Menggalang Pejuang Muda Tanaman Herbal

Posted by

Oleh DR Amanda Katili Niode

Analisis historis tentang relief candi membuktikan bahwa jamu, obat herbal tradisional, telah ada di Indonesia selama lebih dari seribu tahun..

Susan-Jane Beers dalam bukunya Jamu: The Ancient Indonesian Art of Herbal Healing menjelaskan bahwa jamu Indonesia adalah bagian dari sistem kesehatan dan kecantikan luar dalam yang meliputi bubuk, pil, herbal, kulit kayu, salep, lotion, kosmetik, dan pijat yang  dikombinasikan dengan cerita rakyat kuno.

Generasi muda kini kurang  tertarik untuk memproses jamu secara tradisional karena disamping rasanya yang pahit dan baunya yang khas, dibutuhkan waktu dan pengetahuan untuk menghasilkan ramuan yang sempurna.

Irma Haryadi seorang pekerja seni di Jakarta, sudah sejak lama berusaha mempopulerkan jamu di kalangan remaja melalui es krim jamu.  Salah satu minuman herbal yang populer menurut Irma adalah Jamu Beras Kencur, untuk mengobati kelelahan dan meningkatkan sirkulasi darah. Guna menjadikannya es krim jamu, ia menggunakan beras, kencur, gula merah, serai, jahe, cabai Jawa, adas, kapulaga, kayu manis, daun jeruk, kecipir, cengkih, tepung tapioka dan tepung kacang hijau, dengan shaker untuk es krim. 

Para siswa tersenyum setelah mencicipinya, aneh sebab es krim terasa dingin di mulut tetapi hangat di tenggorokan karena bumbu rempah. Banyak yang kemudian tertarik untuk mempelajari lebih lanjut berbagai bahan jamu yang dapat dibuat menjadi es krim.

Informasi mutakhir tentang tanaman herbal dapat diperoleh dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional milik Kementerian Kesehatan di Tawangmangu.

Programnya antara lain Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (RISTOJA)  untuk inventarisasi Tumbuhan Obat dan Ramuan Tradisional terkini. Riset telah dilaksanakan 3 kali pada tahun 2012, 2015 dan 2017 di seluruh Indonesia dan meliputi 405 etnis.  Bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Perguruan Tinggi dan Dinas Kesehatan Provinsi di masing-masing wilayah, seluruh RISTOJA memperoleh 32.013 ramuan dan 50.825 informasi tumbuhan obat dari 2354 penyehat tradisional. 

Generasi Milenial akan tertarik mempelajari dan melestarikan tanaman herbal jika diberikan kesempatan, seperti yang dilaksanakan oleh Biodiversity Warriors, gerakan anak-anak muda, binaan Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI).  Sebanyak 2000 Biodiversity Warriors dididik menjadi citizen scientists dan didorong untuk mempopulerkan keanekaragaman hayati ke seluruh Indonesia, baik dari sisi keunikan, manfaat, potensi, serta pelestariannya. 

Untuk meningkatkan kepedulian generasi muda akan tanaman obat Nusantara, tutur Ahmad Baihaqi dari KEHATI, biodiversity warriors mengajak siswa-siswi sekolah dan jurnalis berkunjung ke  Kampoeng Djamoe Organik milik Martha Tilaar Group di Cikarang, Jawa Barat. Bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mereka juga menjadi pendamping pramuka ketika berkunjung ke  Kebun Tanaman Obat Sari Alam, di Bandung, Jawa Barat. 

Ikhtiar lain dilakukan oleh Suwe Ora Jamu, sebuah kedai sederhana yang didirikan lima tahun lalu di Jakarta untuk melayani mereka yang ingin menikmati jamu, kopi, ataupun cemilan tradisional rumahan yang nikmat dan sehat.

Popie Sutomo dari Suwe Ora Jamu menjelaskan, sebagian besar pengunjung merupakan anak muda yang datang untuk minum jamu. Kedai ini berupaya membuat mereka senang dengan cara kemasan dan penyajian jamu yang menarik, rasa yang lebih mudah diterima dan tempat yang nyaman untuk minum jamu. Yang disediakan adalah jamu botol houseblend dengan rasa kunyit asem, beras kencur, rosella, wedang jahe, dan alang-alang.

Perhatian Generasi Milenial terhadap tanaman herbal akan meningkat jika berbagai usaha digalang dengan cara kekinian. (afd)

Sumber