yang berhutang pada hutan.


Apa yang kita hirup, kita makan, dan kita pakai hampir semuanya bersumber dari hutan. Tapi ibarat Malin Kundang yang durhaka, banyak dari kita yang justru tak menghargainya bahkan merusaknya. Padahal hutan seperti jaminan kehidupan masa depan kita.


Bertemu para pakar yang sangat hebat di bidangnya semakin membuat aku berkaca. Betapa manusia sering kali kehilangan akal dan logika, dan sering berbuat semaunya. Lagi-lagi aku berkaca pada diri sendiri, “apa yang telah aku lakukan untuk membayar hutangku pada hutan?”.


Pertanyaan itulah, yang akhirnya mengantarkanku mengunjungi sebuah hutan kota di daerah Bekasi. Pemaparan pakar-pakar hebat kemarin benar-bener membukakan pikiranku tentang hutan. Tapi jujur, aku tak puas. Aku ingin melihat langsung bagaimana kondisi hutan di daerah sekitarku.
Tak jauh dari rumah, ada taman hutan kota yang dibangun oleh pemerintah daerah. Hutan yang hijau, sejuk dan ramai. Banyak masyarakat yang menjadikannya sebagai tempat berolahraga, bercengkrama, dan membaca.

Kukelilingi setiap sudutnya, sampai akhirnya aku menemukan sebuah papan yang berisi himbauan untuk melestarikan hutan. Sejenak pikiranku melayang. Apa jadinya kotaku tanpa hutan ini. Pasti akan gersang, panas, dan tak lagi nyaman.


Itukah yang akan terjadi 10 atau 20 tahun mendatang? Naudzubillah Mindzalik. Sungguh aku tak ingin. Kini saatnya kita membayar hutang kita pada hutan. Siapapun kita, apapun profesi kita, aku rasa semua punya perannya masing-masing demi masa depan kita semua.

Forest Talk with Bloggers: Saatnya Blogger Ambil Bagian dalam Pelestarian Hutan

Sabtu pagi, tanggal 9 Februari lalu aku berkesempatan hadir di acara Forest Talk with Bloggers. Sebuah acara yang dikemas apik, kerjasama antara Yayasan Doktor Sjahrir dan Climate Reality Project Indonesia. Tidak hanya menampilkan talkshow interaktif, undangan yang hadir juga bisa melihat mini exhibition, yang memamerkan Produk Hutan Non Kayu dan produk kreatif yang berasal dari limbah kayu, hasil dari program CSR serta icip-icip kuliner produk hutan.
Acaranya dibuka oleh Blogger Senior, Mantan Vice President ASEAN Bloggers chapter Indonesia, Amril Taufik Gobel yang bertindak sebagai MC dan ada empat pakar hebat yang memberikan pemaparannya seputar kelestarian hutan, yaitu:

  • Dr. Amanda Katili Niode, Manager Climate Reality Indonesia
  • Dr. Atiek Widayati, Tropenbos Indonesia
  • Ir. Murni Titi Resdiana, MBA, Asisten Utusan Khusus Presiden bidang Pengendalian Perubahan Iklim
  • Dr. Sri Maryati, Direktur Eksekutif Yayasan Belantara

Yayasan Doktor Sjahrir (YDS) yang bertindak sebagai pengagas acara ini, merupakan organisasi nirlaba yang dibentuk untuk meneruskan warisan alm Dr. Sjahrir dan bergerak di bidang pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Dalam dua tahun terakhir ini, YDS telah melaksanakan serangkaian kegiatan peningkatan kapasitas kepada pemuda dan masyarakat akan pentingnya aksi nyata menghadapi perubahan iklim global khususnya pentingnya menjaga kelestarian hutan.
Senada dengan YDS, The Climate Reality Project Indonesia, bagian dari The Climate Reality Project yang berbasis di Amerika Serikat yang dipimpin oleh Mantan Wakil Presiden Al Gore, memiliki lebih dari 300 relawan yang disebut Climate Reality Leader di Indonesia yang berasal dari berbagai latar belakang. Organisasi nirlaba ini aktif melakukan sosialisasi perubahan iklim dan mendorong masyarakat menjadi bagian dari solusi.

Bumi dan Hutan Kita sedang Tidak Baik-Baik Saja

Bumi dan hutan kita bisa dibilang sedang tidak baik-baik saja. Itulah kenapa, sekarang saatnya kita membayar hutang kita pada hutan. Agar setidaknya, kondisi hutan kita tak semakin parah.
Berdasarkan catatan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, sedikitnya 1,1 juta hektar atau 2% dari hutan Indonesia menyusut setiap tahunnya. Data Kementerian Kehutanan menyebutkan dari sekitar 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektar di antaranya sudah habis ditebang. 
Membaca data ini, hatiku serasa teriris. Sampai kapan hutan kita habis ditebangi? Hal ini pula yang akhirnya menarik perhatian salah satu aktor senior Hollywood, Harrison Ford.
Tiga tahun silam, Harryson datang ke Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, dalam rangka pembuatan film dokumenter Years of Living Dangerously. Ia begitu geram mengetahui kondisi hutan di sana yang pada awalnya memiliki luas 83 ribu Ha dan kini berubah menjadi 20 ribu Ha. Hal tersebut membuatnya langsung mendesak pemerintah Indonesia untuk segera menindak tegas para perambah. 
Potret tersebut seolah menggambarkan tingginya tingkat deforestasi hutan yang terjadi di Indonesia. Yang tentunya sangat berdampak pada perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Kerusakan Hutan dan Dampaknya pada Perubahan Iklim 

Sedari awal, Dr. Kartini Sjahrir tak henti-hentinya mengingatkan kita untuk melestarikan hutan dan lingkungan. Semuanya dapat kita mulai dari hal-hal sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik, menggunakan produk ekonomi kreatif berbasis hutan, dan lain sebagainya. Hal itu tentunya sangat berpengaruh terhadap kelestarian lingkungan dan juga mampu mengurangi emisi gas kaca.

Senada dengan Dr. Kartini Sjahrir, Dr. Amanda Katili Niodeselaku Manager Climate Reality Indonesia juga memaparkan betapa emisi gas kaca saat ini membawa dampak yang sangat besar bagi perubahan iklim dunia. Tuh di dunia lho, bukan hanya di Indonesia. Contoh nyatanya adalah musim dingin di Amerika Serikat yang mencapai -40 derajat celcius dan gelombang panas di Australia yang mencapai 50 derajat celcius.
Cuaca ekstrem yang terjadi tentunya mengakibatkan banyak makhluk hidup yang mati, ekosistem yang rusak, bahkan tunawisma yang akhirnya meninggal. Dr. Amanda Katili kemudian mengingatkan, jangan salahkan alam terhadap apa yang terjadi saat ini. Kitalah sumber penyebab semuanya.

Banyak hal yang kita lakukan yang tanpa kita sadari memberikan dampak yang luar biasa terhadap perubahan iklim, yaitu pembakaran bahan bakar fosil dalam penggunaan alat transportasi, proses industri pabrik, tebang hutan untuk lahan pertanian, penggunaan CFC untuk lemari es dan aerosol, limbah gas industri, sampai penambangan batu bara.
Ada penyebab, tapi juga ada solusi yang bisa kita lakukan. Dr. Amanda Katili memaparkan langkah yang bisa kita lakukan adalah dengan:
💚Mengurangi pengunaan plastik,💚Menggunakan produk-produk yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan program Perhutanan Sosial, selain bisa meningkatkan ekonomi desa, manfaatnya juga besar untuk kelestarian hutan dan lingkungan.💚Menanam dan memelihara pohon💚Mengonsumsi pangan lokal💚Menjadi peneliti muda

Hutan Tak Hanya Sekedar Penghasil Kayu

Mungkin banyak dari kita yang masih mengira bahwa hutan ya penghasil kayu. Padahal banyak lho Produk Hutan Non Kayu ramah lingkungan yang bisa kita gunakan.

Seperti yang disampaikan Dr. Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia. FYI, Tropenbos Indonesia sudah banyak melakukan kegiatan untuk mendukung pemerintah dalam penerapan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) untuk memberdayakan masyarakat melalui pengembangan mata pencaharian berkelanjutan seperi budidaya jamur dan eko wisata dan pembangunan pembibitan.
Nah, apa sih Produk Hutan Non Kayu itu? Dr. Atiek menjelaskan produk hutan non kayu sangat beragam seperti; madu hutan, sagu, lateks, kakao, rotan, dsb. Yang perlu diingat adalah dengan menggunakan produk hutan non kayu kita sudah berkontribusi melestarikan dan mengembalikan fungsi hutan.

Hal yang sama juga di sampaikan oleh Dr. Sri Maryati, Direktur Eksekutif Yayasan Belantara, yang telah banyak berkontribusi dalam pengembangan konservasi ekosistem hutan. Yayasan Belantara merupakan salah satu institusi penyalur dana hibah(grant-making institution) yang bekerja untuk melindungi bentang alam Indonesia dengan mengembangkan program berkelanjutan di area konservasi, reforestasi dan pengembangan masyarakat berkelanjutan.

Dalam paparannya Dr. Sri Maryati kelestarian hutan dan lingkungan dapat dimulai dengan pengelolaan ekosistem berkelanjutan dan menggunakan energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan kita. Energi terbarukan atau yang biasa dikenal dengan renewable energy adalah energi yang berasal dari sumber-sumber alamiah seperti sinar matahari, angin, hujan, geothermal dan biomassa.

Pohon dan Hubungannya dengan Ekonomi Kreatif Indonesia

Ir. Murni Titi Resdiana menjelaskan kurang lebih ada 5 fungsi pohon bagi manusia, yaitu sebagai sumber serat, sumber pewarna alam, bahan kuliner, sumber furniture, dan sumber barang dekorasi. Fungsi tersebut jika dimanfaatkan dengan maksimal maka akan memajukan sektor ekonomi kreatif Indonesia.

Hal itulah yang aku temukan di mini exhibition acara Forest Talk. Berbagai produk hasil olahan dari pohon, seperti kain, tas rotan, kerajinan tangan, bahkan produk rumah tangga seperti minyak, gula, kopi dan bumbu dapur aku temukan di sana.

❤️Rumah RakujiTempat di mana budaya, kerajinan dan seni Indonesia bisa berkembang. Rumah Rakuji mengakomodir pengrajin-pengrajin di daerah agar kerajinannya dapat dipasarkan secara luas. Di kempatan kemarin aku memakai salah satu produk dari Rumah Rakuji, seperti kain dan tas rotan. kainnya aku suka, cantik sekali. Aku pribadi nggak nyangka kain yang di produksi oleh Suku Dayak ini begitu indah dan memikat hati. 

❤️JavaraSedari dulu rempah-rempah Indonesia memang terkenal seantero jagat raya, sayangnya banyak dari kita yang justru tidak memanfaatkannya dengan baik. Bertemu dengan Javara rasanya aku seperti diajak back to nature. Melalui produk olahannya yang sehat dan tentunya alami kita bisa turut melestarikan lingkungan, memajukan ekonomi kreatif dan tentunya hidup lebih sehat.

Forest Talk Ajak Blogger untuk Semangat Melestarikan Hutan

Menjadi Blogger rasanya seperti perpanjangan tangan dari banyak pihak. Dan sebuah tanggung jawab besar untukku membagikan ilmu dan pengalaman yang aku dapat dari acara Forest Talk with Blogger beberapa waktu lalu.
Di postingan kali ini aku juga ingin mengajak semua pembacaku untuk melakukan apapun yang kita bisa untuk berkontribusi pada kelestarian hutan. Cukup mulai dari hal kecil dan sederhana yang kita bisa.
Terimakasih Yayasan Doktor Sjjahrir, The Climate Reality Project Indonesia, Yayasan Belantara, Rumah Rakuji, Javara, dll yang telah menyadarkan kita semua akan pentinya menjaga kelestarian hutan. Detail informasi mengenai kelestarian hutan bisa diakses diwww.lestarihutan.id
Jadi gimana kamu siap membayar hutang pada hutan???

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *