Menjaga Kelestarian Hutan Artinya Bantu Selamatkan Banyak Nyawa

Posted by

Oleh Herliya

Masih ingat di benak saya kejadian beberapa tahun lalu di akhir tahun 2015.  Saat keluarga kami menjadi salah satu korban dari dampak kebakaran hutan saat itu.  Anak pertama sayasempat koma hingga hampir dua bulan bolak-balik RS oleh dokter didiagnosis Encephalitis (radang otak), yang diakibatkan virus dari udara mengandung racun bakaran yang tidak bisa dilawan lagi oleh tubuh akhirnya menyerang otak. 

Bukan hanya kami, dilansir dari nasional tempo.co , 12 peneliti asal Universitas Harvard dan Columbia menyatakan ada 100.300 kasus kematian yang disebabkan oleh kebakaran hutan di Indonesia pada September-Oktober 2015. Dari jumlah itu diperkirakan 91.600 kematian ada di Indonesia, 2.200 kasus kematian di Singapura, dan 6.500 kasus kematian di Malaysia. Penelitian itu dipublikasikan Jurnal Environmental Research Letters dengan judul “Public health impacts of the severe haze in Equatorial Asiain September-October 2015 : demonstration of a new framework for informaingfire management strategies to reduce downwind smoke exposure”

PIN IT
hutan yang terbakar (sumber icampus.com)

Betapa besar nyawa yang hilang dikarenakan kondisi udara yang tidak bersahabat akibat kebakaran hutan.  Namun, apakah menjaga kelestarian hutan hanya sebatas tentang tidak membakarnya? Bagaimana dampak positif pengelolaan hutan menyelamatkan banyak nyawa hingga perekonomian kreatif masyarakat?
Bersyukur saya mendapat kesempatan untuk hadir dalam acara Forest Talk With Blogger Palembang dengan tema “Menuju Pengelolaan Hutan Lestari”  dari Yayasan Dr. Sjahrir pada Sabtu, 23 Maret 2019 lalu di Kuto Besak Theatre Palembang dengan moderatornya Pak Amril Taufik Gobel.

Pak Amril Taufik Gobel menjadi moderator Forest Talk with Blogger

Yayasan Doktor Sjahrir adalah sebuah organisasi nirlaba yang dibentuk untuk meneruskan misi sosial almarhum Dr. Sjahrir. Lembaga ini bergerak di lintas sektoral, termasuk di antaranya adalah bidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.
Sementara itu, The Climate Reality Project Indonesia merupakan bagian dari The Climate Project (TCP), organisasi nirlaba yang memiliki misi untuk meningkatkan kesadaran publik tentang krisis iklim dan upaya untuk mengatasinya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para blogger dan media hingga akhirnya kita semua dengan perannya masing-masing dapat aktif dalam mengkampanyekan pentingnya pengelolaan hutan lestari di Indonesia.  
Cuaca Ekstrem hingga Mitigasi dan Adaptasi

Pada tahun 2014, terjadi fenomena cuaca ekstrem dengan suhu di wilayah Australia mencapai +50 derajat celcius sementara wilayah Amerika justru mencapai suhu -40 derajat celcius.  Perbedaan suhu yang ekstrim diwilayah tersebut adalah bukti perubahan iklim yang terjadi di dunia.  Begitu paparan awal Ibu Dr. Amanda Katili Niode sebagai Manager The Climate Reality Project Indonesia sekaligus nara sumber pertama pada kegiatan Forest Talk with Blogger Palembang.

Dr. Amanda Katili Niode (dok: forest talk)

Ternyata pada tahun 2018, secara global 60 juta orang telah merasakan dampak dari cuaca ekstrem tersebut.  Di Indonesia (misalnya) tercatat 2481 bencana, 97% nya merupakan bendana hidrometeorologi yaitu bencana yang diakibatkan oleh parameter-parameter (curah hujan,kelembaban,temperatur,angin) meteorologi.  Sebut saja kekeringan, banjir, kebakaran hutan, longsor, angin fohn (angin bohorok, angin kumbang dsb). 
Dijelaskan,  dari kegiatan Manusia yang berlebihan seperti kegiatan pertambangan, pabrik pembakaran tanaman, proses industri, pemupukan , transportasi proses minyak hingga tempat pembuangan sampah, menyumbang terciptanya gas rumah kaca yang pada akhirnya terbentuk pemanasan global kemudian menyebabkan perubahan iklim dengan dampaknya bencana dan penghidupan.
Data yang didapat dari @2016 CAIT/World Resources Institute.co by 4.0,  emisi gas rumah kaca diIndonesia menunjukkan persentase terbesar yaitu dari penggunaan lahan/kehutanan sebanyak 61,6%.  Sementara sisanya berasal dari pemanfaatan energi (tambang batu bara), pertanian, industri, limbah, dan transportasi.

Darimana Emisi Gas Rumah Kaca Indonesia? (slide by Dr. Amanda Katili Niode)

Tentu saja kita perlu memikirkan hingga melakukan proses-proses mitigasi dan adaptasi untuk mengatasi (minimal mengurangi) perubahan iklim yang terjadi di dunia.  Mitigasi yaitu upaya memperlambat proses perubahan iklim global dengan mengurangi level gas-gas rumah kaca di atmosfer dan mengurangi emisi dari kegiatan manusia.  Sementara adaptasi yaitu mengembangkan berbagai cara untuk melindungi manusia dan ruang dengan mengurangi kerentanan terhadap dampak iklim dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim global. 
Salut dengan Pulau Sumba yang sejak tahun 2014 sudah mulai memasang energi tenaga angin dengan harapan di tahun 2025 akan menggunakan 100% energi terbarukan. Termasuk beberapa produsen teknologi penyelamat lingkungan yang mulai membuat dan nantinya dirilis mobil listrik tidak menggunakan bahan bakar fosil, sebut saja General Motors, Ford, Toyota , Mazda, Mercedes Benz dan beberapa nama lainnya.
Yah…, bisa saja banyak yang akan berpikir, itu mereka yang memiliki modal besar atau hal-hal yang mungkin saja bisa dilakukan jika sudah memiliki nama.  Bagaimana dengan kita? 
Dilansir dari greenily.co, Setiap tahun 1 milyard kantong plastik sekali pakai digunakan di seluruh dunia.  Bayangkan saja, betapa bertumpuknya, sementara kita tahu kantong plastik baru dapat dapat terurai paling tidak 10 hingga 12 tahun lamanya.  Saya (kita) minimal dapat mengurai pemakaian plastik sekali pakai dengan menggunakan tas belanja khusus hingga belajar mendaur ulang plastik menjadi sesuatu bernilai tinggi hingga dapat digunakan kembali. 
Dengan posisi saya saat itu hingga hari ini sebagai seorang Ibu yang memiliki anak-anak yang tentu saja bertugas mendidik anak-anak, yang terpikir saat itu hanyalah ingin membuat anak-anak lebih mencintai alam dan lingkungannya.  Bersama teman-teman di Playdate Palembang kami mencoba melakukan kegiatan bersama anak-anak seperti mengenal bank sampah dan pengolahannya juga mengenal ecoprint sederhana sebagai bentuk syukur karena alam selalu memberikan yang terbaik bagi manusia.
Selain itu, kita dapat bergerak bersama mengkampanyekan sadar lingkungan melalui media sosial yang kita miliki dari 500 platform sosial media yang tersedia demi menyelamatkan bumi kita dari krisis iklim global.
Kontribusi Semua Pihak dalam Pengelolaan Hutan
Penjabaran Definisi hutan sebagai suatu wilayah dengan luasan lebih dari 6,25 ha dengan pohon dewasa lebih tinggi dari 5 meter dan tutupan kanopi lebih besar dari 30% sebagai bagian kedua dari Forest Talk With Blogger dengan nara sumber Ibu Dr. Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia.

Dr. Atiek Widayati (dok: forest talk)

Dalam konteks lanskap dipaparkan bagaimana adanya keterkaitan antara bentang alam, hewan dan habitat yang terdapat di dalamnya, pengolahan hingga sebagai mata pencaharian yang saling berkesinambungan dan mempengaruhi.
Terdapat isu seputar hutan, penyebab dan dampaknya yaitu:Deforestasi merupakan perubahan permanen areal berhutan menjadi areal tidak berhutan atau tutupan lainnya sebagai akibat dari aktifitas manusia, seperti penebangan untuk diambil kayunya.
Degradasi adalah Perusakan atau penurunan kualitas hutan (tutupan, biomasa dan/atau aspek lainnya)
Konversi hutan dan perubahan tutupan lahan untuk dimanfaatkan dengan berbagai tujuan dan kepentingan, dengan skala besar seperti alih fungsi/status hutan yang diawali dengan pembalakan/penebangan hutan untuk pembangunan hutan tanaman, skala kecil yaitu penebangan masyarakat untuk pembuatan ladang berpindah, pertanian lahan kering sehingga menjadi kebun, serta gabungan keduanya (skala besar dan skala masyarakat) yaitu pembalakan/penebangan hutan menjadi ladang pertanian lahan kering seperti kebun kelapa sawit.
Untuk diketahui bahwa perubahan tutupan lahan secara langsung mempengaruhi  biomasa vegetasi. semakin berkurangnya biomasa, maka akan hilang atau menurunnya penyerapan CO2.  Jika jumlah CO2 di udara terlalu banyak, Tumbuhan makin sedikit, CO2 tersebut akan naik ke atmosfer dan menghalangi pemancaran panas dari bumi sehingga panas dipantulkan kembali ke bumi. Akibatnya, bumi menjadi sangat panas, dan inilah yang disebut efek rumah kaca (global warming).  Bukan hanya itu, perubahan tutupan lahan akan membawa dampak bencana kebakaran, kabut asap, banjir bandang, dan lain-lain.
Jadi teringat dengan ucapan almarhum mama saya ditahun 2006 yang dimasa hidupnya merupakan salah satu tim AMDAL di Badan Lingkungan Hidup, “2/3 wilayah di Bengkulu merupakan kawasan hutan lindung.  Jika kawasan dijarah, pembalakan liar hingga diubah fungsinya, tinggal rasakan akibatnya.”
Saat itu saya masih belum begitu ngeh, bahkan bisa dikatakan tidak terlalu peduli. Hanya menganggap ucapan beliau adalah loyalitas atas profesinya.  Namun semakin bertambah usia, justru menjadi salah satu korban akibat kebakaran hutan yang terjadi membuat saya semakin sadar bahwa memang benar bahwa semua pihak perlu berkolaborasi dalam menyelamatkan keberadaan dan mengembalikan fungsi hutan sebagaimana mestinya.

Salah satu contoh rehabilitasi lahan/restorasi hutan di kab Ketapang Kalimantan Barat (slide Dr. Atiek Widayati)

Bukan hanya Pemerintah, Civil Society organisations, dan sektor swasta.  Masyarakat dapat berkontribusi diantaranya dengan mendukung pelestarian hutan yang ada, tidak menebang pohon secara liar, mendukung hasil hutan bukan kayu seperti kerajinan rotan, eceng gondok, madu, termasuk mendukung produk ekonomi masyarakat tepi hutan, juga mendukung produksi/produk kayu berkelanjutan.  Tentu saja pada akhirnya masyarakat juga yang merasakan manfaat terjaganya hutan lestari
Ekonomi Kreatif dari Hutan

Peraturan Presiden No. 59 Tahun 2017 mengenai Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs) dengan 17 goal, 169 target dan 241 indicator diharapkan dapat tercapai pada tahun 2030.  Slide awal yang dibuka oleh nara sumber Ibu Dr. Murni Titi Resdiana, perwakilan dari Kantor Utusan Khusus Presiden bidang Pengendalian Perubahan Iklim.

Dr. Murni Titi Resdiana (dok:forest talk)

Sebanyak 193 negara di dunia, telah menyepakati rencana aksi global untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. Rencana aksi global ini dikenal dengan istilah Suistainable Development Goals (SDGs). SDGs merupakan pembaharuan rencana aksi global, setelah Millenium Development Goals (MDGs) berakhir pada tahun 2015.

Dalam kebijakan Perubahan Iklim Indonesia ada rencana aksi nasional dalam pengurangan emisi dari sektor kehutanan yaitu pencegahan pembalakan liar, kebijakan monotorium, penanaman di kawasan hutan, rehabilitasi hutan dan lahan, rehabilitasi mangrove, reklamasi lahan pasca tambang, penanaman dengan tanaman perkebunan dan perluasan perkebunan di tanah terlantar.  

Desa sendiri menjadi fokus pembangunan dengan beberapa program PRUKADES, BUM DESA, EMBUNG DESA, RAGA DESA yang artinya saling berhubungan timbal balik serta menguntungkan sehingga kondisi alam tetap terjaga, produktif dan berkesinambungan.
Sebagai informasi tambahan, pohon memiliki banyak hal yang dapat dimaksimalkan yaitu sebagai sumber:
– Pewarna alam,bahan kerajinan makanan dan minyak atsiri diantaranya rotan dan lontar (fashion dan kerajian tangan),daun jati, kulit secang, indigofera, akar mengkudu (pewarna, makanan dan minuman), kelapa (gula, buah, sabut, kayu), nipah (sira sumber gula dan bioethanol, buah hingga daunnya untuk kerajinan- Energi terbarukan diantaranya kaliandra merah sebagai bahan bakar- Serat alam diantaranya eucaliptus, daun nanas, bambu, pelepah pisang (untuk tekstil)- Minyak atsiri diantaranya akar wangi, daun-daunan (sereh, lemon, cengkeh, dan sebagainya), biji-bijian (pala, kapulaga, kosambi, dan sebagainya), buah(ketumbar, jintan, dan sebagainya), Bunga (cengkeh, kenanga, melati dan sebagainya), kulit kayu (kayu manis, akasia, lawang, dan sebagainya), ranting cemara, rimpang (jahem kunyit bagel dan sebagainya)

salah satu hasil ekonomi kreatif pemanfaatan hasil lokal oleh sebuah merek produsen javara 
(slide : Dr. Murni Titi Resdiana) 

Menghasilkan produk berbahan alam kualitas premium dengan nilai jual tinggi tentu saja dapat dinikmati sebagai sumber pendapatan untuk menyambung nyawa yang secara tidak langsung menggiatkan menanam pohon demi lestari hutanbersama.
Desa Makmur Peduli Api (DMPA)
Asia Pulp & Paper (APP) sinar mas yang juga menjadi salah satu narasumber diwakili oleh  Bapak Janudianto, Head of Social Impact & Community Development menjelaskan komitmennya dalam pelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial dalam program Desa Makmur Peduli Api (DMPA)

Janudianto (dok : forest talk)

DMPA merupakan program yang mengajak warga sekitar dalam mencegah kebakaran hutan.  Tebas, tebang dan tanpa bakar merupakan salah satu hal yang sedang digalakkan di APP Sinar Mas dalam mencegah kebakaran hutan.

DMPA dan 4 Pilar IFM APP (slide : Janudianto)

Pemberdayaan DMPA terdiri dari banyak sektor seperti perkebunan, perikanan hingga inisiatif pengembangan desa wisata yang merupakan pengembangan potensi alam menjadi peningkatan ekonomi masyarakat setempat di lebih dari 500 desa di lima provinsi di Indonesia.
Sesi Tambahan yang Tak Kalah Menggigit
Galeri Wong kito, dengan pemiliknya mbak Anggi merupakan spot yang paling diminati sejak awal saya tiba hingga berakhirnya acara.  Banyak alasan dan terutama adalah sisi keindahan mata termasuk keunikan dari setiap barang yang dipajang di sana.  Ecoprint yang diaplikasikan pada kain jumputan nampak semakin indah dengan ciri khas warna-warni natural hasil dari pewarna alami dedaunan dengan beberapa prosesnya. Ada juga hasil minyak atsiri bernilai jutaan dari proses ekstraksi kayu gaharu termasuk gelang dan tasbih dari kayu itu sendiri.

Mbak anggi dari galeri wong kito

Selain menjelaskan hasil produk yang dihasilkan, saya bersama peserta lainnya di ajarkan sekaligus mempraktekkan salah satu teknik ecoprint dengan metode pounding.  Riuh dengan suara pukulan semakin memberi semangat bagi kami mempelajari teknik pewarnaan alami dengan menggunakan bahan alam yang mudah didapatkan di sekitar.
Mencoba ecoprint dengan teknik pounding

Waah… Jika semua pengrajin di Palembang, Sumatera Selatan menggunakan pewarna alami sebagai warna dasar dari kain jumputannya, semakin menambah keunikan dan nilai jualnya ^^
Selain itu ada juga produk kerajinan dari limbah sisa kayu.  Limbah tersebut yang dibuang dan tidak bernilai didapatkan dari sisa kayu panglon kemudia diolah oleh Mellin Galeri menjadi barang bernilai jual yang diminati masyarakat.

Hasil Produk limbah kayu oleh Mellin Galeri (dokpri)

APP Sinar mas pun ikut menampilkan produk pemberdayaan DMPA yang beragam.  Ada beras organik, wedang jahe merah, kopi bubuk, termasuk kerupuk udang dan abon yang menggugah selera.

APP Sinar Mas dengan hasil pemberdayaan DMPA (dokpri)

Bukan hanya Demo ecoprint, demo masak Mushroom In Paradise dan Chicken Wings Korean Sous  oleh chef taufik diperagakan dengan waktu singkat.  Penggunaan jamur sebagai bahan pengganti daging, kaya protein menggugah selera dari aroma dan rasa.  

demo masak oleh chef Taufik beserta hasilnya (dok : forest talk)

Karena hasil dan jumlah peserta yang tidak sebanding, maka edisi icip-icip dibagi sedikit-sedikit yang penting kebersamaan dan saling tahu rasa, hehehe…
Bukan berarti kami jadi tidak makan siang karena sudah diberi kesempatan icip-icip duo menu tersebut.  Justru makan besar disaat perut keroncongan tidak kalah dinanti oleh semua peserta.  Seketika meja yang penuh dengan hidangan lezat menggugah penuh oleh kami semua untuk kembali mengisi energi ^^

Saatnya makan bersama saat perut keroncongan telah tiba

Setiap ada pembukaan tentu ada penutupan.  Foto bersama akan terus mengingatkan momen kebersamaan dalam kegiatan penuh manfaat bersama nara sumber spesial dam teman-teman blogger yang menyenangkan.

Penutup, foto bersama nara sumber dan teman-teman blogger di akhir acara


Kesimpulan
Sebagai salah satu korban dari kebakaran hutan di tahun 2015, kesadaran saya semakin bertambah dari event Forest Talk With Blogger Palembang, bahwa hutan lestari adalah salah satu pendukung paling penting untuk menjaga keseimbangan alam. Semakin maju peradaban bukan berarti bumi ini semakin baik, emisi karbon, pemanasan global dan pengalih fungsi hutan terus bertambah. Untuk itu seluruh lapisan masyarakat harus saling bersinergi untuk bersama-sama menjaga hutan.  Bukan hanya Pemerintah, Civil Society organisations, dan sektor swasta, namun masyarakat juga memiliki peran penting dalam keberhasilan pelestarian hutan.

Semakin memahami peran hutan bagi kehidupan masyarakat, semakin memahami hutan merupakan paru-paru dunia apalagi hutan Indonesia merupakan hutan yang menduduki urutan ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis dan  hutan hujannya.

Jika hutan lestari, maka krisis iklim dapat diatasi, bencana seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, kebakaran hutan bukan tidak mungkin semakin minim terjadi.  Hilangnya nyawa dari berbagai dampak bencana, seperti ISPA, penyakit akibat mengungsi dan kelaparan karena kurangnya bahan pangan karena kekeringan bisa jadi terus berkurang dan berharap tidak terjadi lagi.
Ekonomi kreatif  lokal semakin berkembang, tentu saja ikut  meningkatkan sumber pendapatan masyarakat setempat.  Pepohonan rimbun, masyarakatpun makmur.  Banyak nyawa yang semakin terselamatkan, semoga, InsyaaAllah…
Ayo bantu kurangi kerusakan hutan!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *