Lestarikan Hutan Selamatkan Kehidupan di Bumi

Posted by

Oleh M Harpani, SPD

PERNAH nggak kamu ngerasain. Pagi hari cerah, terus siangnya terik sekali. Tetiba sore langit mendadak berubah menjadi begitu gelap. Lalu selepas Maghrib hujan turun dengan begitu derasnya disertai angin yang bertiup kencang. 
Seperti kata pepatah, panas setahun dihapus hujan sehari. Yang ini, panas sepanjang hari dihapus hujan tak sampai satu jam.
Kalo saya jelas sering banget. Bukan sekali-dua kali, tapi sudah nggak terhitung lagi. Rasanya bukan sesekali kita mengalami hal di atas.

Dan tahukah kamu, apakah kira-kira penyebabnya? Mungkin ada yang jawab, karena cuaca ekstrim. Atau, pemanasan global.
Benar sekali. Tapi apa sesederhana itu saja? 
Ternyata jawabannya saya temukan saat mengikuti kegiatan Forest Talk Blogger yang diselenggarakan oleh Yayasan Dr Sjahrir bekerjasama dengan The Climate Reality Project Indonesia, pada Sabtu (23/3/2019) bertempat di Kuto Besak Theater, Palembang.
Nggak cuma ngebahas, apa penyebab terjadinya perubahan iklim saja. Tetapi juga sangat komprehensif. Boleh dibilang, acaranya lengkap banget. Mulai dari talkshow penuh gizi yang disampaikan oleh para pembicara top – sebut saja ada ibu Amanda Katili Niode manager Climate Reality Project Indonesia, lalu ada juga Dr. Atiek Widayati (Tropenbos Indonesia), Ir. Murni Titi Resdiana, MBA (Kantor Utusan Khusus Presiden bidang Pengendalian Perubahan Iklim) dan Janudianto (Social Comdev CSS PT Sinar Mas).
Hingga gelaran mini pameran yang menampilkan produk-produk hutan non-kayu lokal hingga demo masak dan icip-icip resep cita rasa lokal yang membuat air liur sontak ingin memberontak. Nyummy.. ;p
Yang menariknya, kegiatan talkshow forest talk ini tidak hanya melulu mengupas aneka tragedi terkait dengan bencana lingkungan semata. Namun juga membahas tentang solusi, langkah-langkah yang telah dilakukan serta penerapan solusi tersebut. Termasuk pula, memasukkan isu enterpreneur kreatif sehingga berdampak kepada isu ekonomi. 
Yuk ah, daripada berpanjang lebar di pembukaan saja, simak laporan selengkapnya berikut ini :

Amanda Katili Niode : “Selamatkan Bumi dengan Mitigasi dan Adaptasi”

Membuka pemaparannya Ibu Amanda Katili Niode dari Climate Reality Project Indonesia, menampilkan slide yang cukup membuat shock. Dalam slide itu digambarkan dalam waktu berdekatan, telah terjadi gelombang cuaca panas di Australia yang mencapai +50oC dan telah menyebabkan kebakaran hutan yang sangat luas.
Sementara di belahan bumi lain, sepertiga wilayah Amerika Serikat, diterjang cuaca ekstrim hingga minus -40oC. Saking dinginnya, seperti cuplikan video yang beredar di media sosial, air yang baru keluar dari selang air, langsung membeku saat bersentuhan dengan udara dingin dan jatuh ke tanah sebagai es serutes kristal.
Belum lagi, jika digabung dengan berita lain tentang banjir bandang yang melanda wilayah Arab Saudi dan Iran. Tentu akan menambah panjang daftar tanda-tanda bahwa Bumi sedang mengalami krisis iklim dalam kadar yang sudah sangat serius.

“Kegiatan manusia yang berlebihan, memicu lahirnya apa yang disebut sebagai gas rumah kaca,” sampai Ibu Amanda, memecah ketakjuban kami dengan tampilan mengerikan tentang perubahan iklim di atas.
“Akibat pemanasan global yang disebabkan gas rumah yang terkurung dalam atmosfer, maka selama bertahun-tahun, telah mendorong terjadinya perubahan iklim,” lanjutnya.
Lebih jauh lagi ia mengingatkan, terjadinya perubahan iklim ini tidak semata akan mempengaruhi sebuah siklus alami saja.
Namun lebih dari itu, dampaknya yang kasat mata adalah datangnya bencana dan penghidupan kemanusiaan yang juga akan terganggu. Dan dalam jangka panjang, perubahan iklim ini juga akan mempengaruhi stabilitas ekonomi dan politik.
Bisa dibayangkan, betapa mengerikan jika negara akan saling menyerang demi mendapatkan bahan pangan? Seperti yang terjadi di era kolonial, di mana negara-negara di Eropa datang mengangkangi kepulauan Nusantara demi memperebutkan rempah-rempah yang sangat berharga bagi mereka untuk menghangatkan badan kala musim dingin.

Soal Emisi Gas Rumah Kaca   

Kalau dilihat dari ilustrasi di atas, dapat dilihat dengan mudah, jika penyebab utama meningkatnya karbon dioksida di atmosfer adalah kegiatan manusia di bidang transportasi dan industri. Namun jangan salah, soal emisi gas rumah kaca ini bukan keduanya yang menjadi biangnya.
Masih dalam pemaparan Ibu Amanda, penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia adalah justru dari penggunaan lahan/ kehutanan, sebesar 61,6%. Sangat tinggi dibanding aktivitas energi yang ‘hanya’ 26,2%.
Lho kok bisa? Jadi begini ceritanya gaess..

Dalam siklus karbondioksida, pohon sebagai salah satu unit ekosistem yang penting, akan menyerap karbondioksida (CO2) yang ada di udara. Nah, unsur karbon tadi akan disimpan oleh pohon di batang, daun dan tanah.

Istilahnya bio massa. Sabar ya, ini akan dibahas pada bagian berikutnya.
So, jika pohon ditebang, kemanakah karbon tadi akan pergi? Apakah ikut mati dan roboh ke tanah? Ternyata tidak gaess, karbon yang diikat erat oleh pohon akan kembali dilepas ke udara!

Sebagai gas ia akan berikatan kembali dengan oksigen dan membentuk karbondioksida. Bagaimana jika yang ditebang banyak pohon dalam satu wilayah? Itu namanya kegiatan deforestrasi.
Sudah tentu akan semakin banyak karbondiosida yang dilepas ke atmosfer. Bergabung dengan CO2 yang berasal dari sumber lain, maka semakin banyak kadar CO2 yang memenuhi atmosfer, mengurung ultra violet yang seharusnya kembali ke ruang angkasa.
Maka suhu bumi akan meningkat. Dan akibatnya sudah kita rasakan saat ini.
Jika memang pemanasan global sudah terjadi, apakah ada tanda-tandanya? 
Ibu Amanda sudah punya jawabannya. Beberapa tanda-tanda tersebut, misalnya, “Tinggi muka air laut akan meningkat, suhu secara global naik, suhu permukaan samudera akan memanas, mulai terjadi kejadian ekstrim yang terkait dengan cuaca seperti contoh di Amerika dan Australia di atas.
Termasuk pula, pengasaman samudera serta laju pelelehan es di kutub semakin meningkat,” ungkap Ibu Amanda dalam pemaparannya.
Duh, kasihan sekali ya Bumi kita. Jika keadaan sudah demikian sekarat, apa yang masih bisa kita perbuat?
“Banyak,” ujarnya, “Untuk itulah alasan kita berkumpul di sini, agar bisa melihat permasalahan hutan dari berbagai sisi. Dari berbagai vendor yang bersedia berbuat untuk kelestarian hutan. Bukan senantiasa mengangkat isu bahwa hutan kita sudah sedikit. Bahwa hutan kita sudah habis dirambah..,” tegasnya.
Iya juga sih, setuju Bu. Seperti ujaran bijak – Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik segera menyalakan lilin. Begitu kan Bu?

Lalu Apa Solusinya?

Masih dalam sesi Ibu Amanda, ia menawarkan solusi dalam menghadapi perubahan iklim ini. “Ada dua solusinya. Yakni mitigasi dan adaptasi,” ucapnya.
Istilah mitigasi, katanya, mungkin sudah sering kita dengar saat terjadi bencana. “Nah, dalam konteks perubahan iklim ini, upaya mitigasi ini meliputi usaha memperlambat proses perubahan iklim global, caranya dengan mengurangi level gas-gas rumah kaca di atmosfer dan mengurangi emisi dari kegiatan manusia,” urainya.
Sementara upaya adaptasi, adalah mengembangkan berbagai cara untuk melindungi manusia dan ruang dengan mengurangi kerentanan terhadap dampak iklim dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim global.
“Salah satu upaya yang dekat dengan kehidupan kita adalah soal pola makan. Jika secara global kita mengurangi daging dan menambah buah-buahan dan sayur-sayuran, dapat menyelamatkan 8 juta hidup manusia pada 2050,  menghemat biaya kesehatan & kerusakan iklim US$1,5 triliun,” pungkas Ibu Amanda yang tampil cantik pagi itu dengan menggunakan selendang jumputan warna hijau lumut.

Atiek Widayati : “Pengelolaan Hutan dan Lanskap yang Berkelanjutan” 

Dalam sesi kedua, yang menjadi pembicara adalah Dr Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia. Ehm, orangnya asyik nih. Masih muda, sudah Doktor pulak. 
Ok, Fokus.
Dr Atiek mengangkat masalah hutan. Jadi, masih sesambungan dengan materi yang disampaikan oleh Ibu Amanda sebelumnya, bahwa kegiatan pemanfaatan lahan/hutan memberikan kontribusi kepada peningkatan Emisi Gas Rumah Kaca, – maka pada sesi ini, seluruh tentang hutan benar-benar dikuliti habis.
Mengawali sesinya, Dr Atiek mengingatkan kembali para audiens tentang hutan, “Hutan adalah suatu wilayah dengan luasan lebih dari 6,25 ha dengan pohon dewasa lebih tinggi dari 5 meter dan tutupan kanopi lebih besar dari 30 %,” ujarnya.
Kanopi yang dimaksud adalah tutupan rerimbunan daun yang cukup menghalangi jatuhnya sinar matahari ke permukaan tanah atau semak di bawahnya. Jadi bisa dibayangkan ya, apa yang disebut sebagai hutan menurut pengertian baku.
“Sedangkan dalam konteks lanskap hutan, meliputi seluruh jenis aktivitas yang ada di dalam hutan, di sekitar hutan hingga pemanfaatan hasil hutannya sendiri. Seperti keberadaan hewan, ekosistem di dalamnya, pemanfaatan produk kayu, masyarakat sekitar hutan yang mengambil manfaat dari hutan, seperti kayu, buah, madu dan lainnya,” urai Dr Atiek.
Sering meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan akan produk kayu untuk skala industri, maka keberadaan hutan di Indonsia pun mengalami dinamika.
Sebut saja beberapa istilah yang terkait dengan konversi hutan dan perubahan tutupan lahan.
“Kita mengenal ada dua bentuk konversi hutan, yakni deforestasi dan degradasi hutan,” ungkap Dr Atiek lagi.
“Deforestrasi Hutan, merupakan perubahan permanen dari areal berhutan menjadi areal tidak berhutan atau tutupan lainnya sebagai akibat dari aktifitas manusia. Seperti perubahan lahan di hutan rawa gambut.” (Lihat gambar di bawah)
Biasanya, deforestrasi ini merupakan pembukaan hutan, kemudian diambil manfaatnya lalu tidak berupaya segera dikembalikan lagi bentuk dan fungsinya. Ibarat kata, habis manis sepah dibuang.  

Yang kedua, lanjut Dr Atiek, adalah degradasi hutan. Yakni, jenis perusakan hutan yang tidak semasif deforestrasi, tetapi tetap menunjukkan tanda-tanda penurunan kualitas hutan, seperti tutupan/kanopi, biomassa atau aspek lainnya.   
Sementara itu, untuk contoh-contoh konversi hutan yang ‘lebih manusiawi’ yakni :
Dalam skala besar terjadi pembalakan/penebangan hutan, hutan pun berganti status atau alih fungsi. Lahan yang telah diambil manfaatnya ditanami pepohonan yang lebih bernilai ekonomi tetapi juga memiliki tutupan yang baik, seperti hutan akasia dan kelapa sawit. 
Sementara untuk skala kecil / masyarakat, konversi hutan yang terjadi adalah, penebangan yang dilakukan oleh masyarakat. Biasanya tidak akan sebanyak yang dimanfaatkan oleh industri kayu. Kemudian dijadikan ladang (berpindah). Setelah tidak subur lagi, dijadikan pertanian lahan kering, dan berubah menjadi perkebunan rakyat. Semacam kebun di tengah hutan (agroforest). 
Nah, terkait peningkatan emisi gas rumah kaca dengan kegiatan pemanfaatan lahan/hutan ini berikut penjelasan dari Dr Atiek.
“Mungkin kita telah mendengar tentang biomasa pada waktu sekolah dulu. Nah, dalam kajian kehutanan, ada yang disebut sebagai biomasa vegetasi. Yakni kemampuan penyerapan karbon dari CO2,” sebut Dr Atiek.
Ia mencontohkan, cadangan karbon dari hutan adalah sebesar 200 ton karbon per hektar (C/ha) Sangat besar jika dibandingkan dengan semak-semak yang hanya 15 ton C/ha.
“Lalu, bagaimana jika terjadi kegiatan konversi hutan, deforestrasi, peladang berpindah dan lainnya, yang menebang pohon-pohon besar lalu berubah menjadi semak-semak rerumputan perdu? Secara matematika sederhana pun akan diketahui, bahwa kita akan kehilangan sebesar 200 ton C/ha – 15 ton C/ha = 185 C/ha”, lanjutnya.
Jadi bayangkan, jika ada 10 hektar saja hutan yang ditebang dan menjadi semak, maka kita akan kehilangan karbon sebanyak 185 x 10 = 1.850 ton karbon!

“Tidak berhenti sampai di situ, kita pun bisa menghitung berapa karbondioksida (CO2) yang dihasilkan dari faktor konversi karbon. 1 ton karbon = 3,67 ton CO2 ekivalen. Ambil contoh kasus tadi, maka dari 1850 ton karbon akan terbentuk sebanyak 1850 x 3,67 maka akan menghasilkan emisi 6.800 ton CO2 ekivalen yang dilepaskan ke atmosfer,” papar Dr Atiek ini.
Wah makin seram ya. Itu baru satu titik saja. Bagaimana kalo seluruh nusantara dihitung, tambah ngerih-ngerih gitu lihat angkanya..
Mengkanya, jangan sembarangan membuka lahan ya.. Kasihan bumi. 
Lalu, apa solusinya?
“Upaya mengembalikan ‘fungsi’ hutan melalui pengelolaan lanskap berkelanjutan,” usul Dr Atiek. Yakni dengan melakukan konversi hutan menjadi pertanian/perkebunan dan mengembalikan “fungsi” hutan.

Dengan upaya ini, alur deforestrasi konversi lahan akan menunjukkan grafik positif. (lihat gambar di bawah)

Bagaimana masyarakat umum dapat berkontribusi? “Sangat bisa. Masyarakat umum yang tidak berhubungan langsung dengan hutan tetap dapat berkontribusi secara tidak langsung,” sambung Dr Atiek bersemangat.

Caranya dengan mendukung pelestarian hutan yang ada. Minimal tahu dan paham serta tidak ‘menghalangi’. Maksud menghalangi di sini, menurut hemat penulis, seperti mencibir, nyinyir di media sosial, menyebarkan kabar yang tidak benar dan lainnya.

“Selanjutnya, cara yang kedua adalah mendukung hasil hutan bukan kayu. Manfaat yang bisa diambil di hutan bukan hanya kayu saja loh. Ada rotan, ada madu, biji-bijan, aneka rempah dan sebagainya,” sebut Dr Atiek.

Menumbuhkan pohon tentu memerlukan waktu yang sangat lama. Sementara dengan memanfaatkan hasil hutan non kayu akan memberikan kesempatan pohon untuk hidup lebih lama. Dan dalam waktu yang lama itu, pohon akan memberikan banyak manfaat dan keberkahan bagi ekosistem di sekitarnya.

“Pemanfaatan jasa ekosistem hutan, seperti pemanfaatan sumber air yang masih murni dan terjaga. Wisata alam seperti jelajah hutan atau pendakian, yang tetap memperhatikan kelestariannya,” imbuhnya lagi.

Dan yang tak kalah penting adalah mendukung ekonomi masyarakat tepi hutan. Bagaimanapun, kelompok masyarakat ini yang duluan akan memberikan dukungan bagi kelestarian hutan mereka. Karena mereka paling dekat dan paling mendapatkan manfaat dari hutan.

Sehingga, sudah sewajarnya kita juga mendukung kegiatan ekonomi mereka agar keberlanjutan siklus hidup tidak terganggu dan menggoda mereka untuk melakukan aksi yang destruktif saat kebutuhan ekonomi mereka tidak tertutupi.

Ir Murni Titi Resdiana, MBA : “Pohon dan Ekonomi Kreatif”

Mbak Ir Murni Titi Resdiana, MBA 

Pembicara pada sesi ketiga ada Mbak Ir Murni Titi Resdiana, MBA dari Kantor Utusan Khusus Presiden bidang Pengendalian Perubahan Iklim dengan materi super cantik, Pohon dan Ekonomi Kreatif.

Di mana dalam pembahasannya, Mbak Murni menyinggung soal kebijakan perubahan iklim Indonesia yang tertuang dalam dua kebijakan penting yakni Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) dan Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API).

Pas ya dengan dua solusi yang ada dalam materi pembuka dari Ibu Amanda tadi, yakni Mitigasi dan Adaptasi.

Selain itu, Mbak Murni juga mengingatkan betapa hutan kita ini kaya akan jenis-jenis pepohonan endemi yang kaya manfaatnya.

“Kita punya banyak sekali varietas tanaman yang bisa dimanfaatkan secara ekonomi dan memancing kreativitas,” ujarnya.

Dia mencontohkan, tanaman yang kita punya mempunyai potensi di dalamnya. “Ada pohon yang bisa digunakan sebagai sumber serat, sumber pewarna alam, bahan kuliner, bahan baku furniture, dekorasi hingga minyak atsiri,” ungkapnya.

Mengapa menanam pohon untuk ekonomi kreatif ini menjadi penting? Karena biasanya, dalam skala kecil kegiatan ekonomi ini bergerak dalam bentuk UMKM. Sementara, UMKM sendiri mampu menyumbang peningkatan pertumbuhan ekonomi secara nasional sekian persen.
Jadi ibaratnya, sekali dayung tiga-empat pulau terlampaui. Melestarikan hutan, menghidupkan ekonomi masyarakat di tepi hutan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.
Tuntas Mbak Murni dilanjutkan oleh Mas Janudianto Social Comdev CSS PT Sinar Mas, yang membuka wawasan tentang Desa Makmur Peduli Api yang terkait erat dengan pemaparan dari DR Atiek tentang mendukung ekonomi masyarakat tepi hutan.
Namun, berhubung waktu juga yang membatasi, (cie.. serasa acara nikahan nih). Waktu deadline sungguh sangat mefet sekali, udah jam 11 malem nih, kasihanAmir Taufik “Daeng Battala” Gobel yang sudah agak suntuk nungguin para pengabdi deadline, belum juga tuntas setor tulisannya. Hihihi..

Maka saya cukupkan dulu tulisan sampai di sini. Jujur sih, acaranya bagus banget. Bener-bener buka wawasan dan juga mengingatkan kembali sesungguhnya Bumi sekarang sudah sangat-sangat kritis. Ancaman perubahan iklim sudah tidak main-main.

Namun, di tengah kekhawatiran itu semua, kita masih bisa berbuat. Mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri kita sendiri dan mulai dari sekarang! Paling minimal, mulai dari sekarang, bawa kantong plastik sendiri kalo lagi ke pasar ataupun ke mini market.

Galeri Foto

Memang acara kemarin itu, luar biasa konsepnya. Ada pemateri top, ada pameran mini hasil hutan non kayu, ada praktek Eco Print, ada praktek masak dan acara puncaknya (eh?) icip-icip masakan untuk makan siangnya.
Seru, karena baru kali ini acara resmi ada gulai pindang iwak gabus! Ck-ck.. sampai nulis ini saja masih terbayang kuah pindang panasnya, dengan asap yang mengepul-ngepul..

Tapi kemarin khilaf jadi nggak sempat foto lagi. Haha.. (*)

Gantungan kunci keren dengan mengambil ikon-ikon khas Kota Palembang. Ada Jembatan Ampera, Ikan Belida sampai ke klenteng Hok Tjing Rio yang ada di Pulau Kemaro.
Aneka bahan pewarna alami dari kulit pohon, yang dapat digunakan dalam proses jumputan maupun eco print.
Nah, ini nih yang keren dan maskulin banget. Aneka gelang yang terbuat dari kayu dan bahan alami hasil hutan lainnya.
Minat? Itu kain jumputan loh, tapi dengan pewarna alami. Ada juga kain yang dibuat dengan metode Eco Print.
Ada juga stand dari APP Sinar Mas yang memperkenalkan beberapa produk olahan dari desa binaan.
Ini nih nama lapaknya, Galeri Wong Kito. Jaturi yang nak mampir..
Proses penutukan eh Eco Print dengan berbahan daun-daun alami. Keren banget! Sesuatu yang nggak disangka-sangka ternyata mampu memberikan hasil dan kualitas yang memukau.
Udah agak capek menerima pemaparan materi yang super duper padat, saatnya dilonggarkan dengan melihat aksi chef tuan rumah membuat beberapa menu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *