LESTARIKAN HUTAN, LESTARILAH GENERASI

Posted by

Oleh Ika Y. Suryadi


Seperti berada di dalam mobil yang tertutup rapat, pengap, dan tak ada jalan keluar-masuk udara. Begitulah kondisi kita di bumi pada hari ini. Gas emisi, polutan, dan panas matahari masuk ke bumi—yang seharusnya kembali ke atas—justru berhenti dan kembali memantul ke bumi. Dan, jadilah efek rumah kaca. Kita berada di dalamnya.” (Diadaptasi dari ungkapan yang disampaikan Dr. Amanda Katili Niode, ManagerThe Climate Reality Indonesia)

PADA tahun 90-an, tak jauh dari rumah saya ada semacam parit besar yang memisahkan rawa, kolam-kolam tadah hujan milik warga, dan juga perkampungan. Parit itu seperti sungai kecil yang bukan main jernih airnya. Di dalamnya banyak ikan gabus, wader, dan kapi-kapi berenang. Saya dan teman-teman sepantaran saya kerap bermain di sana. Kami menangkap ikan, main perosotan air dari pelepah pinang, dan jebur-jeburan. Pun ketika musim kemarau tiba (bahkan ketika bencana kabut asap 1997 melanda) parit itu masih mampu mengalirkan air dari mata air. Burung-burung menumpang mandi, biawak, tupai dan monyet masih berkeliaran. Dan setidaknya, menyejukkan pandangan di antara penjara kabut asap bahwa parit itu tak pernah kehabisan air. Hanya sedikit surut sebagai tanda bahwa dia toh hanya parit.
Akan tetapi, hari ini sudah berbeda. Saat musim hujan, parit itu hanya sekadar jalan air yang deras dan keruh. Sementara ketika kemarau, parit itu lebih mirip galian lubang yang panjang tanpa setetes air. Seolah menunjukkan mata air sudah terlampau jauh di dalam tanah. Bahkan detik ini, ketika kabut asap akibat karhutla kembali datang, nasib parit itu tidak sempat lagi ditangisi lantaran warga sibuk sesak napas dan mencari sumber air ke sana-sini. Jangankan parit, sumur-sumur galian sudah tandas, kisanak. Kalau pun ada, tentu sudah campur baur dengan rembesan air dari septi tank. Masyarakat sekitar yang dulu terberkahi dengan melimpahnya air, kini punya kebiasaan baru membeli air dan ditampung di tangki (PAM belum masuk ke daerah kami). Pada saat itulah, di momen-momen paling berat, di antara rumput cokelat tanpa embun, di bawah matahari merah menyala, dan dalam kurungan kabut asap, saya kerap berbisik lirih;  Bumi kita tak pernah sama lagi seperti sebelumnya.

Perubahan Iklim : Apakah Alam yang Berubah atau Manusia yang Sudah Berubah?Ada yang membuat saya kembali tersentak, ketika mengikuti rangkaian acara Forest Talk With Netizen pada 31 Agustus lalu. Rangkaian acara yang diadakan oleh Yayasan Doktor Sjahrir (YDS) dan Climate Reality Indonesia (http://lestarihutan.id/) ini mengajak blogger dan netizen Jambi untuk peduli hutan dan mengenalnya lebih dekat. Lebih dekat, karena dari acara inilah saya jadi mengetahui bahwa serat ilalang bisa digunakan untuk membuat kain, lumut bisa dibuat jadi zat pewarna alami, akar tumbuan bisa diolah menjadi bumbu micin (anak micin angkat tangan!), dan segala macam informasi yang menunjukkan betapa hutan kita adalah sumber penghidupan.

Dr. Amanda Katili Niode (kanan), Ibu Atiek Widayati (tengah), Ibu Elly Telasari (kiri)

Hal yang membuat saya langsung sepakat, sekaligus terus mengingatnya hingga sekarang adalah ketika Ibu Dr. Amanda Katili Niode (selaku pemateri pertama di sesi talk show berkenaan dengan perubahan iklim) berkata bahwa kita telah terjebak dalam tragedy of the commons. Sebuah metafora untuk sesuatu yang dimiliki bersama, digunakan bersama secara bebas dan tidak teratur. Saat saya mendengar ungkapan itu, rasanya seperti sedang mendengar guru saya mengenalkan kosakata baru. Entah ke mana saja saya selama ini, mohon jangan ditiru.

 Sumber Daya Alam yang kita dapatkan secara cuma-cuma akhirnya membuat kita terus menggunakan dengan serampangan, dan tanpa sadar, SDA itu tidak cukup lagi untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Lahan yang begitu-begitu saja ukurannya, harus rela kian tergerus oleh populasi manusia yang terus bertambah, kebutuhan pangan dan papan yang juga ikut bertambah, sekaligus tak berdaya ketika kemajuan industri dan ekonomi telah membuat hutan dan lahan kosong mengalami deforestasi, degradasi dan konversi.
Akibatnya, perubahan iklim yang kentara pun terjadi. Bahkan beberapa waktu yang lalu kita sempat dikejutkan dengan cuaca ekstrem yang terjadi di beberapa negara. Contohnya saat Amerika membeku dengan suhu -40Celcius, namun, di saat bersamaan, Australia justru meleleh karena suhu udaranya yang tembus hingga +50o Celcius.  Sebuah keanehan yang tragis, namun begitulah adanya.
Tentu saja perubahan iklim juga terjadi di Indonesia. Dahulu musim hujan dan musim kemarau masih bisa ditanggulangi. Berbeda dengan sekarang yang cuacanya bisa mencapai kekeringan atau kelembaban meteorologi level ekstrem. Bahkan, baru-baru ini BMKG menyatakan bahwa musim kemarau tahun 2019 jauh lebih parah daripada tahun lalu. Dan, diprediksi akan terus berlanjut hingga awal November (Ya salam!). Padahal normalnya, musim kemarau hanya berlangsung dari bulan Maret hingga September. Miris, memang. Cuaca sudah seperti remaja labil yang sulit dibaca isi pikirannya.


Sejak kapan pastinya alam berubah, tentulah ia mengalami berbagai proses panjang yang kita abaikan. Namun, lagi-lagi saya sepakat dengan Dr. Amanda Katili bahwa semua itu karena kita yang lebih dahulu berubah. Masih jelas dalam ingatan saya, bagaimana ayah saya menceritakan kesederhanaan pola hidup masyarakat dahulu. Mungkin, anda pun pernah mendengar celetukan seperti ini “Orang-orang dulu umurnya panjang-panjang, ya.” atau “Orang-orang zaman dulu meski sudah tua masih seger, ya.” Karena, saya pun pernah mengatakannya. Dan, orangtua saya akan kembali berkisah bagaimana nenek mamak kami memperlakukan alam dengan baik, mengolah makanan dari hutan, tidak menggunakan zat kimia, dan berpakaian sederhana tanpa memikirkan fashion. Berbeda dengan kita yang saat ini sudah penuh dengan berbagai kegiatan yang justru menyumbang emisi gas.

Sudah bukan hal baru, istilah efek rumah kaca diperdengarkan pada kita. Papan reklame, iklan televisi, spanduk yang bertuliskan save our earth sudah sejak lama kita temukan. Namun, entah mengapa ajakan itu seperti angin lalu saja bagi sebagian orang. Dari diagram di atas, menunjukkan kenyataan bahwa semakin maju ekonomi dan industri kita justru semakin tinggi kita menyumbang gas-gas emisi ke udara. Gas-gas emisi itulah yang akan berkumpul, terjebak di atmosfer, lalu memantul kembali ke bumi karena tidak sanggupnya lapisan atmosfer memantulkan panas bumi ke luar angkasa. Akibatnya, tentu saja terjadi pemanasan global.

Bumi yang semakin panas pun lama-lama mengalami perubahan. Dan, jadilah berbagai cuaca ekstrem terjadi yang berujung pada bencana-bencana lainnya. Untuk itu, Ibu Amanda Katili tak lupa mengingatkan betapa perlunya kita mencanangkan solusi dalam menghadapi perubahan iklim ini. Di antaranya adalah Mitigasi dan Adaptasi. 

Memang tidak bisa secepat membalikan telapak tangan. Namun, solusi ini diharapkan dapat memperlambat sekaligus mempertahankan diri di antara iklim yang terus berubah. Tentu saja ini akan melibatkan sikap kita terhadap hutan.
Apa yang sebenarnya Terjadi dengan Hutan Kita?Setelah dibuat tertohok oleh materi pertama, saya kembali harus tersadar bahwa memang ada yang salah dengan hutan kita selama ini. Pasalnya, Bu Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia juga menyampaikan bahwa hutan Indonesia yang katanya seluas 120,6 Ha (berdasarkan state of the forest Indonesia) ini justru semakin lama mengalami perubahan luas dan fungsi. Semua itu dikarenakan adanya berbagai kerusakan yang menimpa hutan kita. Salah satunya adalah kebakaran.

Sebagai seorang yang lahir dan besar di Jambi. Saya merasakan betul dampak dari Karhutla. Asap itu menyebabakan banyak warga terserang ISPA. Bahkan merugikan ekologi, meresahkan masyarakat, memperburuk keadaan lingkungan dan melumpuhkan aktivitas  di bidang transportasi, kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi. Bahkan yang paling parah, terjadi tahun 2015, ketika Indonesia berhasil ‘mengekspor’ kabut asap tersebut ke beberapa negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam. Bahkan Badan Lingkungan Hidup sempat memaparkan indeks standar pencemaran udara (ISPU) sudah melebihi angka 240 (sangat tidak sehat)[1].
Ketika saya menulis essai ini, Jambi pun sedang dilanda bencana kabut asap karhutla. Bahkan beberapa hari yang lalu, udara di kota ini sudah berada di atas baku mutu dengan nilai 513 yang artinya berbahaya (Brdasarkan data realtime terakhir dari Air Quality Monitoring System) sehingga Disdik berulang kali meliburkan kegiatan belajar mengajar. Meski saat ini sudah turun menjadi 243. 47 (Tidak sehat), namun, tetap saja belum ada kelegaan di hati. Karena bagaimanapun,  mobil damkar bolak-balik karena banyak kebakaran, dan napas tetap sesak karena asap masih mengepung pandangan dan dada. Dan, asap ini pun kerap mengalami fluktuasi.
Untuk itulah perlu adanya gerakan melestarikan hutan agar bencana semacam ini tidak terulang lagi. Bu Atiek menyampaikan bahawa perlunya mengembalikan fungsi hutan dan melakukan pengelolaan berkelanjutan, yaitu melaksanakan konservasi hutan dalam oengelolaan berklanjutan. Selain itu,  masyarakat diharapkan ikut berkontribusi dengan cara mendukung pelestarian hutan, mendukung Industri-industri yang bertanggung jawab dalam mengelola hutan, menggunakan hasil hutan bukan kayu, mendukung ekonomi masyarakat tepi hutan, dan memanfaatkan jasa ekosistem (hutan), serta ikut berkontribusi mengajak masayarakat lebih mencintai hutan dan alam melalui berbagai cara, salah satunya sosial media (dan inilah salah satu alasan mengapa kami para blogger dan netizen bisa hadir dalam acara ini).
Melakukan Prinsip Hutan untuk Menjaga HutanSeperti yang kita ketahui, pemerintah telah melakukan upaya perlindungan hutan. Namun, sekuat apa pun sebuah undang-undang, mestilah didukung oleh berbagai elemen masyarakat. Jika satu pohon cukup untuk menghasilkan oksigen, maka seribu pohon lebih dari cukup. Sama halnya seperti kita pada umumnya. Jika ada satu elemen yang mendukung kelestarian hutan, maka seribu elemen itu akan jauh lebih besar dampaknya.
Kita perlu saling bahu-membahu menjaga hutan seperti apa yang dikatakan Ibu Atiek yakni Prinsip Mengembalikan Fungsi Hutan. Sebuah prinsip sistem yang sebetulnya terdiri atas berbagai elemen. Elemen-elemen itu meliputi pemerintah, industri, LSM, pengusaha, lembaga-lembaga pengawas, media, sektor swasta, aktivis, dan tentu saja masyarakat umum. Prinsip ini menjadikan seluruh elemen masyarakat bekerja melestarikan hutan. Gerakannya persis seperti komponen hutan yang saling menghidupi dan berpenghidup selama ini. Semuanya bekerja di wilayah mereka masing-masing. Karena keselarasan perpaduan antara integritas pribadi akan memayungi perangkat pengelolaan hutan. Sehingga kerusakan bumi bisa ditanggulangi dan diperlambat.
Hutan Kreatif : Cara kita untuk mencintai BumiGunakan produk lokal dan dukung Pemanfaatan hasil hutan. Begitu Bu Amanda Katili berkata saat beliau menggantikan Ibu Murni Titi Resdiana yang berhalangan hadir. Dan, selain menggunakan menjadi konsumen, kita diharapkan ikut mendukung gerakan menanam pohon untuk ekonomi kreatif. Karena sebetulnya, selain digunakan sebagai bahan papan, pohon memiliki sumber manfaat yang lain seperti sumber serat, pewarna alam, bahan kuliner, furniture, barang dekorasi, dan minyak atsiri.Seperti rotan dan lontar (dimanfaatkan sebagai fashion dan kerajinan tangan), lalu kulit secang dan pohon jati yang daunnya bisa dimanfaatkan sebagai pewarna kain atau pun pewaran makanan dan minuman. Hmm … saya jadi terkenang saat makan gudeg. Warna merah dari gudeg juga berasal dari daun jati, lho.
Selain itu, ada tumbuhan indigofra, mengkudu, kaliandra, nipah, kepal dan masih banyak lagi yang ternyata bisa dimanfaatkan sebagai sumber. Entah itu serat, pewarna, pangan, energi, dan lain sebagainya. 

Kain-kain dengan pewarna alami
Kemeja dari serat kayu


Mengenal Exhibitor di Event Forest Talk with Netizen Jambi“Saya cinta Jambi.” Begitu kalimat yang diucapkan Bang Vinto. Saya ulangi. Saya cinta jambi. Dan, itu beliau katakan dengan sangat lepas dan bangga ketika tiba gilirannya memperkenalkan diri. Bang Vinto adalah salah satu exhibition yang turut hadir di rangkaian agenda Forest Talk With Netizen ini. Perlu dijelaskan, event ini tak hanya terpaku pada talk show, peserta juga diajak mengenal lebih dekat berbagai UMKM yang fokus dan konsisten memproduksi produk yang murni dari alam tanpa bahan kimia. Entah itu dari kayu atau non kayu.

Bang Vinto atau yang bernama asli Bustam Effendi ini sebetulnya bukan asli wong kito. Namunnasib yang membawanya berada di kota ini. Tak main-main, sejak empat tahun lalu beliau ikut melestarikan hutan lewat usahanya yang diberi nama Kain Vinto (cek instagram kain_vinto). Hal yang paling membuat saya (dan saya rasa kami semua) tertarik adalah bahan dasarnya. Bang Vinto menggunakan serat ilalang, serat pandan, sutra, rotan dan hasil hutan lainnya untuk disulap menjadi syal, batik, tas, tikar, keranjang, dan lain sebagainya. Lewat tangan dinginnya, beliau membina masyarakat Muaro Bungo. Bahkan, zat pewarnanya juga alami seperti daun-daunan, getah pisang, dan lumut! Tak heran kalau saat ini, Kain Vinto sudah di ekspor ke berbagai negara. Luar biasa, memang. Hal ini menyadarkan saya betapa sebetulnya Tuhan begitu detail dalam menciptakan semuanya di bumi ini. Kita hanya perlu sedikit berpikir kreatif, tentunya. Bang Vinto adalah satu dari orang kreatif itu.

Selain Kain Vinto, exhibitor lain yang tak kalah keren adalah Mas Ali dan tim dari Rengke rengke (cek instagram @rengkerengke). Rengke-rengke memproduksi barang-barang serba rotan dan keladi hutan seperti plakat, topi, keranjang, bros, bunga hias, dan lain sebagainya. Yang membuat produk ini makin spesial adalah pengrajinnya, yakni Suku Anak Dalam (SAD). Ya, rengkerengke memberdayakan masyarakat SAD sekitar Dusun Senami Kabupaten Batanghari. Sebetulnya saya sudah lebih dahulu mengenal rengkerengke mengingat saya adalah alumni UNJA.

Mas Ali Ariswanto, founder rengke
Produk rengke (travelerien.com)

Mas Ali dan tim adalah senior saya yang pada saat itu sudah berkutat dengan pembinaan Suku Anak Dalam (SAD). Rengkerengke adalah usaha kreatif yang bermula dari perlombaan karya ilmiah bertemakan PKM-M pada tahun 2010. Merasa bahwa usaha ini memberi dampak positif bagi perekonomian SAD, Mas Ali dan tim pun melanjutkan usaha ini hingga sekarang.
Sempat Mas Ali berkisah bahwa sebetulnya beliau pernah ditawari memproduksi anyaman tersebut dalam jumlah besar. Namun, sedikitnya SDM dan belum pahamnya pengrajin SAD tentang konsep penjualan konsinyasi membuat rengkrengke harus menahan diri dulu untuk ekspor. Sedikit sedih, namun, tim rengke akan tetap bersemangat. Saya pun turut mendoakan semoga usaha ini bisa semakin maju. Senang rasanya melihat saudara-saudara SAD bisa sejahtera.
Selanjutnya, ada Ragel (cek instagram @ragel) yang digawangi oleh Miftahul Jannah atau lebih sering disapa Mifta. Ragel (Rasa Gemilang) adalah brand untuk produk cemilan yang terbuat dari produk hutan non kayu yaitu jamur. Karena setiap hal memiliki ceritanya sendiri, Ragel juga punya sejarah berdiri yang tak kalah inspiratif. Berawal dari rasa prihatin terhadap petani jamur di Maro Sebo, Muaro Jambi, yang kerap mengalami fluktuasi permintaan pasar, bahkan kerap merugi. Mifta pun bekerjasama dengan para petani tersebut untuk kemudian membeli dan mengolah jamur menjadi panganan yang enak. Meski baru beberapa bulan berdiri, Ragel ternyata sudah sering ikut pameran dan bazar yang menuntu Ragel memprosuksi lebih banyak. Karena itulah, petani jamur semakin semangat. Tabik!

Produk ragel terbuat dari jamur tiram

Selain kain Vinto, Rengke rengke, dan Ragel, event ini juga menghadirkan hasil produksi masyarakat Desa Makmur Peduli Api (DMPA). Pak Supari-lah yang saya temui ketika bertandang ke meja tempat produk-produk DMPA digelar.Wargadesa ini dibina langsung oleh Asian Pup Paper (APP) Sinar Mas sebagai keseriusan mereka dalam mewujudkan Kebijakan Konservasi Hutan. Selain ikut memamerkan produk, DMPA juga turut memaparkan sedikit gambaran mengenai gerakan mereka selama ini. Diwakili oleh Ibu Elly Telasari, DMPA telah berjuang selama empat tahun ini untuk konsisten mewujudkan hutan lestari. Ini, diharapkan sebagai salah satu cara yang Bu Atiek sampaikan sebelumnya bahwa perlunya mengembalikan ‘fungsi’ hutan dengan cara mengkonversi hutan dengan Agroforestri.
Untuk produk-produknya sendiri, DMPA sudah menghasilkan begitu banyak produk yang membuat penghidupan masyarakat DMPA meningkat. Produk-produk itu di antaranya adalah :

Setelah dibius dengan berbagai pameran produk hutan, saya dan teman-teman peserta lainnya juga diajak mengikuti demo masak. Tentu saja dengan bahan-bahan serba hutan seperti jamur, udang, dan sayur-sayuran. Saya sempat jengkel saat mengikuti sesi ini. Bukan karena chef-nya atau demo-nya. Melainkan karena ponsel pintar saya tiba-tiba kehilangan jaringan internet dan juga, pada akhirnya harus kehabisan baterai. Hal ini tentu saja membuat aktivitas saya menyiarkan kegiatan ini di sosial media jadi terhenti. Padahal sejak awal, saya dan para peserta lainnya sudah berkomitmen untuk ikut mengajak masyarakat berkontibusi menjaga kelestarian hutan dengan memanfaatkan sosial media. Ini, mungkin yang disebut dengan nasib. Baiklah.

Untungnya, harum masakan yang dimasak chef begitu menggiurkan, membuat saya jadi lupa dan sedikit terhibur. Ditambah lagi, ternyata saat sesi penutup, saya diumumkan sebagai salah satu juara dalam lomba live tweet mengenai Event FTWN ini. Alhamdulillah, senangnya. Hadiahnya benar-benar bermanfaat. 

Tiga pemenang lomba live instagram
tiga pemenang lomba live tweet
Peserta teraktif
Menikmati kebersamaan saat makan siang
Teman baru relasi baru

Harus saya akui, event Forest Talk With Netizen ini benar-benar membuka mata saya mengenai lingkungan. Sebuah event yang bermanfaat sekali. Saya berterima kasih kepada para penyelenggara, terutama Kak Katerina (travelian.id) yang mengajak saya ikut serta dalam event yang bermanfaat ini.Bermanfaat, memang. Sebab bagi saya salah satu keberhasilan sebuah event adalah seberapa jauh event itu meninggalkan bekas mendalam pada pesertanya. Nyatanya, kesadaran saya terhadap lingkungan kini berada di taraf yang jauh lebih baik. Terlebih, saat saya sedang menyusun tulisan ini, saya sedang berjuang di antara kabut asap yang menyesakkan akibat karhutla. Tentu saja sambil sesekali memikirkan riwayat parit jernih tempat saya dulu pernah menghabiskan masa kecil bahagia di sana.
Benar kata Dr. Amanda Katili Niode, Seperti berada di dalam mobil yang tertutup rapat, pengap, dan tak ada jalan keluar-masuk udara. Begitulah kondisi kita di bumi pada hari iniGas emisi, polutan, dan panas matahari masuk ke bumi—yang seharusnya kembali ke atas—justru berhenti dan kembali memantul ke bumi. Dan, jadilah efek rumah kaca. Lantas dengan apa kita bisa keluar dari kurungan mobil ini?

Maka, sebagaimana Franklin D. Roosevelt pernah mengatakan, bahwa a nation that destroys its soils destroys itself. Forests are the lungs of our land, purifying the air and giving fresh strength to our people. Bagaimanapun, alam tidak pernah menyakit dirinya. Dia hanya menjawab apa yang sudah manusia lakukan padanya. Karena itu, marilah kita menjaga alam ini. Sebab, menjaga alam sama saja dengan menjaga diri kita. Salam lestari! []
***


Profil Penyelenggara :

Yayasan Doktor Sjahrir dan Climate Reality IndonesiaYayasan Doktor Sjahrir adalah Organisasi Nirlaba yang dibentuk untuk meneruskan misi sosial almarhum Dr Sjahrir. Lembaga bergerak lintas sektor, termasuk bidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.
·         email sekretariat@yayasandoktorsjahrir.id·         Twitter (@YSjahrir)·         Instagram(@yayasandoktorsjahrir)·         Website Lestari Hutan (http://lestarihutan.id/ ) dan (http://yayasandoktorsjahrir.id)·         Alamat Jalan Sukabumi No. 15, Menteng, Jakarta
Sedangkan The Climate Reality Project Indonesia adalah bagian dari The Climate Reality Project yang berasal dari Amerika Serikat yang dipimpin oleh mantan wakil presiden Al Gore, saat ini memiliki dari 300 relawan di Indonesia yang juga berfokus melakukan sosialisai perubahan iklim dan mendorong masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi.


[1] “Kompas” Newspaper, 2015


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *