Pengelolaan Hutan Lestari untuk Keberlanjutan Kehidupan

Posted by

Pengelolaan hutan secara lestari di Indonesia dalam satu dekade terakhir telah menjadi keharusan. Selain karena faktor keberadaan hutan tropis untuk menjaga keseimbangan ekosistem global, kondisi tersebut juga dilatarbelakangi oleh beberapa realitas, seperti degradasi hutan baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Degradasi ini merupakan dampak dari praktek pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hutan yang kurang baik. Kerusakan hutan dalam skala besar mulai terjadi di Indonesia sejak awal tahun 1970-an, ketika perusahaan pengusahaan hutan mulai didirikan untuk pertama kalinya. 

Catatan Center for International Forestry Research (CIFOR) dalam dua dasawarsa, menunjukkan bahwa Indonesia telah kehilangan hutan seluas 1 –2 juta hektar/tahun. Mengenai laju kerusakan hutan, pada periode 2000 – 2005 FAO mencatat sebesar 1,87 juta ha per tahun. Banyak faktor yang mendorong kerusakan hutan, salah satunya adalah penebangan dan telah menyebabkan degradasi hutan. Kerusakan hutan tidak hanya terjadi pada areal pemanfaatan hutan bahkan ke kawasan konservasi sekalipun. Angka tersebut tentu saja memberikan gambaran sebuah kondisi yang sangat mengkhawatirkan tentang kondisi hutan kita. Situasi ini kemudian melahirkan perhatian dari berbagai kalangan. Keprihatinan dan respon dilontarkan tidak hanya oleh pemerinah tetapi juga masyarakat, akademisi, LSM, privat sektor, dan lainnya.

Kiranya wajar jika semua pihak bereaksi terhadap situasi ini mengingat besarnya dampak yang ditanggung akibat rusaknya hutan. Dampak yang muncul telah mengancam kehidupan manusia dan keanekaragaman hayati. Dari tahun ke tahun ancaman bencana alam seperti banjir dan tanah longsor terus saja meningkat. Sementara keanekaragaman hayati terus tergerus bahkan terancam punah. Hal ini dikarenakan menurunnya fungsi ekologi hutan sebagai habitat aneka satwa dan flora. Kerusakan ini melahirkan kerugian ekologi dan ekonomi bagi masyarakat yang selama ini memanfaatkan sumberdaya hutan sebagai sumber kehidupan dan penghidupannya.

Dampak kerusakan hutan ternyata juga telah mengancam keberlangsungan produksi kayu. Bagi kalangan industri kehutanan, kondisi ini menempatkan mereka pada posisi sulit. Menjaga kelestarian hutan untuk kelangsungan hidup, merupakan keharusan. Sementara itu, bagi kalangan pengusaha kehutanan, harus pula berupaya menggenjot produksi demi memenuhi kebutuhan kayu,  padahal potensi kayu semakin menipis. Data menunjukkan bahwa jatah produksi kayu alam HPH semakin menipis pada titik rendah sekitar 5-6 juta meter kubik per tahun. Menipisnya potensi kayu ini berimbas pada penyediaan bahan baku kayu bagi industri. Akibatnya, banyak industri kayu mengalami penurunan produksi bahkan berhenti beroperasi.

Kebutuhan manusia yang semakin meningkat, baik jumlah dan kualitasnya, menyebabkan kegiatan ekstraksi kayu menjadi besar-besaran dan melampaui kemampuan alam untuk dapat merehabilitasi diri sendiri. Perilaku ini masih berlangsung sampai sekarang, baik untuk mendapatkan kayunya, maupun ruang dan lahan untuk kepentingan lain. Untuk itulah diperlukan berbagai upaya nyata merevitalisasi hutan sehingga mendukung kehidupan sampai masa depan melalui pengelolaah hutan lestari.

Pengelolaan hutan lestari merupakan proses pengelolaan lahan hutan tetap (permanent forest land) untuk mencapai satu atau lebih tujuan mengenai produksi hasil dan jasa hutan tanpa mengurangi nilai-nilai inherent dan produktivitas masa depannya serta tidak menimbulkan dampak lingkungan baik lingkungan fisik maupun sosial. Pengelolaan hutan lestari dapat tercapai apabila persoalan ekologi, persoalan ekonomi dan persoalan sosial menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Apabila salah satunya ditinggalkan, maka tidak akan pernah terjadi yang namanya kelestarian pengelolaan hutan.

Persoalan ekologis lebih menitikberatkan bagaimana menjaga status dan fungsi ekosistem alam, sedangkan persoalan ekonomis adalah bagaimana memelihara dan meningkatkan standar kehidupan manusia. Adapun persoalan sosial adalah bagaimana memelihara proses sosial manusia yang menjamin keterpeliharaan peluang dan kesempatan yang adil dimasa datang, tidak terjadi eksploitasi, penindasan, kekerasan, serta pengalihan beban yang berlebihan.

Dengan pengelolaan secara lestari maka produksi kayu dapat berkelanjutan tanpa mengorbankan keseimbangan lingkungan. Keberlanjutan produksi kayu tentu saja menjadi darah bagi industri kehutanan. Kelangkaan kayu mungkin akan menjadi cerita lama karena dengan pendekatan ini produksi kayu diselaraskan dengan kebutuhan baik produksi maupun alam. Pada akhirnya, pengelolaan hutan secara lestari dapat memberikan manfaat bagi peningkatan ekonomi dan derajat kesejahteraan terutama masyarakat sekitar hutan. Dalam spektrum luas sekaligus meningkatkan perekonomian negara.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kehutanan sesuai dengan tugas dan fungsinya telah memiliki komitmen yang kuat dalam upaya pencapaian pengelolaan hutan alam secara lestari. Kementerian Kehutanan bercita-cita dalam waktu 20 tahun mendatang sumberdaya hutan sudah dikelola secara optimal, ekonomi masyarakat meningkat, dan hukum ditegakkan. Berbagai regulasi telah dikeluarkan dalam bentuk peraturan perundangan, yang diharapkan dapat menekan laju kerusakan hutan dan mengarahkan upaya pencapaian pengelolaan hutan lestari.

Sertifikasi pengelolaan hutan lestari, khususnya di kawasan hutan produksi,  merupakan salah satu alat yang telah disepakati para pihak baik lokal, nasional maupun internasional dalam mewujudkan kelestarian pengelolaan hutan. Seritifikasi hutan lestari memiliki dua peran, yaitu sebagai instrumen pasar yang harus dipenuhi, sekaligus sebagai pencapaian pengelolaan hutan lestari. Dengan demikian sertifikasi merupakan jaminan bahwa produk-produk kayu yang diproduksi industri kehutanan berasal dari wilayah-wilayah hutan yang dikelola secara lestari.

Pengelolaan hutan lestari ibarat sebuah perahu di tengah lautan. Perahu yang akan membawa penumpangnya ke daratan, ke kehidupan yang penuh pengharapan. Mewujudkan hutan lestari tidaklah semudah membalik telapak tangan di tengah berbagai tantangan baik dari dalam maupun luar. Keberhasilannya sangat tergantung pada kemauan dan kemampuan semua pihak untuk mewujudkannya. Bagi unit majamen kemampuan tenaga profesional pada tingkat unit manajemen dan aparat pemerintah dilapangan dalam memahami kriteria dan indikator menjadi kunci kesuksesan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari. Jika hutan telah dikelola secara lestari, kiranya ungkapan ‘hutan lestari, rakyat terjaga’ tidak akan menjadi slogan semata tetapi sebuah realita. Tinggal kita semua mau atau tidak mewujudkannya.

Sumber :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *