Masih Cukupkah Ruang Bernapas untuk Anak dan Cucu Kita Kelak?

Posted by

Oleh : Yudi Pramono

Sebelum membaca artikel ini ada baiknya kita mengucapkan salam terlebih dahulu.
As’salamua’alaikum, wr,wb. Serta beryukur telah dikasih nikmat tuhan yang paling berharga yakni bernapas.
Baiklah mari kita mulai,

Hutan yang dibabat untuk lokasi perumahan ( Foto / Yudi )

Hah? Bicara Bencana Alam tiada Habis-habisnya, sebab Apa? Ya, sebab kita juga manusia yang serakah akan kekayaan Alam, tanpa memikirkan efek jangka panjang akibat perambahan hutan Besar – besaran dengan cara yang tidak bertanggungjawab mengkibatkan Kebakaran Hutan dan lahan (Karhutla), Banjir Bandang, serta masih banyak lainya yang berdampak langsung ke manusia itu sendiri.
Tidak hanya itu saja, bahkan saya berfikir bukan tidak mungkin nasib kehidupan Anak dan Cucu kita kedepan juga dipertaruhkan, mungkin akan lebih buruk dari pada yang sekarang dimana untuk bernapas saja sulit  sebab akibat perambahan Hutan yang mengkibatkan kabut asap, pembuang sampah non organik sembarangan yang sulit terurai hingga terbawa dan mencemari laut, pulosi yang ada di Kota dan lain sebagainya.

Pengalaman Kemarau Panjang dan Peristiwa Karhutla 2015 di Provinsi Jambi

Suasana anak Sekolah Dasar di Jambi saat kabut asap terjadi di tahun 2015
(Foto Antara/Wahdi Septiawan)

Sungguh miris sekali, sedikit bercerita kembali pengalaman yang berdampak langsung ke pada saya dimana pada tahun 2015 di Provinsi Jambi setelah kemarau panjang yang Berbulan-bulan adalah titik terburuk saya bernafas sebab di tahun itulah kabut asap tebal pekat menyelimuti hampir seluruh Kota/Kabupaten se -Provinsi Jambi yang diakibatkan pembakaran hutan dan lahan (Karhutla), bahkan jika berkendara dengan Mobil/Motor  jarak pandang hanya  beberapa meter, sungguh sangat menganggu dan membahayakan.

Sepanjang jalan para penjajah masker bertebaran di Sudut-sudut Kota Jambi, tentunya saya jika mau aman keluar ke Tempat – tempat di Jambi harus menggunakan masker, yang biasanya keluar dengan indeks udara yang bersih, khusus untuk di tahun 2015 tersebut wajib hukumnya menggunakan masker, bisa dibayangkan tentunya jika keluar tanpa menggunakan Masker Bisa – bisa kita masuk antrian rumah sakit yang sebelumnya sudah banyak Pasien – pasien panyakit Ispa terlebih lagi anak kecil dan lansia banyak yang terkena dampaknya.
Berbagai upaya dari Pemerintah saat itu  terlihat sudah maksimal dengan sering kalinya satgas Karhutlah, terdiri dari BPBN, BPBD, TNI/Polri sudah sering terjun ke lokasi kebaran untuk meredam rembetan api dan menindak pelaku pembakaran Hutan dan Lahan. Baik Helikopter Water Bombing yang mengangkat kurang lebih 600 – 4.000 liter sering saya lihat Berlalu – lalang menghiasi langit Jambi, yang waktu itu biru seketika berubah menjadi kabut asap yang tebal sungguh pemandangan tidak biasa.
Tidak hanya itu saja, dikutip berdasarkan sumber data dari Tribunnews.com ada 8 akbibat kabut asap di tahun 2015 di Provinsi Jambi yakni :
1. Puluhan jenis anggrek musnah di pematang damarHutan pematang damar terbakar, sekitar 50 hingga 70 hektare tersisa dari luas semula 240 hektare. Dari 80 jenis anggrek yang ada banyak yang musnah dan tak ditemukan lagi.
2. Kebakaran di lahan gambutSelama kebakaran lahan dan hutan terjadi pada musim kemarau tahun 2015. Data dari BPBD Provinsi Jambi, Sekitar 19.528 Ha lahan terbakar di Jambi selama tahun 2015. 13.459 di antaranya lahan gambut yang tersebar di kabupaten Muaro Jambi, Tanjab Timur dan Tanjab Barat. 6.069 ha terjadi di tanah mineral.
3. ISPU dilefer sangat berbahaya25 Oktober 2015, pantauan BLHD Provinsi Jambi melalui AQMS, pukul 08.30 WIB, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di kota jambi berada diangka 730 atau kategori sangat berbahaya. Ini pertama kali terjadi sejak kebakaran hutan di tahun 1997.
4. Lebih satu bulan sekolah diliburkanSalah satu dampak lain yang dirasakan selama kebakaran lahan dan hutan terjadi di Jambi, lebih dari satu bulan aktifitas belajar mengajar di Jambi di hentikan akibat paparan kabu asap. Bahkan pemerintah pusat sempat membuat ruang belajar bebas asap untuk kalangan siswa SD. Tak hanya itu, sejumlah posko bebas asap juga didirikan pemerintah untuk menekan korban ispa.5. Warga Memasak Pakai Air LautDampak dari pengaruh El Nino pada musim kemarau tahun 2015 tak hanya kebakaran lahan dan hutan saja. Namun juga menyebabkan kekeringan terjadi Lebih dari satu bulan hujan tak turun selama musim kemarau tahun 2015 saat kabut asap berlangsung. Akibatnya sejumlah warga di Nipah Panjang, kabupaten Muaro Jambi terpaksa memasak dengan air laut akibat persediaan air hujan yang menipis selama musim kemarau.6. Jarak Pandang Terendah18 oktober 2015, BMKG merilis jarak pandang terendah selama kabut asap mencapai 200 meter pada pukul 15.30 WIB. Dengan kata lain sejauh mata memandang akan terhalang oleh kabut asap. Kondisi ini menyebabkan lumpuhnya aktifitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi.  Lebih dari satu bulan aktifitas di bandara  Jambi lumpuh akibat paparan kabut Asap.7. Penderita ispa mencapai 80 ribu jiwaSalah satu dampak yang cukup banyak dirasakan warga selama karlahut tahun 2015 adalah Infeksi Saluran Pernafasan. 12 oktober 2015 dinas kesehatan menyebutkan sebanyak 80 ribu jiwa di provinsi jambi terserang ispa akibat paparan kabut asap terhitung minggu awal agustus hingga minggu pertama oktober.8. Tanaman tak berbuahDampak Karlahut yang dirasakan oleh masyarakat di mana buah durian di Kumpeh Ulu dan Kumpeh Ilir tak berbuah akibat paparan kabut asap selama musim kemarau 2015 berlangsung.Tak hanya itu, kemarau panjang dan kebakaran lahan dan hutan juga mengakibatkan produktifitas tanaman buah duku warga menurun drastis. Dari normalnya dalam 120 batang warga bisa panen hingga 20 ton. Namun, faktanya di bulan Februari hanya bisa menghasilkan sekitar 4 ton.

Setelah  kejadian tersebut lantas apakah kita sadar?

Jujur saya sendiri tambah menyadari menjaga lingkungan itu penting bahkan Sangat – penting, akan tapi masih merasa heran melihat para pelaku pembakaran hutan dan lahan merasa itu tidak penting dan hanya mengataskan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan banyak orang.

Sungguh mereka tidak punya aturan, apakah tidak pernah terfikir akibat dari perbuatannya akan berdampak langsung ke Anak dan Cucu mereka kelak? Ironis, hukum sudah ditetapkan di republik ini akan tetapi seakan mereka tidak peduli dan tidak mempunyai rasa takut? apakah tunggu Alam yang menghukum baru mereka takut? Saya rasa iya.

Dulu hutan asli, sekarang  berubah menjadi Hutan Perumahan

Foto ilustrasi perumahan padat penduduk

Panas, air keruh jika hujan lebat, terkadang banjir, ya itulah yang saya rasakan di sekitaran pemukiman kami yang dulunya asri penuh pepohonan sekarang berubah menjadi padat perumahan. Ya, tidak bisa dipungkiri pertumbuhan laju penduduk dan pembangunan  di Kota Jambi yang kian pesat mengakibatkan hutan di Kota Jambi lama kelamaan habis, para pendatang keluarga muda  yang baru menikah  tentunya tergiur dengan harga rumah strategis yang di tawarkan banyak depeloper perumahan yang  masih di dalam Kota Jambi. 
Saya hanya berpikir jika hutan yang tidak seberapa terus dibuat perumahan lama kelamaan dampak buruk akan meluas, semudah ituhkah perizinan perumahan di kota ini untuk mendirikan suatu bangunan? apakah Saya aman lama tingggal disini? gimamana nasib keluarga saya kelak? Jika mempuanyai Anak dan Cucu, apakah kesehatanya terjamin dengan udara yang buruk? Mungkin waktu yang bisa menjawab setidak kita berusaha tetap menanam pohon di sekitar rumah agar udara tidak terasa panas dan sesak.

Mencoba ikuti acara Forest Talk with Netizens, dengan tema “Menuju Pengelolaan Hutan Lestari,”
Hah, ntah takdir apa yang membuat saya ada di acara tersebut, terlebih saya memposisikan sebagai Media yang kebetulan di undang meliput, alasan saya ada disini mungkin biar saya lebih sadar lagi akan pentingnya menjaga Lingkungan sekitar dan membantu menyebar luaskan informasi kepada manusia di luar sana yang belum sadar akan dampak buruk lingkungan 

Foto bersama  dalam acara Forest Talk Talk wits Netizents Jambi
(Foto : Istimewa)

Berikutnya, dalam acara tersebut juga saya membuat judul berita tentang tema “Tarik Kepedulian Lingkungan, TRCP Adakan Forest Talk Talk wits Netizents,”. Yang kebetulan di tulis oleh saya sendiri.
Ruangjambi.com, Jambi – Untuk menarik minat  kalangan  Netizents khususnya di Jambi untuk peduli lingkungan. The Climate Reality Project (TRCP),Yayasan Doktor Sjahrir (YDS) adakan Forest Talk with Netizens, dengan tema “Menuju Pengelolaan Hutan Lestari,”. Bertempat di salah satu Hotel di Kota Jambi, Sabtu (31/8/2019).

Dengan narasumbernya Dr. Amanda Kartili Niode, dari Manager Climate Reality Indonesia dengan prihal pembahasan “Perubahan Iklim,”. Dr. Atiek Widayati, selaku Tropenbos Indonesia prihal pembahasan “Pengelolaan Hutan Lestari,”. Serta Elly Telasari selaku dari APP Sinarmas dengan pembahasan, “Desa Makmur Peduli Api,”.
Dalam pemaparannya Dr. Amanda Kartili Niode menyampaikan salah satu upaya proses perbaikan iklim yakni memproses perlambatan perubahan iklim Global, mengurangi Gas – gas rumah kaca atmosfer, serta mengurangi emisi dari kegiatan manusia.
Dilanjutkan, dengan narasumber Murni Titi Resdiana, MBA, dari Kantor Utusan Khusus Presiden bidang Pengendalian Perubahan Iklim menyampaikan tentang Pohon dan Ekonomi Kreatif, dan terakhir mengenai Desa Makmur Peduli Api, disampaikan oleh Elly Telasari Asia Pulp and Paper.
Sementara itu, Elly Telasari salah satu narasumber  dari APP Sinarmas menyampaikan salah satu wujud kepedulian ke efek lingkungan APP Sinarmas  dengan adanya Desa makmur peduli yang merupakan binaan  yang pertama sejalan dengan kebijakan APP Sinarmas.
Elly Telasari berharap dengan adanya istilah Desa Makmur peduli  dengan program ini bisa mengajak masyarakat untuk mengelola lahan secara bertanggung jawab dan dengan tidak membakar hutan pada saat pembukaan lahan.
Dalam acara ini sendiri, dihadiri 50 Netizens dan Media yang ada di Kota Jambi, dengan berbagai agenda tanya jawab seputaran efek lingkungan pameran stand Oleh – oleh khas Jambi, serta  pemenang tanya jawab terbaik ,live  Twitter, live story Ig dan hadiah menulis blog terbaik nantinya.

Kesimpulanya

Dari acara tersebut saya merasa lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dan terimakasih kepada pihak terkait yang telah mengadakan acara ini, Sampai berjumpa kembali dilain kesempatan.

Pesan moral

” Alam jaga kita, Kita jaga Alam, coba sesekali dibayangkan saja Alam itu seperti orang yang kita sayang, tentu kita pasti akan menjaganya nah romantis kan,”.
Wassalam.
Sumber informasi :
Pengalaman sendiriTribunnews.comRuangjambi.com
www.lestarihutan.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *