Lestari Hutan Masa Depan di Tangan Millenial

Posted by

Oleh Amir Mahmuda

Hutan. Salah satu kata yang jarang terdengar ditelinga saya. Saya hanya mengetahui bahwa hutan hanyalah kumpulan pohon-pohon tinggi yang terletak ditempat yang jauh, sepi dan tertinggal. Maklum saja, di jaman millenial sekarang saya lebih concern ke gawai, game dan teknologi. Hal ini mungkin dirasakan juga oleh kaum millenial lain yang lebih mementingkan perkembangan teknologi dibanding dengan hal-hal yang berbau hutan. Sebagai contoh saja, jika kita melihat siaran di platform YouTube, video dengan kategori gawai dan game lebih diminati dibandingkan dengan informasi yang berkaitan dengan alam. Menyedihkan bukan?

Pada Sabtu, 23 Maret 2019, saya berkesempatan hadir di Acara Forrest Talk With Blogger – Palembang yang diadakan oleh Yayasan Doktor Sjahrir. Acara yang diselenggarakan di Benteng Kuto Besak Restaurant ini saya ikuti dengan perasaan senang karena merupakan hal yang baru dan pasti akan mendapat ilmu baru mengenai lingkungan yang sudah jauh dari pikiran saya.

Registrasi Peserta
Registrasi Peserta

Saya datang tepat pukul 09.00 di lokasi acara. Pada saat registrasi, saya mendapat souvenir tas yang berbahan dasar kain dan langsung masuk ke dalam ruangan tempat acara berlangsung. Di dalam sudah ramai blogger yang asyik mengobrol satu sama lain dan ada pula yang menghampiri booth yang memanfaatkan hasil hutan di dalam ruangan. Keren. Satu kata yang terlontar dari mulut saya ketika melihat suasana dalam ruangan acara ini. Suasananya cozy dan sangat cocok untuk acara yang bertema tentang lingkungan ini.

MC, Amril Gobel, dan para narasumber Forrest Talk With Blogger-Palembang

Acara ini dibuka oleh Bang Amril Taufik Gobel, yang juga seorang kompasianer. Disela pembukaannya, Bang Amril berkata bahwa sudah cukup lama beliau tidak datang ke Palembang. Hal ini cukup membuat beliau kangen dan bernostalgia mengenai hal-hal yang pernah dilakukannya di Palembang.

Bang Amril memperkenalkan narasumber dalam acara ini, yaitu: (berurutan dari sebelah kiri pada gambar di atas)

1. Ir. Murni Titi Resdiana, MBA. Mbak Titi ini merupakan Asisten Utusan Khusus Presiden di Bidang Perubahan Iklim.

2. Dr. Amanda Katili Niode. Ibu Amanda sekarang menjabat sebagai Manager Climate Reality Indonesia

3. Dr. Atiek Widayati, dari Tropenbos Indonesia

4. Janudianto, yang menjabat sebagai Head of Social Impact and Community Development Asia Pulp and Paper Sinar Mas.

Pemaparan Bu Amanda

Pemaparan pertama disajikan oleh Ibu Amanda. Ulasan yang diberikan kepada peserta sangat terngiang di kepala. Hal yang saya ingat sampai sekarang adalah perkataan bahwa hutan yang lambat laun akan habis tergerus kerusakan hanya akan menjadi dongeng jika tak dilestarikan dari sekarang. Tentu saja hal ini membuka pola pikir saya yang tadinya hanya tertuju pada teknologi tanpa mengacuhkan pentingnya pelestarian hutan. Dari sinilah saya belajar, saya, atau bahkan kita, sebagai milenial harus berperan aktif dalam pelestarian hutan. Bisa dimulai dari langkah kecil, misalnya saja tidak boros dalam penggunaan kertas.

Bu Atiek sedang Memaparkan kerugian akibat kebakaran hutan
Bu Atiek sedang Memaparkan kerugian akibat kebakaran hutan

Tak hanya itu, pikiran saya makin terbuka ketika Bu Atiek, pemapar selanjutnya, memaparkan bahwa sudah lebih dari 2,6 juta hektar hutan terbakar. Jangan ditanya lagi tentang kerugiannya, sudah pasti sangat besar. Bu Atiek menjelaskan, kerugian materinya saja adalah 1,2 miliar Ton CO2 equivalent menjadi emisi dan disisi materi mencapai USD 1.3 Juta. Jika ini dibiarkan terus-menerus tentu saja kerugian akan semakin tinggi. Satu hal yang ada dipikiran saya pada saat pemaparan ini, harus ada perubahan pada diri generasi milenial. Kita tidak bisa hanya menunggu datangnya bencana, tapi harus memberikan langkah kongkret untuk pencegahan masalah yang lebih luas. Jika tidak bisa turun tangan langsung, kita bisa mengajak orang lain untuk lebih sadar lingkungan dengan memberikan informasi seperti didalam blog ini misalnya.

Saya semakin bersemangat untuk mendengar lebih banyak informasi mengenai pelestarian hutan. Satu hal yang saya catat dari ucapan Bu Atiek adalah kesadaran hutan tak hanya untuk pribadi. Perlu kerjasama dan kesadaran tiap elemen masyarakat untuk pelestarian hutan. Sebagai masyarakat awam, tentu saja kita bisa mendukung program pemerintah untuk pelestarian hutan meskipun tidak secara langsung.

Mbak Titi sedang memaparkan ekonomi kreatif
Mbak Titi sedang memaparkan ekonomi kreatif

Setelah terpacu untuk pelestarian hutan, saya dan peserta blogger lain diajak untuk mengetahui hubungan antara pohon dan ekonomi kreatif. Jujur saja, saya sempat bingung untuk menyambungkan antara pohon dan ekonomi kreatif. Di pikiran saya, pohon ya hanya pohon, dikreasikan paling hanya jadi kayu bahan bangunan. Akan tetapi setelah adanya pemaparan dari Mbak Titi, sekali lagi pikiran saya terbuka. Pohon dimaksud adalah semua hasil hutan yang dapat dijadikan bahan kreasi dan dapat dijadikan pertumbuhan ekonomi. Asasnya adalah ketika berbicara tentang pembangunan berkelanjutan harus juga memerhatikan pertumbuhan ekonomi.

Slide Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Slide Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Hal yang menarik adalah selain menanam pohon dapat melestarikan hutan ternyata juga bisa digunakan untuk menjadi eco-product. Pertumbuhan ekonomi bisa dihasilkan dari pemanfaatan hasil hutan yang dapat dijadikan sebagai eco-product dari desa. Eco-product ini kemudian akan dimasukan ke dalam marketplace seperti bukalapak dan shopee, dengan harapan dapat meningkatkan pemasukan ekonomi desa. Contohnya adalah topi dan tas seperti gambar dibawah ini:

Eco-product dari rotan
Eco-product dari rotan

Tentu saja banyak barang lain yang bisa diolah dari hasil hutan. Misalnya saja pohon kelapa yang dari atas hingga bawah bisa dimanfaatkan untuk eco-product dan hal yang lebih membuka mata saya tentang eco-product ini adalah pemanfaatan Kaliandra Merah untuk alternatif energi terbarukan. Bahkan, nilai kalor yang dihasilkan setara dengan batubara dan lebih ramah lingkungan.

Dari sini saya menyadari bahwa setiap hal yang ada didalam hutan itu bernilai. Kita tidak boleh abai tentang manfaat yang ada didalamnya.

Semakin seru, pemaparan dilanjutkan oleh Mas Janudianto. Pemaparan yang diberikan lebih fokus terhadap Corporate Social Responsibility (CSR) oleh salah satu perusahan swasta terbesar, Asia Pulp and Paper Sinar Mas. Kontribusi APP Sinar Mas untuk iklim global meliputi:

1. Perlindungan hutan alami (protecting natural forrest)

2. Manajemen lahan gambut (peatland management)

3. Komitmen Sosial (social commitments)

4. Global Supply Chain

Salah satu kontribusi terbesar yang dilakukan APP Sinar Mas untuk lingkunhan adalah pembentukan desa makmur peduli api (DMPA). Dasar pemikiran pembuatan DMPA adalah banyaknya ketidaktahuan warga disekitar hutan tentang pentingnya menjaga hutan dan bahayanya pembakaran hutan untuk membuka lahan baru. Serta banyaknya pembakaran hutan liar yang sangat merugikan. Maka dari itu, dibentuklah DMPA, yang juga termasuk dalam bagian empat (4) pilar Integrated Fire Management. Saya juga pernah menulis mengenai 4 pilar ini disini. Tak tanggung-tanggung, APP Sinar Mas menggelontorkan dana hingga USD 10 Juta untuk 500 desa dalam waktu lima tahun. Angka yang fantastis.

Mas Janu sedang memaparkan Petani DMPA unggulan
Mas Janu sedang memaparkan Petani DMPA unggulan

Ada beberapa dampak nyata dari program DMPA ini, yaitu meningkatkan pendapatan daerah, meningkatkan ragam mata pencaharian, mengurangi kejadian kebakaran, hubungan baik antara masyarakat dan industri, dan penyelesaian sengketa. Tentu saja hal ini sangat menguntungkan banyak pihak, baik untuk perusahaan yang memerlukan pohon sebagai bahan baku, masyarakat yang menjadi sejahtera dan pemerintah dalam pencegahan kebakaran hutan.

Empat materi yang dipaparkan sangat menarik dan membuka wawasan saya mengenai lestari hutan. Hutan tak hanya sekedar hutan yang gelap dan dingin, tapi banyak hal yang bisa digali untuk dilestarikan, diawasi, dimanfaatkan dan dijaga. Saya sangat berteima kasih kepada pihak penyelenggara, Yayasan Doktor Sjahrir, atas terselenggaranya acara Forrest Talk with Blogger – Palembang. Sebagai milenial saya tersadarkan bahwa cepat atau lambat, generasi baru lah yang akan bertugas menjaga hutan untuk pelestarian dan pemanfaatannya. Tak hanya itu, masa depan hutan juga berada ditangan kita sendiri. Jangan menunggu hutan habis baru akan beranjak, tapi bergeraklah dimulai dari sekarang. Banyak info yang menarik yang bisa kita baca mengenai lestari hutan di lestarihutan.id. Semoga dapat menambah wawasan untuk kepedulian kita terhadap lestari hutan.

Tambahan

Keseruan diacara ini tidak terbatas pada ilmu pengetahuan yang diberikan. Berikut keseruan yang saya dapatkan di acara ini:

Hasil olahan hutan yang cantik
Hasil Hutan dari DMPA APP Sinar Mas

Ada pula demo eco-print dan masak produk hasil hutan.

Demo Eco-printing dari gallery wong kito
Demo masak produk hasil hutan. Seru!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *