Lestarikan Hutan Demi Masa Depan

Posted by

Oleh : Agustinus Bertolomeus Eko Dony Prayudi

Tahun 90-an, waktu kecil dulu, saya tinggal di kota Sintang, 8 jam perjalanan darat dari kota Pontianak, 386 kilometer. Saya ingat sekali sekitar 200 meter dari belakang rumah, ada hutan yang tidak terlalu rimbun. Jika malam larut, terdengar suara jangkrik dan hewan malam sedangkan kalau pagi, suara burung sambung menyambung menyambut mentari.
kakek saya dulu suka bercerita.

“cari sayur itu mudah, pergi ke hutan belakang. Ada umbut rotan, ada rebung, ada pakis. Tinggal ambil saja. Mau cari ikan tinggal mancing ke sungai atau pasang bubu”. 

Betapa mudahnya mencari sumber hidup, hutan sudah seperti pasar swalayan, tinggal usaha sedikit sudah cukup untuk hidup sehari hari. Lalu bagaimana keadaan hutan dibelakang rumah saat ini? Sekarang sudah jadi perumahan 4 kompleks yang masing masing berisi 50 rumah.

Wajah Dunia Saat ini

Respon pertama kali adalah mengiyakan perkataan Ibu Amanda Katili di acara Forest Talk with Blogger yang diadakan oleh Yayasan Sjahrir dan Climate Reality Indonesia Sabtu, 20 April 2019 di Hotel Ibis Kota Pontianak, beberapa waktu yang lalu.

Lestarikan Hutan demi Mada Depan

Penggambaran suhu yang memanas adalah contoh dibeberapa negara. Amerika mencapai suhu terendah dalam beberapa tahun terakhir –40 derajat Celcius sementara Australia harus memanas hingga +50 derajat Celcius. Membayangkannya saja saya sudah tak sanggup, Cuaca ekstrim yang pernah saya rasasakan hanya 38 derajat celcius, itupun sudah serasa didalam api neraka.

Banner Forest Talk with blogger Menuju Pengelolaan Hutan Lestari

Keadaan alam yang anomali ini bisa dirasakan juga di Indonesia dengan adanya bencana alam, seperti hujan terus menerus yang menyebabkan banjir dan longsor. Curah hujan yang besar disertai angin kencang serta waktu yang tidak menentu membuat dampak signifikan di bidang pertanian. Ekosistempun berubah. Secara global, di dunia ada 60 juta orang terdampak cuaca ekstrem sementara di Indonesia, 2481 bencana, dimana 97% hidrometeorologi dan 10 Juta orang menderita dan mengungsi

Bu Amanda kembali memaparkan aktifitas luar biasa dari kegiatan manusia yang mulai berlebihan menyebabkan efek gas rumah kaca yang menyebablan pemanasan berlebihan yang akhirnya berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim sehingga terjadi bencana alam dimana mana. Mau tidak mau, kita semua merasakan dampak yang luar biasa.

Ibu Amanda Katili Niode, Manager The Climate Reality Indonesia

Bagaimana siklus ini terjadi? Ibu Amanda yang juga Manager The Climate Reality Indonesia mengungkapkan, pengambilan hasil bumi seperti batu bara dan minyak bumi akan terus bertambah banyak akibat perkembangan industri diberbagai sektor, contoh nya transportasi yang terus menggunakan bahan bakar. Industri pertanianpun menyumbangkan kerusakan seperti pembakaran hutan dan penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Termasuk ulah manusia seperti kebakaran hutan, sampah dan penggunaan energi berlebihian untuk kendaraan dan listrik. Ini semua akan menyebabkan ketidakseimbangan alam seperti melelehnya permafrost.

Bukti perubahan iklim di bumi

Supaya bisa mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengingat kita semua untuk sama-sama memperhatikan emisi dari penerbangan dan perkapalan, Industri, limbah, pertanian, energi dan yang paling besar adalah penggunaan lahan dan kehutanan yang mencapai 61,6% dari total keseluruhan.

Sistem global rentam iklim

 Bagi yang tinggal di Kalimantan seperti saya, dampak ini langsung terasa signifikan dengan keadaan musibah setiap tahun yaitu kebakaran hutan dan kabut asap. Belum lagi Pontianak, juga didera banjir jika hujan deras sebagai akibat dari titik permukaan laut yang terus naik karena es abadi yang mencair. Dampak lain yang terasa juga tidak main-main, ancaman kesehatan seperti Demam Berdarah dan penyakit Pencernaan dan pernafasan menjadi masalah tahunan yang selalu menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Masalah kebutuhan air juga mulai dirasakan karena tanah sudah tidak mampu menyimpan resapan air. Jika kemarau, masalah air juga dialami masyarakat Pontianak, termasuk air laut yang masuk ke sungai sehingga air menjadi asin. Tentu, masalah pangan juga mengkhawatirkan,perubahan cuaca ekstrim menyebabkan gagal panen sehingga kebutuhan pangan tak tercukupi. Jangan remehkan pula dampak sistem global rentan iklim, selain instabilitas politik dan sosial serta infrastruktur.

Mitigasi dan adaptasi

Semua boleh takut dan khawatir, Ibu Amanda mengingatkan untuk bersama menjalankan solusi perubahan iklim dengan mitigasi dan adaptasi. Mitigasi yang dimaksud adalah upaya memperlambat proses perubahan iklim global dengan cara mengurangi level gas-gas rumah kaca di atmosfera dan mengurangi emisi dari kegiatan manusia. Sedangkan Adaptasi adalah mengembangkan berbagai cara untuk melindungi manusia dan ruang dengan mengurangi kerentanan terhadap dampak iklim dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim global.

Bergandengan Tangan Merawat Bumi

Ibu Amanda yang ternyata seorang traveler dan penulis inipun memberikan beberapa percontohan  kegiatan yang sudah berhasil dibeberapa wilayah Indonesia. Mencontohkan Sumba yang sudah mencanangkan pada tahun 2025 menggunakan 100% energi terbarukan. Ada pula gerakan diet kantong plastik yang sudah dilakukan oleh banyak pihak karena penggunaan kantong plastik sekali pakai diseluruh dunia sudah cukup mengkhawatirkan yaitu mencapai 1 trilyun.

Di industri kendaraan bermesin juga semakin berbenah, banyak sekali perusahaan otomotif yang memperoduksi kendaraan listrik dan hybrid. Oxford study tahun 2015 juga melakukan penelitian mengenai Peralihan global ke pola makan yang mengurangi daging dan menambah buah-buahan dan sayur-sayuran dapat menyelamatkan 8 juta hidup manusia pada 2050, menghemat biaya kesehatan & kerusakan iklim US$1,5 triliun. Banyak pula kearifan lokal yang kembali diangkat untuk menjaga hutan dan lingkungan termasuk kemajuan teknologi yang ramah lingkungan terus didengungkan.

Saya sebagai blogger dan Influencer mendukung Pelestarian Hutan demi Masa Depan

Saya pribadi sebagai blogger dan influencer tidak mau kalah. Ikut mengingatkan melalui tulisan dan sosial media. Banyak program-program pelestarian lingkungan yang sukses disuarakan menggunakan Media Sosial dan menimbulkan respon yang luar biasa dari masyarakat. Ini sangat berdampak positif saat teknologi digunakan dengan tepat. Kita sebagai manusia harus bertanggung jawabdengan bersama menggalang kekuatan untuk bergerak melakukan mitigasi dan adaptasi karena perubahan iklim juga diakibatkan oleh manusia. Ayo bergandengan tangan dan bergerak bersama demi dunia yang lebih baik

Kalimantan Barat, Riwayat Mu Kini

Berkali kali saya mengangguk dan mencoba mengingat semua yang disampaikan oleh Ibu Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia. Dulu saya ingat sekali pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) saat SD bahwa Kalimantan adalah paru paru dunia tapi setelah melihat peta hutan Kalimantan dan mendengar paparan tentang deforestasi dan degradasi membuat saya terhenyak. Ini tak boleh dibiarkan.

Atiek Widayati (Yayasan Tropenbos Indonesia)

Deforestasi sendiri adalah Perubahan permanen dari areal berhutan menjadi areal tidak berhutan atau tutupan lainnya sebagai akibat dari aktifitas manusia sedangkan degradasi hutan adalah perusakan atau penurunan kualitas hutan (tutupan, biomasa dan/atau aspek lainnya).

Lalu bagaimana keadaan hutan Kalimantan? ada yang skala besar seperti pembalakan/penebangan hutan untuk beralih fungsi sudah lama terdengar, apalagi pengelolan perkebunan sawit dan akasia termasuk besar dan luas. Untuk skala kecil biasanya dilakukan oleh masyarakat misalnya ladang (berpindah), pertanian lahan kering untuk kebun dan lainnya atau kerusakan hutan akibat gabungan dari keduanya.

Laju deforestasi hutan 1990-2017

Tidak hanya hutan rimba yang berubah, lahan gambut yang banyak di Kalimantan Barat pun telah berubah ini membuat semua ekosistem juga berubah. Fungsi lahan dan hutan rimba tak bisa lagi sama. Akibat berkurangnya vegetasi maka serapan CO2 juga menurun selain itu, Ibu Atiek menjelaskan banyak sekali kejadian yang menghiasi isi surat kabar, seperti diberitakan Kompas bahwa terjadi banjir bandang di Papua yang sudah diprediksi akibat terjadi deforestasi di kawasan cagar alam Cycloop.

Bencana alam yang sudah diprediksi

Lalu di Kalimantan Barat dapat dilihat di daerah Kayong Utara, Kalimantan Barat. Terlihat jelas sekali warna air laut disekitaran Pulau Maya berwarna kuning kecokelatan, hal tersebut akibat dari deforestasi.

Kembalikan Fungsi Hutan Melalui Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan

Ibu Atiek menyampaikan ada banyak cara maupun solusi yang dapat kita lakukan untuk mencegahnya agar tidak berdampak semakin buruk. Solusi itu sendiri dapat melalui kolaborasi beberapa pihak seperti Pemerintah, Civil Society Organisations dan Sektor Swasta. Pembangunan Koridor Ekologi yang dilakukan diKetapang Kalimantan Barat adalah contoh konkritnya. Tropenbos Indonesia melakukan rehabilitasi lahan/restorasi hutan, penanaman pohon untuk membentuk ‘koridor’ kolaborasi melibatkan berbagai pihak termasuk perusahaan kelapa sawit di wilayah tersebut.

Masyarakat juga bisa mendukung program ini misalnya dengan tidak melakukan penebangan pohon di hutan dengan serampangan dan tidak mengubah fungsi lahan tadah hujan menjadi lahan perkebunan termasuk DAS (Daerah Aliran Sungai). Penggunaan hasil hutan seperti rotan, madu dan hasil rempah dan bumbu yang didapat di hutan sangat dianjurkan.

Pemanfaatan Jasa ekosistem

Pemanfaatan jasa ekosistem juga baik seperti penggunaan mata air untuk dijadikan air mineral dengan harapan, merek lokal dikonsumsi orang lokal. Daerah wisata Riam merasap di Taman Nasional Gunung Palung yang dimanfaatkan menjadi aset wisata termasuk kegiatan wisata seperti arung jeram.

Ibu Atiek menambahkan, masyarakat juga harus mendukung ekonomi masyarakat tepi hutan dengan cara membeli hasil olah kerajinan dari hasil hutan. Dari sisi industri, kita juga harus mendukung penggunaan produk kayu berkelanjutan yang memang dikelola oleh perusahaan yang taat aturan seperti tebang pilih dan mendukung proyek reboisasi

Hutan dan lanskap sekitarnya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kerusakan hutan tentu akan memberikan dampak bagi masyarakat luas. Memang isu kehilangan hutan menjadi isu sektoral yang sering didengungkan untuk itu perlu kerjasama semua pihak untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai solusi pemulihan. Semua pihak  termasuk masyarakat dapat memberikan Kontribusi terhadap perbaikan dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan dapat ‘langsung’ ataupun ‘tidak langsung’ karena pada akhirnya masyarakat juga yang merasakan manfaat terjaga nya hutan/adanya hutan yang lestari

Kembalikan Fungsi Hutan dengan Pemberdayaan Masyarakat

Materi ketiga disampaikan oleh Pak Dito Cahya Renaldi dari DMPA (Desa Makmur Peduli Api) yang merupakan program masyarakat desa yang diinisiasi oleh APP Sinarmas. Pelaksanaan program ini diinisiasi untuk masyarakat yang memang menginginkan perubahan besar dan memang kesadaran itu didapat dari masyarakat sendiri. Perubahan yang diberikan sesuai dengan kondisi masyarakat.

Petani unggulan DMPA

Untuk Kalimantan Barat ada beberapa program yang dilakukan DMPA, antara lain budidaya madu kelulut sebanyak 150 unit, Budidaya Kopi 3 hektar di Desa Sumber Agung, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Hari ini kami juga sangat beruntung karena dapat merasakan langsung madu kelulut dan kopi dari DMPA ini.

Percontohan DMPA terintegrasi

Pak Dito menambahkan bahwa program ini membuat masyarakat memiliki usaha produktif, memiliki kelembagaan yang terorganisir dengan baik serta memiliki jaringan pasar yang cukup luas sehingga mampu membiayai tim pemadam desa. Dengan adanya kegiatan DMPA, diharapkan masyarakat
1. Dapat meningkat pendapatannya, minimal 68% dari target.
2. Meningkatkan keragaman mata pencaharian dan membuka lapangan pekerjaan.
3. Meningkatkan pemahaman terhadap budidaya sekaligus mengurangi kejadian kebakaran
4. Meningkatkan persepsi dan hubungan yang baik antara masyarakat dan industri.
5. Opsi penyelesaian sengketa lahan antara masyarakat dan industri.
Terimakasih sudah mengisi goodie bag peserta dengan kopi dan madu kelulut hasil DMPA (Desa Makmur Peduli Api). Mari dukung pangan lokal

Ayo Konsumsi Pangan Lokal dan Dukung Pemanfaatan Hasil Hutan!
Ini adalah pesan Ibu Amanda Katili Niode yang menggantikan paparan Ibu Murni Titi Resdiana. dengan menikmati makanan lokal kita mengurangi emisi gas yang dikeluarkan. Makanan lokal banyak, enak dan beragam dan tentu juga sehat. Makanan lokal ini bisa didapat dengan mudah dihutan dan bisa dinikmati dengan berbagai bumbu dan bermacam cara masak. Ini dibuktikan juga dengan mampirnya Ibu Amanda mencicipi semua menu lokal di sebuah restoran yang menghadirkan menu khas Kalimantan Barat.

Contoh pangan lokal, Abon lele dan sirup asam maram
Contoh pangan lokal, sirup belimbing wuluh
Contoh pangan lokal, kue semprong

Selain itu juga penanaman pohon untuk industri kreatif juga menjadi pokok bahasan kali ini, Dimana pohon menjadi sumber serat, pewarna alam, bahan kuliner, sumber furniture, sumber barang dekorasi hingga minyak atsiri. Selain itu hasil hutan lain yang juga bisa difungsikan untuk fashion dan kerjainan tangan, contohnya Rotan. Daun jati pun bisa diproses lebih lanjut menjadi pewarna dan pembungkus makanan, termasuk kayu secang yang bisa juga dijadikan pewarna dan di Pontianak dijadikan bahan minuman serbat. Ada lagi Indigofera, yang bisa menghasilkan warna  biru dan dijadikan makanan ternak serta akar mengkudu yang mampu menhasilkan warna merah dan digunakan untuk pewarna kain.

Pohon lain yang tidak bisa dianggap enteng dan kaya manfaat adalah kelapa yang dapat menghasilkan gula, buah, sabut dan kayu. Nipah yang mampu menghasilkan nira sebagai sumber gula dan bioethanol serta dapat dimanfaatkan buah, daun untuk kerajinan.

Sumber energi terbarukan juga dapat dihasilkan dari pohon contohnya Kaliandra merah. Sumber serat alam dari serat Eucaliptus dan serat daun nanas untuk tekstil. Serat bambu dan pelepah pisang. Sedangkan sumber minyak atsiri dari akar wangi, aneka daun seperti nilan, cengkeh, sereh dan masih banyak lagi. Aneka  bunga seperti kenanga, ylang ylang, melati dan banyak lagi. Kulit kayu antara lain : akasia, lawing, cendana dan lainnya. Penghasil minyak atsiri lainnya dari ranting cemara gimbul dan kipas. Dari buah-buahan seperti jeruk, kemukus, Anis dan lainnya serta rimpang seperti jahe, kunyit, baboan dan masih banyak lagi yang lain

Hasil dari Hutan Kalimantan Barat
Berbagai hasil hutan juga dipamerkan di acara Forest Talk With Blogger
Kerajinan Tenun, Bambu, Rotan dan Kuliner

Kain Tenun ikat dari Sintang

Kain yang ditenun menggunakan pewarna alami juga dipamerkan, termasuk alat serokan ikan dari rotan serta centong yang terbuat dari bambu juga dipajang. Sirup asam Maram (sejenis buah salak yang tumbuh di rawa) juga dipamerkan. Sirup bercitarasa asam manis dan berwarna merah ini menggoda dan membuat air liur saya menjadi lebih banyak.

Sirup Asam Maram

Apalagi ada sirup belimbing wuluh dan abon lele yang siap di santap. Semua olahan ini berasal dari hutan.

  • Buah Tengkawang dan Mentega Tengkawang

Beberapa produk unggulan tersebut ada Buah Tengkawang, Buah yang berasal dari Kalimantan Barat ini banyak tumbuh di kawasan hutan kalimantan, buah ini bersama hewan Rangkong (Burung Enggang Gading) pernah dijadikan  lambang Provinsi Kalimantan Barat.

Tengkawang, Hasil Hutan Kalimantan Barat

Harga lemak dan mentega tengkawang ini cukup tinggi dipasaran internasional dan menjadi komoditi yang cukup dicari dari hutan kalimantan. Mentega Tengkawang dikenal sebagai Illipe Nut atau Borneo Tallow Nut.

  • Kain Lokal dengan Pewarna Alami

Beberapa kain lembut dengan pewarna alami juga ditampilkan.

Kain lokal dengan pewarna alami

Kain ini dapat digunakan untuk berbagai suasana dan ramah lingkungan

Ayo Nikmati Makanan Lokal
Mengangkat pemanfaatan hasil hutan maka dilakukan demo masak dengan menggunakan bahan baku Madu dan Jamur yang banyak didapat di hutan Kalimantan.

Chef Sumangun WIjaya Djong

Di pandu oleh Chef Sumangun WIjaya Djong dari Ibis Hotel Pontianak.

Ayam Bakar Madu By Chef Sumangun WIjaya Djong

Menggunakan ayam yang dibakar dan kemudian dimasak dengan madu menghasilkan ayam lezat. Rasanya yang gurih dipadu dengan manisnya madu yang mengkaramel membungkus ayam. Makanan ini juga disajikan dengan tumisan pokchoy yang dicampur dengan jamur kuping yang banyak tumbuh di hutan

Ucapan Terima Kasih!
Bangga bisa menjadi bagian dari Forest Talk With Blogger Pontianak “Menuju Pengelolaan Hutan Lestari”
Pemateri
⦁ Dr. Amanda Katili Niode (The Climate Reality Indonesia)
⦁ Dr. Atiek Widayati (Yayasan Tropenbos Indonesia)
⦁ Dito Renaldi (Desa Makmur Peduli Api Kalimantan Barat)
Moderator :
Amril Taufik Gobel
Teman Teman Blogger
Blogger Pontianak dan Mbak Katerina

terima kasih narasumber dan moderator

Terima kasih sudah sudi mampir ke Pontianak dan membuka pemahaman bagi saya bahwa melestarikan hutan sangat penting. Saya sebagai blogger dan Influencer bisa ikut serta lewat kampanye di sosial media dan tulisan di blog. Langkah kecil demi masa depan.

Hello from Blogger Pontianak

Yayasan Doktor Sjahrir dan Climate Reality Indonesia
Yayasan Doktor Sjahrir adalah Organisasi Nirlaba yang dibentuk untuk meneruskan misi sosial almarhum Dr Sjahrir. Lembaga bergerak lintas sektor, termasuk bidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.

  • email sekretariat@yayasandoktorsjahrir.id
  • Twitter (@YSjahrir)
  • Instagram(@yayasandoktorsjahrir)
  • Website Lestari Hutan (http://lestarihutan.id/ ) dan (http://yayasandoktorsjahrir.id)
  • Alamat Jalan Sukabumi No. 15, Menteng, Jakarta

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *