Kontribusi Milenial Dalam Merawat Hutan Lestari

Posted by

Oleh : Nings S. Lumbantoruan


Kontribusi Milenial Dalam Merawat Hutan Lestari
. Pada 20 April lalu saya berkesempatan mengikuti kegiatan ‘Forest Talk With Blogger Pontianak’ yang diinisiasi oleh Yayasan Doktor Sjahrir. Dalam kegiatan tersebut hadir beberapa pemateri seperti seperti Dr. Amanda Katili Niode dan Dr. Atiek Widayati. 
Sebelum menulis kontribusi yang bisa kita berikan untuk merawat hutan, aku akan membagikan beberapa pelajaran yang dipaparkan dari kegiatan di atas, beberapa alasan kenapa kita, sebagai milenials saat ini harus mengambil peran dalam merawat hutan.

Pose Milenials dengan rompi Lestarihuta.id dan botol minuman

Hutan Sebagai ‘Ibu’ dan ‘Rumah’ Hidup

Hutan adalah tanah luas yang ditumbuhi pohon-pohon dewasa dengan tinggi lebih dari 5 meter dengan tutupan kanopi lebih besar dari 30 % . Meski tidak bertiang dan beratap, hutan merupakan rumah bagi ribuan jenis makhluk hidup, baik flora maupun fauna bahkan manusia. Hutan yang terus berkurang keberadaanya berdampak pada kepunahan flora dan fauna yang menjadi kekayaan alam dan juga mengancam kehidupan manusia.
Hutan tidak seperti rumah yang pada umumnya kita miliki. Hutan yang ditebangi ternyata juga menjadi ‘ibu’ bagi alam secara keseluruhan. Ibu yang menyediakan suply oksigen, dan menyerap karbon dioksida sebanyak 200 ton/ ha. Dan pekerjaan ‘menyerap’ ini jika dibandikngkan dengan semak-semak hanya mampu15 ton/ ha. 
Hutan juga merupakan ‘ibu’ yang mencegah kita memasuki iklim ekstrim yang mengakibatkan melelehnya es di kutub utara dan tingginya permukaan laut. Dicatat bahwa tahun 2018 sebanyak 60 juta orang terdampak cuaca ekstrim. Indonesia sendiri mengalami 2481 bencana, 97 % hidrometeorologi, dan tercatat 10 juta orang menderita dan mengungsi akibat bencana yang disebabkan oleh penggundulan hutan. 
Hutan juga adalah ibu yang menjaga kita dari banjir dan longsor. Buktinya? Pada 24 Januari 2019 Kompas mengeluarkan sebuah berita terkait banjir dan longsor di Sulawesi Selatan dan Bapak Gubernur, Nurdin Abdullah menjelaskan bahwa penyebab banjir dan longsor tersebut diakibatkan oleh eksploitasi sumber daya hutan. Masih banyak lagi kita temukan bencana alam banjir dan longsong, yang memang diakibatkan oleh penebangan hutan.

 Hari ini saya bisa mengatakan bahwa tanpa hutan, sebenarnya kita tidak punya masa depan. Akan percuma kita punya tabungan saham, asuransi yang berjuta-juta, aset yang banyak dan harta lainnya. 

Hutan Sebagai Sumber Kreativitas

Ada banyak sekali produk hutan misalnya kopi, madu, tengkawang, furniture dan masih banyak lagi. Dalam kegiatan blogger talk kemaren, Yayasan Doktor Sjahrir mengundang beberapa orang yang menghasilkan produk dari hutan, sepeprti di bawah ini. 

Madu kelulut dan kopi hasil hutan memiliki kualitas yang lebih baik

Pohon banyak digunakan sebagai sumber serat, sumber pewarna alam, bahan kuliner, bahan furniture, dekorasi dan penghasil minyak atsiri yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia. 

Sedikit contoh kerajinan hasil pohon lontar (Pohon lontar biasanya ditemukan di NTT)

Hutan Sebagai Sejarah, Kearifan Lokal, dan Bisnis Masa Depan Pro Lingkungan

Di kampus sering sekali mendengar kata tengkawang karena kerap dijadikan bahan penelitian di laboratorium. Pak Deman, pengusaha Tengkawang yang diundang di acara Forest Talk Pontianak mengatakan sedang ada pembangunan perusahaan Belanda untuk pengelolaan tengkawang.

Produk termahal tengkawang adalah butter dan kosmetik. Butter Tengkawang sangat mudah diproduksi hanya dengan mengukus. Sedangkan produk olahan tengkawang seperti es krim, donat dan makanan lainnya juga bisa dibuat dengan mudah.

Damar yang merupakan getah dari pohon tengkawang sering digunakan masyakarat Kalbar sebagai perekat kapal. Fungsi lain damar adalah bahan parfum, pembuatan dupa, lem, dan manfaat lain.

Tengkawang merupakan pohon hutan serba guna yang banyak tumbuh di Kalimantan Barat

Hutan Kalimantan Barat dalam kepiluannya disimpan juga dalam hati para penyair di Kalbar.  Telah ditulis buku puisi berjudul ‘Bayang-bayang Tengbawang’ yang menceritakan kekayaan hutan Kalbar yang pada akhirnya harus hilang karena kepentingan manusia itu sendiri.

Berbicara tentang hutan adalah berbicara sejarah, kekayaan alam Indonesia, adat istiadat, kearifan lokal dan bisnis yang menjanjikan di masa depan (jika dikeola sebijak mungkin).

Lalu sebagai milenial, apa kontribusi yang dapat saya lakukan untuk ikut melestarikan hutan dan lingkungan? Apakah saya harus turun ke hutan dan meninggalkan kota?

Pertama, Ikut Kampanye Sosial Media

Pada 2018 lalu, We Are Social dan Hootsuite menulis bahwa terdapat 4 miliar orang di dunia yang menggunakan sosial media. Mungkin jumlah tersebut sudah jauh meningkat pada tahun 2019 dan akan terus meningkat, terutama di Indonesia seiring dengan diperluasnya jangkauan internet sampai ke desa-desa. Ayo kita gunakan sosial media yang kita punya untuk menyadarkan lebih banyak orang untuk menjaga hutan dengan cara-cara kreatif ala milenial.
Salah satunya dengan foto outdoor ala hutan di bawah ini. Kita para milenials, apalagi yang suka foto instagramable tentu bisa membayangkan jika tidak ada pohon dan hutan. Tidak akan ada lagi foto preweddingdan pose di hutan yang bisa kita pamerkan di instagram. Bayangkan saja betapa menyedihkannya itu!

foto instagramable ala hutan, kesukaan milenials

Kedua, Mengurangi Penggunaan Tisu dan Plastik

Menjaga hutan dan lingkungan bukan hanya dilakukan dengan kampanye tidak menebang tetapi juga tidak mengotori alam. Dalam acara Forest Talk with Blogger kemaren, para blogger diberikan botol minuman dan mendapatkan goodie bag dengan desain yang menggunakan tinta alami dari daun mengkudu dan dedaunan lainnya. Ini semakin mengingatkan kita untuk belanja tidak menggunakan plastik. 
Saya sendiri sudah menerapkan belanja tanpa plastik sejak lama karena belajar dari ibu yang biasanya membawa keranjang untuk belanja. Di jok motor saya selalu ada beberapa goodie bag untuk menggantikan plastik. Ada beberapa cerita menarik bahwa si pedagang atau kasir tempat saya belanja biasanya heran, tertawa, atau malah merasa bersalah karena saya membawa godie bag sendiri ketika belanja. Mereka merasa tidak melayani dengan baik. Tetapi ada juga toko retail tertentu yang mewajibkan pembeli membayar plastik yang digunakan dari toko itu. 

Goodie bag solusi pengurangan plastik sekali pakai

Kalau dengan tisu, saya memiliki cerita berbeda. Ada banyak rumah makan, kafe dan sejenisnya yang menggunakan tisu untuk lap meja. Seharusnya mereka menggunakan kain biasa yang bisa dicuci. Juga ada banyak teman yang suka menggunakan tisu berlebih bahkan menjadikan tisu sebagai ‘mainan’. Penguraan penggunaan tisu akan mengurangi penebangan hutan yang menjadi bahan baku tisu. 
Saat ini juga gencar alat-alat rumah tangga yang pro lingkungan. Seperti di bawah ini, merupakan alat makan yang terbuat dari bambu. Saya peroleh ketika saya diundang ke ulang tahun PT Sarana Multi Infrastruktur yang bergerak di bawah Kementerian Keuangan. Di sini saya paling ‘excited’ karena mandapatkan pipet bambu yang dilengkapi dengan pembersihnya. 

Seperangkat alat makan dari bambu, hadiah dari PT Sarana Multi Infrastruktur

Ketiga, Mengurangi Konsumsi Minyak Goreng

Mungkin banyak yang tidak setuju dengan ini karena masalah makan adalah masalah selera. Ada orang yang hanya bisa makan dengan lauk-pauk yang digoreng. Selain penebangan hutan untuk produksi kertas dan tisu, pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan lahan hunian, musuh terbesar hutan adalah kelapa sawit, khususnya di Kalimantan Barat. Di antara banyak tumbuhan, sawit adalah tumbuhan yang paling ‘haus’ karena menyerap banyak air yang tidak dia simpan (yang bukan miliknya). Membingungkan?

Ketika turun hujan, akar serabut yang dimiliki oleh kelapa sawit tidak mampu menyerap air hujan ke bawah tanah. Air hujan akan terus mengalir di permukaan tanah dan dibawa ke sungai (beserta semua unsur haranya). Jika air meluap, maka akan menyebabkan banjir ke pemukiman warga. Sebaliknya, tumbuhan akar tunggal mampu menyerap air sampai ke bawah tanah dan menyimpan persediaan air yang akan digunakan pada musim kemarau. Karena itu lah, seluas apapun hutan, tanahnya tidak akan gersang. Tumbuhan tidak akan berebut air dalam tanah.

Sedangkan tanah tempat sawit berdiri sesungguhnya mengalami kekeringan dan kekurangan unsur hara. Saya  belum pernah jalan-jalan ke kebun sawit di Kalbar, tetapi sudah beberapa kali pergi ke Riau dan melihat sendiri kondisi lingkungan yang tidak ‘bergairah’ alias kering kerontang. Tentu saya tidak ingin Kalbar mengalami hal serupa.

Saya tidak anti sawit. Jelas sawit menambah pendapatan negara. Saya juga masih makan makanan yang digoreng. Tetapi ke depannya, akan semakin banyak penduduk bumi. Jika kita tidak kampanye pengurangan konsumsi minyak goreng hari ini, akan lebih banyak lagi hutan yang dilibas untuk menanam kelapa sawit.

 Sebagai gantinya Kalimantan Barat bisa melirik pohon Tengkawang dan meninggalkan sawit.

Oya, mengurangi makanan yang digoreng juga bisa meningkatkan kesehatan loh 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *