Perlu Gerakan Reboisasi Demi Pelestarian Hutan

Posted by

Oleh : Siti Rabiah

Akankah hutan kita punah? Yuk….kita lestarikan hutan! Bumi ini rasanya sudah semakin tua. Persediaan air, udara dan hutan semakin sedikit. Sudah waktunya ada gerakan reboisasi demi pelestarian hutan.

Air dan udara semakin sedikit, pohon pun banyak ditebang secara liar dan reboisasi jarang dilaksanakan. Kalaupun ada hanya di beberapa tempat saja, sedangkan bumi Indonesia ini terdiri dari berbagai jenis hutan. Kerusakan hutan dan cagar alam yang terjadi, ini semua ulah dan kesalahan manusia sendiri. Akibatnya yah…semuanya merasakan. Jadi seperti di awal tulisan ini, perlu ada gerakan pelestarian hutan.

Bincang-bincang soal hutan di Indonesia, saya bunda Sitti Rabiah yang sehari-hari adalah pengajar di pendidikan anak usia dini, Alhamdulillah merasa beruntung bisa ikut di acara “Forest Talk With Blogger”, pada Sabtu 9 Februari 2019 di Gedung Almond Zucchini Jakarta Selatan.

Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Doktor Sjahrir (YDS) bekerja sama dengan The Climate Realty Project (TCRP) Indonesia. TCRP Indonesia ini merupakan bagian dari TCRP yang berbasis di Amerika Serikat.

Di Indonesia TRCP telah memiliki lebih dari 300 relawan yang berasal dari berbagai latar belakang, namun mereka mempunyai satu tujuan, yaitu membawa perbaikan bagi bumi dan melestarikan hutan secara berkelanjutan.

Pada talkshow ini membahas tentang hutan-hutan yang ada di wilayah Indonesia. Baru kali ini bunda ikut talkshow tentang hutan, dan Subhanallah merinding rasanya melihat pemaparan para pakar-pakar pelindung dan pengelola hasil hutan. Mereka menyampaikan bagaimana jadinya kalau hutan kita ini punah. Beliau- beliau ini sangat cerdas, cantik, lembut dan sangat bersahaja. Terus terang bunda kagum pada mereka ini.

Bunda sendiri ikut acara ini atas nama blogger, maklum bunda ini seorang pengajar yang juga seorang penulis di blog. Terima kasih kepada sahabatku Amril Taufik Gobel yang langsung mengundang bunda dan suami lewat WA pribadi. Amril Taufik Gobel ini adalah mantan Vice Presiden ASEAN Blogger Chapter Indonesia, wah…keren ya.., dan juga Penasehat Komunitas Blogger Bekasi. Kebetulan bunda dan suami sudah lama bergabung sebagai Komunitas Blogger Bekasi.  Beliau yang langsung memandu acara talkshow ini.

Hadir di acara talkshow ini sebagai narasumber adalah : Amanda Katili Niode(Manajer Climate Reality Indonesia), Atiek Widayati (Tropenbos Indonesia), Murni Titi Resdiana (Kantor Utusan Khusus Presiden Bidang Pengendalian Perubahan Iklim Indonesia), DR. Sri Maryati (Direktur Eksekutif Yayasan Belantara).

Narasumber yang tampil di Talkshow YDS (foto: dok YDS)

Narasumber yang tampil di Talkshow YDS (foto: dok YDS)

Sekelumit Sejarah Berdirinya Yayasan Doktor Sjahrir

Acara talkshow interaktif ini diawali dengan pemaparan ibu Dr. Nurmala Kartini Pandjaitan, yaitu istri almarhum Doktor Sjahrir yang sekarang memimpin Yayasan Doktor Sjahrir ini. Beliaulah yang meneruskan yayasan suaminya. Ibu Kartini berhalangan hadir, tapi dalam slide videonya menceritakan sedikit sejarah berdirinya YDS ini.

Ibu Kartini mengatakan bahwa Doktor Sjahrir adalah pemerhati masalah ekonomi, politik dan kemasyarakatan. Olehnya itu, Yayasan Doktor Sjahrir (YDS) ini diteruskan oleh beliau. YDS ini merupakan organisasi nirlaba, yang dibentuk untuk meneruskan gagasan dan warisan dari suaminya, tutur beliau.

Apa itu organisasi nirlaba? menurut Wikipedia, organisasi nirlaba adalah organisasi non profit yang bersasaran pada pokok yang mendukung suatu isu atau perihal di dalam menarik perhatian publik, untuk suatu tujuan yang tidak komersil, tanpa ada perhatian terhadap hal-hal yang bersifat mencari laba (moneter).

Di Indonesia organisasi  nirlaba telah berkembang cukup pesat, terutama di bidang keagamaan serta advokasi dan bidang pendidikan.

Semasa hidupnya, Doktor Sjahrir memang terkenal sebagai orang yang peduli terhadap lingkungan hidup, permasalahan di bidang pendidikan, serta sangat peduli dengan toleransi beragama.

Kartini di akhir pesannya mengatakan bahwa, permasalahan pemanasan iklim global, merupakan masalah lintas generasi. Jangan sampai anak generasi yang akan datang menanggung sebab dari apa yang dilakukan oleh generasi kita sekarang ini, tutur ibu Kartini.

Ibu DR Amanda Katili Niode salah satu narasumber yang tampil di Talkshow YDS (foto: Bunda Sitti Rabiah)

Ibu DR Amanda Katili Niode salah satu narasumber yang tampil di Talkshow YDS (foto: Bunda Sitti Rabiah)

Talkshow Interaktif Bersama Blogger

Nah…talkshow interaktif ini, menurut bunda secara tidak langsung merupakan ajang sosialisasi  untuk menyampaikan pesan ajakan untuk bersama-sama menjaga lingkungan, agar bisa menuju pengelolaan dan penyelamatan lingkungan dan hutan lestari.

Amril Taufik Gobel sebagai pemilik blog www.daengbattala.com tampil sebagai MC sekaligus moderator, selanjutnya melanjutkan acara dengan mempersilahkan ibu Amanda Katili Niode untuk menyampaikan materinya. Wah…saya sendiri sangat menikmati acara ini, karena boleh dibilang santai, sambil mendengarkan pemaparan nara sumber, sambil ngopi syantik…

Amanda Katili Niode selaku Manager Climate Reality Indonesia sekaligus bertindak sebagai pelaksana acara, mengajak semua blogger untuk kritis terhadap kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan saat ini, bukan hanya sebatas isu saja, tapi sudah diperkuat oleh fakta dan data-data terkini yang nyatanya terus menunjukkan tingkat kerusakan yang cukup tinggi.

Amanda juga mengatakan bahwa, ternyata kaum perempuan saat ini memiliki tingkat kepedulian dan kesadaran lingkungan yang cukup tinggi dibanding kaum laki-laki. Ini mengingatkan pada tulisan Mongabay yang dimaknai, alam sebagai sumber kehidupan dan perempuan memiliki keahlian dalam memelihara alam. Juga perempuan sebagai pengelola kehidupan yang mempunyai keahlian memproduksi dan mereproduksi kehidupan.

Karena itu diharapkan melalui kaum perempuan dapat terjadi perubahan untuk mewujudkan kelestarian hutan dan kestabilan pangan, kata ibu Amanda.

Ibu Amanda juga memaparkan bahwa, selimut bumi makin tebal yang mengakibatkan makin panas yang dipengaruhi oleh kegiatan manusia, maka terjadilah perubahan iklim. Perubahan iklim ini kemudian berdampak pada kelangkaan air, gagal panen, bencana alam, gangguan kesehatan dan lain sebagainya.

Adapun solusinya menurut Ibu Amanda :

  • Kurangi limbah plastik dengan membawa wadah seperti yang bisa dipakai berulang-ulang-ulang, jika berbelanja.
  • Kurangi memasak yang dianggap banyak menghasilkan asap, seperti masak daging sapi, sebaiknya masak tahu yang tidak terlalu banyak menghasilkan asap.
  • Khusus industri fashion, jangan terlalu sering membuang pakaian bekas, kalau bisa manfaatkan pakaian bekas untuk dijadikan kreatifitas dll.
  • Hindari gas rumah kaca dan bakar sampah jangan di rumah.
  • Tanam dan pelihara pohon dari sekarang.
  • Konsumsilah pangan lokal
  • Cobalah menjadi peneliti muda.

Ibu Amanda di akhir materinya menghimbau kepada blogger agar dalam menulis di blog masing-masing bisa mengangkat topik mengenai lingkungan hidup. Caranya dengan menanam pohon yang dapat menjadi bahan baku produk unggulan desa, dan menggulirkan ekonomi kreatif di desa.

Sekedar tambahan informasi dari bunda, Ibu Amanda ini adalah seorang blogger traveler loh, ini dibuktikan pada link tulisannya di WA grup. Wah….hebat ibu, angkat jempol buat ibu DR. Amanda Katili Niode.

Pemaparan selanjutnya Ir. Murni Titi Resdiana, MBA selaku Asisten Utusan Khusus Presiden Bidang Pengendalian Perubahan Iklim. Ibu Murni sapaan sehari-harinya mengatakan, definisi hutan adalah suatu wilayah dengan pohon dewasa yang lebih tinggi dari 5 meter dan tutupan kanopinya (daun) lebih besar dari 30 % dengan luasan lebih dari 6,25 hektar.

Fungsi hutan itu tidak dirasakan manfaatnya oleh warga sekitar hutan, akan tetapi yang merasakan manfaatnya adalah kita yang tinggal di ibu kota.

Ibu Murni juga mengatakan ada 5 fungsi hutan yaitu, :

  1. Penyimpan air
  2. Menyuburkan tanah
  3. Mencegah erosi dan longsor
  4. Sumber keaneka ragaman ekosistem
  5. Mengurangi polusi udara.

Nah…bisa dibayangkan, jika hutan itu gundul dan tidak ada lagi penanaman pohon kembali. Ini yang membuat bunda merinding mendengar pemaparan ibu Murni.

Mie yang dibuat dari bahan wortel (foto: Bunda Sitti Rabiah)

Mie yang dibuat dari bahan wortel (foto: Bunda Sitti Rabiah)

Salah satu hal yang menarik dari salah satu pemaparan ibu Murni yaitu pohon dan ekonomi kreatif. Beliau mengatakan, banyak tanaman di dalam hutan yang bisa dijadikan pewarna alami, karena pohon itu adalah :

  • ~ Pohon Sumber Berat
  • ~ Pohon Sumber Pewarna Alam
  • ~ Pohon Bahan Kuliner
  • ~ Pohon Sumber Furniture
  • ~ Pohon Sumber Barang Dekorasi.

Ibu Murni di akhir materinya banyak memperlihatkan contoh-contoh hasil hutan sebagai sumber pewarna alam, juga bahan kerajinan dan makanan dari hasil hutan selain kayu. Wow…sangat keren, bunda terpesona melihat gambar-gambar pemaparan beliau, melalui infokus.

Pemateri berikutnya DR. Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia. Ibu Atiek menyampaikan materinya tentang pengelolaan hutan dan lanskap berkelanjutan dan solusi atas permasalahan oleh semua pihak.

Beliau mengatakan lanskap hutan terdiri dari flora dan fauna, yang hidup di dalam hutan, penduduk pinggiran hutan, dan hasil hutan. Hutan dan lanskap sekitarnya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Permasalahan hutan yang sering terjadi di antaranya :

  • ~ Laju Deforestasi yang tinggi, yaitu kehilangan hutan akibat dari beberapa aktivitas manusia.
  • ~ Degradasi Lahan, yaitu perusakan atau penurunan kualitas hutan.
  • ~ Konversi Hutan, yaitu hutan digunakan sebagai pertanian atau perkebunan.
  • ~ Emisi Gas Rumah Kaca.
  • ~ Kebakaran Hutan.

Semua kegiatan di atas adalah ulah manusia sendiri, maka kita semualah yang harus bertanggung jawab dalam mengembalikan fungsi hutan sebagai paru-paru dunia. Olehnya itu yuk…kita kembalikan hutan pada fungsinya, dengan cara konversi hutan menjadi pertanian atau perkebunan.

Hutan yang sudah gundul karena banyak pohon yang ditebang secara liar atau pembakaran hutan yang tidak bertanggung jawab. Perlu ada gerakan reboisasi dengan penanaman kembali berbagai jenis pohon-pohonan.

Olehnya itu, pohon-pohon yang sudah ditanam kembali itu jangka waktunya lama. Upaya yang dilakukan agar pohon-pohon tersebut cepat tinggi, dan dilakukan penanaman terus menerus, sudah dilakukan oleh Belantara.

Belantara merupakan salah satu instansi penyalur dana hibah (grand-making institusion) yang bekerja untuk melindungi bentang alam Indonesia., dengan mengembangkan program berkelanjutan di area konservasi, reforestasi dan pengembangan masyarakat berkelanjutan.

Dr. Sri Maryati, selaku Executive  Director dari Yayasan Belantara, akan mengajak kita menjadikan hutan tujuan wisata. Nah…ini keren. Ibu Sri Maryati yang biasa disapa dengan nama ibu Cici, punya program penyulap hutan belantara menjadi kawasan wisata. Weih…bisa aja ni ibu.

Kata beliau, hutan yang semula tidak punya nilai ekonomis, kini sudah ramai dikunjungi orang dan berdampak ekonomis bagi masyarakat setempat.

Ibu Cici mempunyai tujuan yang mulia, yaitu mewujudkan pengelolaan yang berkelanjutan pada 10 area hibah di 5 provinsi, untuk melindungi kawasan konservasi dan habitat satwa liar yang dilindungi.

Daerah yang diperlihatkan oleh beliau di layar infokus yaitu, Daerah Berbak Sungai Sembilan Sumatera Selatan, dengan project Low Carbon untuk mengurangi efek emisi rumah kaca dengan penghijauan berkalanjutan.

Dua jenis mie yang dibuat dari bahan wortel (kiri) masih dalam kemasan dan satu lagi dari daun kelor (kanan) yang sudah diolah (foto: Bunda Sitti Rabiah)

Dua jenis mie yang dibuat dari bahan wortel (kiri) masih dalam kemasan dan satu lagi dari daun kelor (kanan) yang sudah diolah (foto: Bunda Sitti Rabiah)

Nah…acara ini semakin seru karena dibarengi dengan icip-icip kuliner Ayam Bakar Madu Hutan bersama Chef Nurman. Juga ada Mini Exhibition dengan menampilkan produk hasil hutan non kayu, hasil dari Rakuji dipimpin ibu Mira, yang hari itu memakai baju dari hasil produk olahan yang diambil dari hutan. Semua ini masih rangkaian Program Responsibility (CSR) yang dibuat ecofriendly dan  yang sudah mendapatkan Award of Exellence dan WCCAPR. Wow keren…

Ayam Bakar Madu Hutan racikan Chef Norman (foto: Bunda Sitti Rabiah)

Ayam Bakar Madu Hutan racikan Chef Norman (foto: Bunda Sitti Rabiah)

Nah…yuk mari kita selamatkan hutan dengan berhenti bersikap masa bodoh terhadap lingkungan. Jangan menebang pohon sembarangan, karena hutan banyak menghasilkan ragam manfaat dan kebutuhan kita. Demikian reportase saya.

Salam

Bunda Sitti Rabiahlestari hutanyayasan doktor syahrir

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *