Manfaatkan Hutan Sewajarnya Agar Nanti Tak Hanya menjadi Dongeng Belaka untuk Anak Cucu

Posted by

Oleh M. Nurul Iman

Halo sohib bangiman.com, bagaimana cuaca di tempat sohib berada, makin panas ? perlu sohib ketahui ketika tulisan ini dibuat 13 September 2019  cuaca di Jambi sangat panas di tambah lagi kualitas udara di Jambi dinyatakan tidak sehat. Kabut asap yang beberapa waktu lalu sempat menghilang, sekarang muncul kembali. 

Kabut asap ini bukan pertama kali penduduk Jambi rasakan, pernah di tahun 2015 kabut asap juga menyelimuti Jambi lebih pekat, hingga sekolah – sekolah diliburkan sementara dan mengganggu jadwal penerbangan di bandara udara Sultan Thaha. Semoga tahun ini tidak sampai separah tahun sebelumnya.

Source : lestarihutan.id

Sudah ah keluh kesahnya, sekarang saya akan mulai cerita ini di tanggal 31 Agustus 2019, tepat 2 minggu yang lalu. Bermula dari informasi yang disebarkan salah satu member di grup komunitas blogger Jambi bahwa akan ada yang membahas tentang hutan oleh Yayasan Doktor Sjahrir,  Climate Reality Indonesia yang juga akan dihadiri beberapa tokoh pemerhati hutan dan lingkungan, dengan tajuk utama “Forest Talk With Netizen Jambi” yang bertempat di Swissbell hotel Jambi yang kebutal juga lokasinya dekat dengan tempat tinggal saja hanya berjarak beberapa ratus meter.

Acara dimulai tepat pukul 09.00 wib, dibuka oleh moderator bapak Amril Taufik Gobel, seperti kebanyakan acara seminar dan diskusi public lainnya, pak Amril menjelaskan misi dari acara diskusi pagi itu. serta tidak lupa memperkenalkan kepada peserta pembicara yang akan tampil pada saat itu. Sebelum di Jambi acara serupa juga sudah digelar di beberapa kota di Indonesia. Untuk Sohib yang ingin tahu kemeriahan acara di kota selain Jambi bisa cek di situs resminya lestarihutan.id

Forest talk with netizen jambi

source : www.travelerien.com

Mungkin sohib sudah pernah dengar cerita nenek atau kakek kita yang selalu mengatakan kalau sudah masuk bulan yang berakhiran ber (September, Oktober, November, Desember) itu tandanya akan masuk musim penghujan. Tapi kenyataan berkata lain, sudah masuk bulan berakhiran ber pun hujan belum kunjung turun. Kondisi seperti ini akibat dari perubahan iklim yang juga turut dipaparkan oleh ibu Dr. Amanda Katili Niode. ibu Amanda Katili menjelaskan cuaca extrim yang terjadi saat ini sebagian besar di bencana di  Indonesia disebabkan oleh hidrometeorologi yaitu Banjir,tanah longsor yang disebabkan oleh cuaca. Yang membuat saya kaget ketika mendengar pemaparan tersebut adalah bencana yang terjadi di Indonesia akibat cuaca mencapai 2.372 lebih di tahun 2018 lalu.

Bencana ini juga disumbang oleh kegiatan – kegiatan manusia di bumi yang meng-explor sis bumi dengan cara yang tak wajar aias berlebihan. seperti kegiatan pertambangan, asap dari pabrik – pabrik transportasi, pemupukan dan pembakaran hutan seperti yang sedang terjadi di Jambi saat ini.

Kegiatan – kegiatan inilah yang semakin memicunya perubahan iklim dan suhu di bumi. Ibu Amanda juga menjelaskan perbedaaan suhu yang sangat  timpang saat ini, sebagai contoh suhu di Amerika bisa sampai -40 derajat celcius dan di belahan dunia lainnya seperti di Australia suhu disana bisa mencapai 50 derajat celcius. Perbedaan suhu yang sangat amat timbang ini juga disebabkan oleh ketersedian hutan alami yang kian tahun jumlahnya semakin berkurang.

Singkat cerita ibu Amanda memberikan sebuah solusi untuk para peserta yang hadir dengan harapan,bisa menyebar luaskan kembali ke lingkungan terdekat.

Solusi untuk mengurangi dampak perubahan iklim ini adalah Mitigasi dan Adaptasi.dimana 

Mitigasi: Upaya memperlambat proses perubahan iklim global dengan mengurangi level gas-gas rumah kaca di atmosfer dan mengurangi emisi dari kegiatan manusia

Adaptasi: Mengembangkan berbagai cara untuk melindungi manusia dan ruang dengan mengurangi kerentanan terhadap dampak iklim dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim global.

Masuk ke pembicara kedua, bahasannya pun semakin seru untuk disimak. Kali ini dibawakan oleh ibu Dr. Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia yang memaparkan tentang Pengelolaan Hutan dengan Lanskap Berkelanjutan.  Sebagai pembuka ibu Atiek juga turut mengingatkan peserta tentang bencana asap di tahun 2015 dan terjadi kembali di tahun 2019. penyebabnya semuanya sama yaitu akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Konsep Pengelolaan Hutan dengan Lanskap Berkelanjutan ini sangat mungkin untuk diterapkan oleh pihak yang memanfaatkan kekayaan hutan, bahkan untuk kehidupan kita  sehari – hari, dengan langkah kecil yang dilakukan pada lingkungan sekitar pun dapat mengurangi dampak dari deforestasi, degradasi hutan, dan konversi hutan. 

Solusi termudah yang coba ibu Atiek berikan kepada peserta adalah turun mendukung konsep Go green bahkan tidak hanya mendukung kita juga harus ikut terlibat dalam program tersebut demi keberlangsungan hutan dan isinya dengan cara menggunakan bahan- bahan alami dan menggunakan produk – produk yang bisa digunakan berulang kali. dengan demikian maka kita sudah turut menjaga hutan.

Topik ketiga mengenai pemanfaatan ekonomi kreatif yang ramah lingkungan, dimana seharusnya dibawakan oleh Ibu Murni Titi Resdiana (Asisten Utusan Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim) namun karena berhalangan hadir maka sesi ini kembali dibawakan oleh pembicara pertama yaitu ibu Dr. Amanda Katili Niode. 

Pada sesi ini dijabarkan bagaimana sebaiknya memanfaatkan hasil hutan untuk menumbuhkan ekonomi kreatif bagi masyarakat. Karena memang beberapa hasil hutan itu sangat boleh untuk dipergunakan dan dimanfaatkan.

Salah satunya adalah pemanfaatan rotan untuk bahan pembuatan furniture dan beberapa hasil hutan lainnya juga bisa dimanfaatkan untuk industri fashion. tak lupa juga sedikit dijelaskan tentang  Indigofera, eit… jangan Sohib pikir itu kemampuan untuk melihat makhluk gaib ya, tetapi mengubah tumbuhan berserat menjadi pewarna kain alami bahkan bisa juga dimanfaatkan untuk pakan ternak.

Dan masih banyak lagi beberapa jenis hasil hutan yang bisa dimanfaatkan tanpa harus kita merusak hutan itu sendiri.

Pada kesempatan itu juga turut hadir dari salah satu pelaku industri yang amat sangat memanfaatkan kayu untuk diubah ke dalam lembaran kertas, siapa lagi kalau bukan Sinar Mas, salah satu produsen kertas ternama ini ternyata lebih bijak dalam memanfaatkan hasil hutan untuk produksi kertasnya. pemaparan ini disampaikan oleh ibu Elly Telasari. ibu Elly menyebutkan program yang dilakukan oleh Sinar Mas yaitu Desa Makmur Peduli Api (DMPA) program ini intinya mengajak penduduk sekitar dan penduduk Adat dimana perusahaan Sinar Mas ini berdiri, untuk secara positif dan aktif memanfaat hutan dengan baik dan benar serta membina masyarakat sekitar agar taraf perekonomiannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

DMPA sendiri untuk Jambi sudah ada sejak tahun 2015 yang terletak di  Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Kegiatannya meliputi pengembangbiakan hewan ternak, pertanian serta hasil turunan lainnya seperti pupuk.

Awalnya saya berpikir acara ini hanya sekedar diskusi saja tanpa memberikan bukti kongkrit, tapi ternyata pikiran saya salah. pada acara Forest Talk With Netizen Jambi turut dihadirkan juga pelaku – pelaku UMKM yang mana produk – produk yang dihasilkan tersebut sangat ramah terhadap hutan, walaupun semua bahan bakunya diambil dari hutan.

Sebut saja bang Ali rangke dari  brand Rengkerengke yang kebetulan juga saya mengenalnya jauh sebelum acara ini berlangsung. dimana bang Ali ini membina suku Anak dalam Jambi untuk membuat kerajinan dari bahan rotan, tumbuhan resam dan pandan hutan. dari bahan – bahan tersebut dihasilkan aneka anyaman yang bernilai jual seperti aksesoris, topi anyaman  dan lain sebagainya. Untuk para Sohib yang ingin melihat aneka anyaman dari resam ini bisa intip IG nya di @rengkerengke.

www.travelerien.com

Selain Rengkerengke juga hadir pengrajin batik yang sudah Go Internasional siapa lagi kalau bukan Kain Vinto,dan  mungkin saat tulisan ini terbit bang Bustam Effendi dan timnya sedang berada di Jepang untuk mengikuti sebuah event di sana. Keunikan dari kain Vinto ini yang tidak dimikili oleh pengrajin lain mungkin penggunakan bahan pewarna alami yang dibuat dari ekstrak tumbuhan yang ada di sekitar. sehingga menghasilkan warna kain yang alami juga.

Jika kedua produk diatas beupa aksesoris dan bahan pakaian, pada acara ini juga hadiri Jamur Crispy Ragel yang mana Ragel itu sendiri singkatan dari Rasa Gemilang. Cemilan Jamur ini diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan tingkat kerenyahan tersendiri. Saya juga sudah mencobanya dan rasanya memang gurih alami. buat Sohib yang juga ingin mencobanya bisa pesan di IG @ragel.id 

Itulah sekelumit cerita dari acara Forest Talk With Netizen Jambi, semoga bisa sohib ambil pelajaran dari apa yang sudah coba saya sebutkan. dan tak lupa saya ucapkan terima kasih untuk semua tim dari yayasan Yayasan Doktor Sjahrir yang sudah mau berkunjung ke kota Jambi. semoga di lain waktu kita bisa bertemu. 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *