Menjaga Hutan Lestari, Demi Anak Cucu di Masa Depan Nanti

Posted by

Oleh Enny Luthfiani

“Uh, bau apa nih?” 
Anak saya Mukhlas (2,5 tahun) refleks menutup hidungnya saat kami keluar rumah menuju daycare tempat biasa dia dititipkan selama saya bekerja.
“Bau asap, Nak. Makanya tutup hidung dan mulut Mukhlas.
“Acap ya?” dengan nada cadelnya, Mukhlas menutup mulut dan hidung dengan kedua tangan mungilnya.
“Iya, kabut asap namanya.”
Ada perasaan sedih disaat anak saya mengalami kotornya udara dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Provinsi Jambi, masalah ini masih sering terjadi dari tahun ke tahun.

Saya ingat pada tahun 2015 lalu, Jambi juga dilanda kabut asap pekat akibat karhutla. Pada waktu itu saya masih belum  menikah. Jujur saat itu saya masih bersikap apatis dan hanya berharap segera turun hujan agar kabut asap cepat berlalu.

kabut asap jambi pada tahun 2015, sumber : Mongabay
masih kondisi kabut di Tebo, Jambi, 12 September 2019 (dokpri)

Ketika kini saya sudah punya anak, saya sudah nggak bisa apatis lagi. Saya kepikiran, apakah anak cucu saya kelak akan terus mengalami hal seperti ini? Atau bahkan udara yang nggak sehat ini akan menjadi konsumsinya sehari-hari di masa depan? Saya nggak mau hal itu terjadi.
Lantas saya berpikir apa yang bisa saya lakukan sebagai masyarakat biasa? Saya nggak punya kekuasaan, dan latar belakang pendidikan saya jauh dari ilmu tentang lingkungan. Sejauh ini yang bisa saya lakukan adalah menanamkan nilai kebersihan kepada anak saya, minimal dengan mencontohkan untuk membuang sampah pada tempatnya.
Sampai pada akhirnya saya melihat informasi di grup Komunitas Blogger Jambi tentang event “Forest Talk With Netizen Jambi” yang diadakan  di Swiss-belhotel  tanggal 31 Agustus 2019. Temanya menarik sekali yaitu “Menuju Pengelolaan Hutan Lestari”.

sumber : lestarihutan.id

Saya langsung semangat mendaftar. Sekalipun tanggal acaranya adalah hari kerja (ya, saya tetap bekerja pada hari Sabtu) dan jarak tempat tinggal saya dari kabupaten Tebo ke Kota Jambi itu memakan waktu kurang lebih 5 jam perjalanan. Saya tetap bertekad datang dengan mengambil cuti kerja.
Syukurlah ternyata pengorbanan waktu dan jarak tempuh yang saya rasakan nggak sia-sia. Ada banyak ilmu yang bisa saya bagikan dari acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Dr Syahrir dan The Climate Reality Project Indonesia.  

Perubahan Iklim Akibat Ulah Manusia

Ibu Amanda selaku pemateri menyampaikan bahwa iklim memang dapat berubah. Namun secara alamiah, iklim berubah perlahan. Sedangkan akibat ulah manusia, iklim bisa berubah drastis. Saat ini kenaikan suhu di bumi sekitar 2,5-4 derajat celcius pertahun.  Tentu hal itu bisa kita rasakan akibat dari pemanasan global.
Salah satu topik yang menarik bagi saya yang disampaikan ibu Amanda adalah “The Tragedy of the Commons”. Dimana manusia menganggap sumber daya alam buatan Tuhan adalah gratis, dan dapat digunakan sebanyak-banyaknya demi kepentingan manusia, tanpa memedulikan dampak lingkungan.

sumber : materi ibu Amanda FTWNJ

Tentu saja rasanya seperti dicubit dengan kedua ujung kuku, kecil namun sakit rasanya. Karena memang sejak kecil saya terbiasa memakai air sepuasnya, listrik sepuasnya, memanfaatkan banyak hal dari alam untuk kepentingan pribadi, tanpa pernah memikirkan dampak kedepannya apa yang akan terjadi jika manusia terus mengkonsumsi, tanpa berusaha melestarikan sumber daya alam tersebut.
Belum lagi perusahaan-perusahaan yang terus memproduksi sumber daya alam secara besar-besaran demi memenuhi kebutuhan manusia. Sebut saja industri pertanian, batu bara, minyak, semua itu tentu saja membutuhkan lahan yang luas untuk dibabat, tanah yang dikeruk, laut yang dieksplor, dan dalam prosesnya menghasilkan limbah yang berdampak buruk untuk lingkungan.
Satu lagi fakta yang cukup mencengangkan adalah 10% dari emisi gas rumah kaca berasal dari industri fashion. Karena produk fashion bukan lagi sekedar menjadi kebutuhan sandang, namun menjadi trend yang terus berkembang.

sumber : materi ibu Amanda FTWNJ

Teman-teman semua pasti juga nggak asing dengan hashtag #OOTD (Outif of The Day) yang tersebar di media sosial, kan? Memamerkan outif dari atas sampai bawah, mengikuti mode yang terus berganti, sehingga sering sekali pakaian tersebut kemudian berakhir pada tumpukan di dalam lemari.
Kemudian ibu Amanda melanjutkan dari penyebab perubahan iklim tersebut tentu ada solusi yang bisa kita lakukan. Mudah saja, mulai dari diri sendiri dan anggota keluarga. Diantaranya yaitu menghemat energi listrik, menghemat bahan bakar minyak, diet plastik, peralihan global ke pola makan yang mengurangi daging dan menambah buah-buahan dan sayur-sayuran, serta menggunakan produk-produk ramah lingkungan.

Memanfaatkan totebag dari goodiebag yang diberikan di acara FTWNJ untuk berbelanja

Lebih lanjut beliau berpesan kepada semua peserta yang terdiri dari blogger dan pegiat media sosial Jambi, untuk terus mengkampanyekan pentingnya menjaga lingkungan. Gunakanlah senjata andalan kita yaitu kepiawaian membuat konten, untuk mengajak lebih banyak orang peduli dalam pelestarian hutan yang berperan penting dalam kehidupan manusia.

Blogger harus berperan dalam mengkampanyekan isu hutan dan lingkungan

Upaya mengembalikan fungsi hutan melalui pengelolaan Lanskap Berkelanjutan

Materi berikutnya disampaikan oleh ibu Atiek dari Tropenbos Indonesia, yang mengingatkan kembali semua peserta tentang bencana kabut asap yang melanda Jambi pada tahun 2015. Kini, pada tahun 2019 bencana itu datang lagi. Penyebabnya masih sama, akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hutan pada hakikatnya bukan hanya milik manusia. Hutan adalah milik semua makhluk hidup, tidak terkecuali hewan dan tumbuhan. Namun seringkali manusia merasa paling berhak untuk memiliki, menguasai dan melakukan apa saja terhadap hutan untuk kepentingannya.
Beberapa kali media memberitakan bahwa Harimau Kerinci keluar dari hutan dan masuk ke perkampungan, bahkan pernah menyerang penduduk setempat. Tentu saja Harimau tidak asal menyerang jika di dalam hutan, ekosistemnya masih seimbang. Disaat hutan banyak dibuka untuk lahan penduduk, tentu Harimau tersebut merasa tempat tinggalnya terganggu. 

sumber: suaracom

Lebih lanjut ibu Atiek menjelaskan baik itu manusia yang memanfaatkan hutan untuk kebutuhan hidupnya, pelaku industri yang menebang pohon untuk memproduksi kayu, dan Harimau sekalipun, termasuk dalam konteks lanskap hutan yang merupakan satu kesatuan. 

sumber : materi ibu Atiek FTWN Jambi

Manusia dengan segala kebutuhan hidupnya tentu akan melakukan konversi hutan, yaitu mengubah fungsi hutan untuk berbagai tujuan seperti pertambangan, perkebunan, perumahan, sawah, dan sebagainya.  Tentu hal itu menyebabkan deforestasi, yaitu perubahan permanen dari areal berhutan menjadi areal tidak berhutan, atau tutupan lainnya sebagai akibat dari aktifitas manusia.
Sekali lagi, jika berbicara tentang masalah tentu harus ada solusi. Lantas bagaimana sebagai masyarakat kita dapat turut serta melestarikan hutan dan lanskap sekitarnya? Ibu Atiek menyampaikan beberapa poin yang dapat kita lakukan, sebagai berikut.

  • Tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di atas lahan gambut.
  • Mendukung praktek-praktek hasil hutan berkelanjutan (rotan menjadi anyaman, sarang lebah diambil madunya, biji-bijian untuk diolah menjadi minuman dan makanan)
  • Mendukung ekonomi masyarakat tepi hutan 
  • Memanfaatkan jasa ekosistem hutan (contoh : wisata alam, pemanfaatan air pengunungan menjadi air kemasan)
  • Terus mengkampanyekan pelestarian lingkungan melalui media sosial dan blog
Manfaatkan medsos untuk mengajak orang-orang peduli terhadap kelestarian hutan

Saya yang mendengar penjelasan tersebut merespon dengan anggukan, seraya di dalam hati bergumam “baru sadar jika hal-hal kecilpun bisa dapat berdampak terhadap dukungan melestarikan hutan dan lanskap sekitarnya”. Ternyata tidak ada yang salah dari memanfaatkan, asal tidak berlebihan.

Pohon dan Ekonomi Kreatif



Meskipun hutan harus kita jaga, namun bukan berarti kita tidak boleh mengambil manfaat dari hutan. Bagaimanapun Tuhan menciptakan alam tentu untuk kebutuhan makhluk hidup, terutama manusia. Namun dengan catatan asal tidak berlebihan dan memperhatikan dampak lingkungan. Begitulah kira-kira pembukaan materi Pohon dan Ekonomi Kreatif yang disampaikan kembali oleh ibu Amanda.
Pohon sangat erat kaitannya dengan ekonomi kreatif. Tidak dipungkiri bahwa pohon adalah sumber serat, sumber pewarna alam, bahan kuliner, sumber furnitur, bahan baku fashion dan aksesoris, dan sumber minyak atsiri. 

Begitulah kuasa Allah SWT menciptakan pohon untuk dimanfaatkan manusia. Kalau mau melihat di sekitar kita, di dalam rumah saja, tentu meja makan yang biasa kita gunakan bersama keluarga itu terbuat dari kayu. Kursi di teras depan, terbuat dari rotan. Baju batik yang dikenakan, diwarnai dengan pewarna berbahan dasar alam, sabun yang dipakai mandi mengandung minyak atsiri, dan masih banyak lagi contoh yang bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Memanfaatkan hutan tentu juga mendukung petani dan pengrajin lokal untuk berdaya dan meningkatkan taraf ekonomi mereka. Bahkan banyak social entrepreneur yang mampu membuat produk bermanfaat dengan bekerja sama dengan penduduk lokal. 
Sehingga kesimpulannya, produk ekonomi kreatif juga bergantung pada hutan dan isinya. Tinggal bagaimana kita bijak untuk mengambil, dan kemudian mengembalikan hasilnya kepada alam.  Yuk, mulai pakai dan berburu produk lokal yang ramah lingkungan. 

Mengenal Desa Makmur Peduli Api (DMAP)

Ibu Elly Telasari menyampaikan materi tentang DMAP

Namanya terdengar sangat unik, ya? Awalnya saya pikir nama tersebut berarti penduduk desa diedukasi untuk peduli terhadap kebakaran hutan dan lahan. Ternyata lebih dari itu, mereka dibina untuk memanfaatkan sumber daya alam setempat dengan maksud meningkatkan taraf ekonomi penduduk desa. 
Itulah yang dilakukan oleh APP Sinar Mas sejak tahun 2015, sebagai perwujudan kebijakan konservasi hutan dalam upaya mencegah kebakaran dan perambahan lahan, serta memberdayakan masyarakat sekitar hutan secara sosial ekonomi.
Di Provinsi Jambi sendiri, DMAP Terletak di Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Potensi wilayah tersebut berupa tanaman pangan, perkebunan, perikanan, dan ternak. Tidak heran kalau mata pencaharian kebanyakan disana adalah petani, nelayan, buruh, dan pedagang.

sumber : materi DMPA FTWN Jambi

Sesuai dengan potensi wilayah tersebut, maka kegiatan pembinaanpun berupa pengembangbiakan Sapi Bali, budidaya ikan Lele, pertanian holtikultur, dan produksi pupuk kompos. Tidak hanya produksi, namun masyarakat diajarkan untuk mengolah dan menjualnya melalui BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) Mart.

sumber : materi DMPA FTWN Jambi

Kegiatan pembinaan tersebut tentu menimbulkan dampak positif seperti penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat yang terlibat. Hal ini tentu patut diapresiasi, mengingat dalam prosesnya tentu ada kendala terutama dalam memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat desa setempat.
***
Empat materi diatas tidak terasa lama, karena saya seperti gelas kosong yang kemudian diisi air. Banyak informasi dan pengetahuan yang baru saya ketahui disini. Sungguh suatu keberuntungan bisa menjadi bagian dari event Forest Talk With Netizen Jambi.
Acara tidak selesai sampai disitu, namun dilanjutkan dengan penyampaian kisah dari masing-masing pegiat usaha Jambi yang turut andil dalam event kali ini dengan memamerkan produk-produk yang berbahan dasar dari hutan. 

Kain Vinto dan Tantangan Pengrajin Lokal

Bustam Efendi alias bang Vinto


Pertama ada bang Vinto, yang sebenarnya bernama asli Bustam Efendi. Sebenarnya bang Vinto sudah lama menjadi pelaku usaha yang memanfaatkan bahan baku dari alam untuk diolah menjadi produk fashion. Namun ketika bang Vinto berkunjung ke Jambi, khususnya kabupaten Bungo, beliau melihat adanya peluang untuk membuat produk kerajinan lokal khas Jambi. 
Tantangan dimulai dari susahnya mengajak penduduk lokal untuk diberdayakan. Apalagi mengingat usia mereka yang sudah tidak muda. Jadi butuh pendekatan berbulan-bulan, sampai akhirnya nyai-nyai (nenek-nenek) disana mau berlatih dan mengerjakan pesanan. Sekarang, hasilnya berbuah manis. Pengrajin kain Vinto bahkan diajak turut serta jika ada pameran di luar negeri. 


Selain itu bang Vinto menyampaikan, bahwa kain buatannya bernilai jual tinggi karena memang berbahan dasar alami. Bayangkan untuk membuat satu lembar kain selendang, pengrajin harus memintal serat-serat benang halus tanpa jahitan selama berminggu-minggu. 
Tentu saja saya dan semua peserta disitu kagum dan bangga dengan bang Vinto yang konsisten memproduksi produk dengan bahan utama dari alam, dan memberdayakan penduduk lokal. Sehingga setelah bang Vinto selesai berbicara, semua yang ada di ruangan  bertepuk tangan dengan riuh. 

Rengke-Rengke dan Suku Anak Dalam Jambi


Sebenarnya saya sudah lama mendengar tentang Rengke-Rengke. Karena bang Ali, salah satu ownernya satu almamater dengan saya. Memang setahu saya Rengke-Rengke merupakan bisnis dari program yang diadakan oleh Universitas Jambi. Dimana biasanya bisnis dari program kampus itu cuma akan bertahan sampai programnya selesai. 
Ternyata sampai sekarang masih bertahan dan eksis. Meskipun bang Ali menyampaikan dalam perjalanannya tentu ada suka dan duka. Terutama karena produk anyaman Rengke-Rengke ini dibuat oleh pengrajin dari Suku Anak Dalam (SAD), suku adat marginal di Jambi. Jadi butuh pembinaan yang ekstra kepada mereka. Selain itu mereka hanya mengenal sistem jual beli, jadi setiap produk yang dihasilkan mereka harus dibeli dengan sistem beli putus, tidak bisa dengan konsinyasi (bagi hasil). 

produk Rengke yang dibuat oleh Suku Anak Dalam Jambi
Membeli pin produk Rengke-Rengke untuk mempermanis ransel saya

Meskipun begitu bang Ali mengatakan akan terus berinovasi,  agar Rengke-Rengka bisa melebarkan lagi pasarnya sehingga bisa dikenal lebih banyak orang, tidak terbatas hanya masyarakat Jambi saja. 

Desa Makmur Peduli Api (DMPA) dan Komitmen Memajukan Perekonomian Masyarakat Desa


Menyambung dari materi yang sudah disampaikan sebelumnya, perwakilan dari DMPA kembali menyampaikan bahwa kegiatan yang selama ini dilakukan bukan hanya sekedar formalitas semata. Apalagi melihat masyarakat desa yang antusias dalam melakukan setiap program pembinaan.
Kesuksesan pembinaan juga dapat diukur dari naiknya pendapatan rata-rata masyarakat. Sehingga kelak, masyarakat dapat berdaya dengan mandiri dan DMPA dapat membina bibit-bibit baru lagi yang membutuhkan.

Jamur Crispy Ragel dan Keresahan Anak Daerah


Mita, salah satu founder dari cemilan Jamur Crispy sempat resah saat Petani Jamur di daerahnya mengeluh bahwa harga jamur turun terutama jika terjadi gagal panen. Padahal kebanyakan masyarakat disana menggantungkan penghidupannya dengan menjual jamur tanpa diolah kepada para tengkulak. 
Dari sana Mita bersama teman-temannya mencoba membuat olahan keripik Jamur Crispy yang garing, renyah, dan pedas. Keripik jamur tersebut diberi nama merk Ragel (Rasa Gemilang). Meskipun usaha ini terbilang baru, tapi sambutan masyarakat cukup bagus. 

Saya sendiri sudah mencicipi keripik Jamur Crispy Ragel, dan rasanya memang enak. Nggak kalah dengan keripik pedas yang biasa dipajang di supermarket. Berharap kelak usaha anak daerah ini dapat berkembang pesat. 
***
Fiuh, nggak terasa sudah dua ribu kata lebih yang saya tuliskan. Saya jarang-jarang menulis sepanjang ini, tapi kali ini memang saya excited menceritakan keseruan dan ilmu yang didapat dari acara Forest Talk With Netizen Jambi.
Oh ya, kalian juga bisa membaca keseruan dari event Forest Talk yang sudah diselenggarakan di beberapa kota lainnya di indonesia di website lestari hutan.
Keseruan berlanjut dengan acara demo masak masakan berbahan dasar dari alam yang langsung dipraktekan oleh chef dari Swiss-belhotel. Kapan lagi kan lihat chef hotel berbintang masak. Ada dua bahan baku utama yang disediakan untuk memasak yaitu daging sapi dan kerang bambu atau sebagai orang Jambi saya menyebutnya kerang sumbun.

Memang beda kalau chef yang masak, belum matang saja sudah kelihatan enak. Sayangnya saya nggak sempat mencicipi karena diajak makan oleh teman-teman blogger Jambi dan sudah masuk waktunya sholat Dzuhur juga. 
Setelah istirahat sholat dan makan, ada pembagian hadiah bagi yang bertanya di sesi tanya jawab, dan pemenang lomba live Twitter dan Instagram. Diantara semuanya, saya nggak dapat hadiah apa-apa dong, hahahahahiks
Tapi ilmu dan pengalaman yang saya dapat rasanya jauh lebih berharga. Ternyata tidak perlu menunggu menjadi penguasa atau menempuh study di bidang kehutanan untuk menjaga kelestarian alam. 

foto bersama pembicara, panitia, dan seluruh peserta acara FTWN Jambi (Sumber: Travelerien)

Walaupun saya, kamu, dan kita, adalah masyarakat biasa tapi kita bisa melakukan hal kecil yang berdampak besar untuk menjaga bumi dan isinya yang sudah Allah SWT ciptakan untuk kita. 
Hutan lestari, bukan hanya untuk kita sendiri. 

Namun untuk dia, mereka, anak cucu kita, di masa depan nanti.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *