Lestari Hutanku, Sebuah Kisah Tentang Aku dan Hutan

Posted by

Oleh Almawahdie

AKU DAN HUTAN

Hutan. Sebuah kata yang tak asing kudengar. Sejak aku kecil hingga sekarang. Kebetulan ayahku adalah seorang yang berkecimpung tentang itu. Saat aku kecil, kuingat betul bahwa masyarakat desa sering berkunjung ke rumah kami. Di teras rumah yang tak terlalu lebar itu mereka duduk berkumpul membicarakan hal yang aku tak terlalu paham kala itu. 
Dari merekalah aku tahu bahwa ayahku adalah seorang PPL. Begitu mereka menyebutnya. Walaupun aku tak tahu artinya. 

“Betul ini rumah Pak Al yang PPL itu?” tanya salah satunya yang baru pertama kali berkunjung ke rumah kami. 
Oh, ayahku adalah seorang PPL. Berteman dengan banyak orang, sering mengajarkan cara-cara menanam, membagikan berbagai bibit. Itulah yang kutahu tentangnya. 
Kemudian kenapa hutan menjadi akrab denganku? Konon ibu bercerita. Saat aku kecil, aku menangis ingin ikut ayah kerja. Saat itu aku tak tahu kalau ayah pergi bekerja artinya pergi ke hutan atau melihat kebun warga. 
Hari itu jadwalnya adalah masuk hutan. Kau merengek ingin ikut. Akhirnya, ibu membekali ayahku sebuah tas yang berisi cemilan serta beberapa botol susu sebagai sangu. Sebuah tindakan berjaga mana tahu aku lapar saat di hutan. 

Katanya, kami pulang kemalaman. Hari itu hujan deras dan aku bersembunyi di belakang ayah tertutup mantel hujan model ponconya. Katanya juga, sejak saat itu aku sudah tak merengek ingin ikut lagi saat ayah pamit berangkat kerja. 
“Di rumah bae. Jauh masuk ke hutan. Gelap.” kataku ketika ditawari ayah ikut kerja lagi. 

PUISI TENTANG HUTAN

Entah kapan tepatnya sebuah puisi karangan ayah ini dibuat. Memori yang masih tersimpan yaitu aku yang masih sekolah TK sering kali membacakan puisi ini. Pernah saat lomba atau ketika bu guru meminta kami tampil di depan kelas. 
Pada saat keluarga besar berkumpul di rumah nenek, biasanya saat lebaran, anak-anak diminta untuk menampilkan sesuatu. Baik itu nyanyian, tarian/joget, pokoknya apapun. Semacam ajang unjuk bakat antar sepupu. Setelah menampilkan kemampuan masing-masing, para nenek, tante, om, dan uwak biasanya memberi uang jajan atau makanan ringan. Semacam amplop THR anak jaman sekarang.

Tak usah ditanya apa yang kutampilkan. Tentu puisi karya ayah ini yang selalu jadi oncak
Baru ketika beranjak SMA aku mulai paham betul apa dan siapa ayahku. Ia yang mengawali karirnya sebagai Penyuluh Kehutanan atau biasa dipanggil masyarakat setempat PPL, kemudian adalah Patriot Rimba bagiku. 
Banggaku ketika pulang kampung di perbukitan wilayah Semendo. Seseorang menceritakan tentang ayah semasa muda. Melihat hijaunya bukit di sana membuatku senang. Puisi itu adalah cerita tentang pekerjaan yang dicintainya. Mulai saatku jiwaku bergelora ingin ikut melestarikan hutan.

FOREST TALK WITH BLOGGER PALEMBANG 

Sebuah notifikasi dari ponselku membuat mata berbinar saat itu. Ada sebuah acara bertajuk hutan. Kubaca bahwa acara itu bertemakan “Menuju Pengelolaan Hutan Lestari”. 

Waaaah… Pas!!! 
Dengan cepat akupun mendaftarkan diri. Kemudian berharap menjadi salah satu yang mendapat undangannya. Aku penasaran apa saja yang akan dibahas sepanjang acara. Hingga akhirnya undangan yang kutunggu sudah tersenyum dalam emailku. Kubalas senyumnya lebar-lebar. 
Hari Sabtu, 23 Maret yang lalu akupun berangkat pagi-pagi ke Palembang. Jaraknya hanya 2 jam saja dari rumah ibuku di Karang Endah. Sudah kusiapkan dari minggu sebelumnya sejak undangan diterima. Ketika ijin sudah di tangan, aku pun berangkat. 

Sejak Jum’at aku sudah sampai di Karang Endah bersama anakku. Pagi-pagi kami berangkat dari Muara Enim. Sudah janjian dengan ibu untuk menitipkan Faraz pada hari Sabtu. Aku semangat berangkat karena acara ini memang sangat dinanti. Bersama adik dan ayah kami menuju lokasi acara, Kuto Besak Theater Palembang. 

Faraz dan Mama otw Karang Endah

Semacam mendapat hadiah besar rasanya ketika kuterima undangan untuk hadir ke acara itu. Betapa tidak, rasanya aku mungkin bisa mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di hati tentang usaha konkret pelestarian hutan itu. 
Tunggu sebentar, aku ceritakan sebuah rencana gila yang pernah kubuat. Inginku melestarikan hutan, kemudian kumulai sendiri. Hingga akhirnya tak jadi-jadi. 

RENCANA GILA

Tamat kuliah tahun 2012 dulu, aku sempat memikirkan sebuah rencana ‘gila’. Aku ingin menanam pohon sepanjang jalan dari Karang Endah ke Palembang. Pikirku, aku bisa berhenti di beberapa titik dengan jarak tanam yang sidah kutentukan, lalu membuat lubang tanam, dan voila!!! Tertaman satu pohon. 
Bahkan aku sudah mencorat-coretkan rencana gila itu di buku. Lalu kemudian agak buyar ketika kusampaikan pada orang dewasa lainnya. 

Katanya: memang itu tanah siapa? Maukah empunya tanah ditanami? Nanti kalau malah mengganggu jalan gimana? Mana tau jalan akan dilebarkan lagi suatu hari nanti.

Ha Ha Ha. Memang gelora muda itu cuma modal mau. Akhirnya, pelan-pelan kumundurkan target setelah mendengar masukan dari ayah: Ajak orang lain. Buat komunitas dulu misalnya. 
Akhirnya lahir sebuah Fan Page Facebook yang kuprakasai: Keep Green Sumateraku. 

FP Komunitas yang kubuat dulu

Kalau diingat-ingat, saat itu aku nekat karena musibah kabut asap parah. Sekarang halaman di facebook ini vakum. Tak tahu harus kuapakan. Hingga akhirnya aku punya beberapa ide lanjutan untuknya setelah hadir ke Forest talk. 

UPAYA MUDAH MELESTARIKAN HUTAN 

Dari bincang tentang hutan tanggal 23 lalu itulah aku medapat banyak jawaban. Baru kutahu ada sebuah yayasan yang peduli perihal itu. Bahkan memiliki banyak koneksi dengan pihak lain dalam upaya pelestarian hutan ini. 
Sebut saja Yayasan Doktor Sjahrir. Ada Ibu Amanda Katili yang kemudian menceritakan bahwa hutan kita di Indonesia ini tengah sekarat. Sedih rasa hati mendengarnya. Berbagai fakta disampaikan dan aku melongo duduk di depan. 

Acara Forest Talk ini dipandu oleh Kang Amril Taufik Gobel. Urutan pembicaranya dimulai dengan Ibu Dr. Amanda Katili Niode selaku Manager Climate Reality Indonesia, lalu Ibu Dr. Atiek Widayati, dari Tropenbos Indonesia, ada juga Ibu Ir.Murni Titi Resdiana,MBA dari Kantor Utusan Khusus Presiden bidang  Pengendalian Perubahan Iklim, dan Bapak Janudianto dari APP Sinarmas.

Narasumber dan Moderator Acara

Ketika Ibu Atiek mulai menyampaikan paparan tentang keadaan hutan, serta memberikan data hasil penelitian terkait, aku sedih. Apalagi bagian koridor hutan di Kalimantan. Tentang habitat Orangutan yang rusak. Rasanya benar-benar terbayang kasihannya para Orangutan itu. Selama ini hanya dengar dan lihat dari infografis saja. Betul ada rasa kasihan dan sedih juga namun makin tersentuh ketika ada sesorang yang memang meneliti di sana kemudian menceritakannya. Seperti membayangkan aku ada di sana. 
Tapi, Bu Atiek menghibur sekaligus mengobati hati yang sedih ini dengan sebuah kalimat penuh semangat: Fokus kita adalah mencari solusi atas duka tersebut! 💪 

Mengenai keadaan hutan belantara yang memang semakin sedikit luasnya, kita tak bisa berbuat banyak. Rimba itu adalah bentukan dari berpuluh bahkan beratus tahun sehingga jelas tak mudah untuk mengembalikannya. 
Jangan marah ketika kemudian cadangan oksigen kita berkurang drastis ditengah jumlah manusia yang terus bertambah. Miris kan??? 
Lalu, apa yang bisa kita perbuat??? 

  • Mulai dari diri sendiri. Bisa mulai menanam pohon di sekitar. Memang tak akan menutup jumlah cadangan oksigen dari belantara, tapi lebih baik daripada dibiarkan menyemak saja. 
  • Mulai ambil/manfaatkan hasil hutan non kayu. Jelas kita butuh waktu untuk membesarkan sebatang pohon. Jadi, jangan ringan tangan menebangnya. Sudah ada HTI (Hutan Tanaman Industri). Jangan ditambahi dengan penebangan liar. 
  • Pakailah produk yang ramah lingkungan  Agar ekosistem tak cepat rusak. 
  • Kurang-kurangi sampah non-organik. Pakai kantung belanja dari kain misalnya, pakai sedotan stainless atau langsung minum dari gelas saja. 

Lihat, kita bisa melakukannya di rumah kan? Melestarikan hutan bukan hanya menyoal tanam pohon. Walaupun memang jika setiap orang menanam satu pohon tentu akan jadi lebih baik. 

HASIL HUTAN DAN EKONOMI KREATIF

Selanjutnya Ibu Titi bergantian menyampaikan tentang alternatif hasil hutan yang bisa dimanfaatkan.

Saat semua orang mulai mengincar produk kayu, Bu Titi membuat kami terpesona dengan alternatifnya. Dalam paparannya, ada beragam produk hasil hutan non-kayu yang nampaknya bisa diproduksi masal sebagai pengganti kayu itu.
Salah satu yang membekas di hatiku ketika beliau menyampaikan sebuah inovasi dari kelapa. Kulihat semacam papan yang katanya terbuat dari serbuk kayu kelapa yand di-pressed. Aku membayangkan sejenis multiplex nampaknya. Hmmm… Oke juga kan? 
Lalu, sabut kelapa. Jaman aku kecil masih sempat merasakan penggunaan sabut kelapa untuk jadi penggosok piring. Nah, dalam presentasi Bu Titi dari kelapa itu juga dibuat sabut namun dengan bentukan spons ala Scott bright. Jadi, sudah berbentuk modern. 
Ada juga gambar baju yang terbuat dari serat nanas. Hebat toh? Jika memang kemudian bahan-bahan alternatif ini membudaya marak digunakan mungkin kita bisa membuat hutan kembali rimba. Begitu bayanganku. 
Ah, seandainyaaa… 

Terakhir adalah cerita dari Pak Janu tentang program yang diusung oleh APP Sinarmas. Namanya DMPA (Desa Makmur Peduli Api).
Ingat pemantik rencana gilaku dulu? Asap. Gara-garanya ya api dari kebakaran hutan dan lahan itu. Ternyata penyebabnya bukan karena kekeringan semata. Lebih banyak disebabkan oleh ‘kecelakaan’ sengaja tak sengaja.

Kenapa kubilang sengaja-tak-sengaja? Karena budaya masyarakat yang membuka lahan untuk ditanami dengan metode bakar. Niatnya mungkin ya untuk bercocok tanam kelak. Dipilih lah musim kemarau agar proses bakar mudah, lalu karena kirangnya edukasi tak sengajalah jadi kebakaran. 
Nah, program DMPA ini mengedukasi masyarakat terkait hal bakar-membakar itu. Bahwa baiknya tidak melalui metode bakar melainkan tebas saja. Juga mendukung masyarakat desanya agar maju hasil pertaniannya dengan memberika pelatihan-pelatihan bernarasumber handal. 
Tak cuma itu, disepanjang acara ini juga ada pojok-pojok meja yang memamerkan barang-barang industri kreatif memanfaatkan dan mengombinasikan hasil hutan non-kayu. Ada juga pojok yang menampilkan hasil olahan limbah kayu. 

Mellin Gallery Palembang
Eco-Print dari Galeri Wong Kito 
Abon lele, Bubuk Jahe, Jagung dna Beras Organik (Binaan APP Sinarmas) 

Dengan melirik pada potensi hutan selain kayu ini, kita bisa melihat ragam alternatif yang tak kalah bagusnya. Lihat! Melestarikan hutan bisa dimulai kapan saja ternyata. 
Dengan melakukan hal-hal yang seringkali dianggap sepele itu ternyata memberi dampak hebat pada alam, khususnya ketersediaan hutan. 

Kemudian aku tahu, halaman Facebook yang kubuat dulu bisa dipakai untuk menyuarakan pesan-pesan ini. Mungkin aku tak harus menanami sepanjang jalan, melainkan melalui tulisanku akan kuketuk perlahan rasa peduli alam itu. 
Lestarilah hutanku! 
Terima kasih telah membuka wawasanku kembali melalui Forest Talk ini. 

***Bae: saja (bahasa Palembang)Oncak: yang dijagokan