Hutanku, Bagaimana Kabarmu?

Posted by

Oleh : Maya Afrilia

Lagi lagi Pekanbaru berasap! Hmm, kelihatannya rencana #Riautanpaasap2019 tidak terlaksana. Kalau kita ingat lagi, Riau sering mengalami kebakaran hutan. Mengapa hal itu terjadi? Adakah yang bisa kita lakukan?
Berbicara tentang hutan, tanggal 20 Juli 2019 saya mendapat kesempatan ikut dalam acara “Forest Talk with Blogger” di Hotel Grand Zuri Pekanbaru. Acara ini sebelumnya telah diadakan di Palembang dan di Pontianak. Beruntungnya saya bisa ikut serta dalam acara yang ditaja oleh Yayasan Doktor Sjahrir ini karena banyak info baru saya dapatkan. Para blogger diharapkan dapat mengingatkan melalui tulisan dan social media. Dengan begitu akan lebih banyak yang membaca dan menyadari pentingnya kepedulian kita terhadap hutan dan perubahan iklim karena manusia yang banyak andil dalam kerusakan ini. 

Bumi kita sekarat
Saya tersadar saat Ibu Amanda Katili Niode mengatakan banyak bencana  terjadi karena kegiatan manusia juga efek tumah kaca yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Penambangan batu bara, kebakaran hutan, peningkatan polusi dari transportasi dan industri serta sampah yang kian banyak.

Ibu Amanda Katili menjelaskan perubahan iklim

Kegiatan manusia penyebab perubahan iklim

Tahukan teman-teman bahwa setiap tahun 1.000.000.000.000 kantong plastik sekali pakai digunakan di seluruh dunia?

Saya pernah bekerja di perusahaan pabrikasi yang jumlah karyawannya lebih dari 1000 orang. Pekerja ini akan berbelanja makanan ringan atau memesan kopi di kantin. Mereka menggunakan bungkus dan gelas plastik sekali pakai.  Di sore hari mereka akan membeli es serta gorengan yang juga menggunakan bungkus dan gelas plastik sekali pakai. Pemakaian sehari saja sudah menggunakan banyak plastik bagaimana dengan penggunaan bulanan hingga tahunan? Itu contohnya saja dari saya.

Kita bisa melihat dan merasakan sendiri efek perubahan iklim seperti suhu global meningkat, permukaan air laut yang semakin tinggi, es di kutub perlahan mencair dan kejadian ekstrem lainnya. Bahkan industri fashion juga menjadi salah satu pencemar terbesar.

Wah, sudah terbayang ya mengapa kita harus menyelamatkan bumi? Caranya?  Kita bisa mulai dari hal kecil misalnya membawa tas canvas kemana mana untuk menaruh belanjaan. Bisa juga dengan pola makan yang mengurangi daging dan menambah buah-buahan dan sayur-sayuran karena dapat menyelamatkan 8 juta hidup manusia pada 2050, menghemat biaya kesehatan & kerusakan iklim US$1,5 triliun.

Pulau sumba sudah mencanangkan di tahun 2025 sudah 100% menggunakan energy yang terbarukan. Dari sector transportasi juga bisa kita lihat sudah mulai ada mobil listrik yang tentunya lebih ramah lingkungan. Semoga Riau juga bisa turut serta dengan mengurangi kebakaran hutan dan lahan. Amiin.

Menuju pengelolaan Hutan Lestari
Bu Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia menjelaskan tentang deforestasi, degradasi serta konversi hutan. Deforestasi adalah perubahan permanen dari areal berhutan menjadi areal tidak berhutan atau tutupan lainnya sebagai akibat dari aktifitas manusia. Degradasi adalah perusakan atau penurunan kualitas hutan (tutupan, biomasa dan/atau aspek lain nya). Contoh konversi hutan adalah mengubah hutan menjadi lahan perkebunan misalnya kebun kelapa sawit atau karet. Konversi hutan kecil misalnya ladang berpindah dan kebun masyarakat.

Ibu Atiek menjelaskan tentang pengelolaan hutan
Data Deforestasi Indonesia

Berkurangnya hutan sama dengan berkurangnya daya serap CO2. Lalu apa upaya mengembalikan ‘fungsi‘ hutan? Bu Atiek memaparkan 2 cara yaitu mengkonversi hutan menjadi lahan perkebunan atau pertanian serta mengembalikan fungsi hutan. Mengembalikan fungsi hutan bisa dilakukan dengan reboisasi, restorasi, agroforestry dan lainnya. Agroforestry adalah pertanian yang diselingi pohon.
Masyarakat umum dapat berkontribusi dengan tidak menebang pohon sembarangan dan menggunakan lahan terbuka untuk kepentingan pertanian atau berladang. Kita juga bisa mendukung  praktek berkelanjutan misalnya kayu dan air minum.
Pohon dan Ekonomi Kreatif
Sebelum acara dimulai saya sempat melihat beberapa kain tenun dipamerkan dengan berbagai motif yang indah. Ada juga beberapa makanan local seperti keripik singkong, keripik tempe , keripik pisang dan masih banyak lagi. Inilah contoh dari materi tentang ekonomi kreatif yang disampaikan oleh Ibu Amanda Katili. Ibu Amanda Katili menggantikan Ibu Murni Titi Resdiana menjelaskan contoh menggunakan hasil hutan dan pohon untuk ekonomi Kreatif.
Kain tenun yang saya sebutkan tadi ternyata menggunakan pewarna alami dari daun jati, secang, indigofera dan akar mengkudu. Pohon kelapa merupakan contoh pohon yang setiap bagiannya dapat bermanfaat mulai dari akar , pohon, daun, lidi, buah bahkan sabut kelapanya. Nipah yang mampu menghasilkan nira sebagai sumber gula dan bioethanol serta dapat dimanfaatkan buah, daun untuk kerajinan.Dibidang tekstil ada serat eucalyptus, serat nanas, serat pelepah pisang juga serat bambu. Ada juga Kaliandra Merah yang berfungsi untuk Renewable Energy.

Kain dengan pewarna alami
Aneka makanan lokal 

Kita bisa mengandalkan budaya seni Indonesia untuk meningkatkan ekonomi kreatif. Saya melihat tren sekarang adalah memakai tas rotan oleh beberapa selebgram dan mulai banyak yang ikut menggunakan tas rotan. Beberapa desain perkakas minimalis berbahan kayu juga salah satu ide kreatif karena tren minimalis mulai menjamur. 
Desa Makmur Peduli Api
Pak Agus Suryono selaku pengelola DMPA PT. PSPI memperkenalkan Desa Makmur Peduli Api (DMPA), sebuah upaya perbaikan dari program pemberdayaan masyarakat sebelumnya. Tujuan utamanya adalah meningkatkan pendapatan masyarakat penerima manfaat dan meningkatakan keikutsertaan pemerintah desa dan masayarakat untuk pengamanan/ pelestarian sumber daya hutan di sekitarnya.
Forest Talk with Bloggers Pekanbaru memiliki keistimewaan sendiri. Kami para blogger dibawa langsung mengikuti Field Trip ke Desa Batu Gajah Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar. Dalam Field Trip ini saya bisa melihat langsung apa yang dijelaskan oleh Bu Atiek sebelumnya. Sungguh menyenangkan rasanya seperti belajar teori dan langsung turun ke lapangan.

Program DMPA di desa Batu Gajah dimulai tahun 2014. Diantaranya program peternakan sapi, pertanian seperti jagung, cabe dan perikanan. Para petani dan nelayan menjelaskan bahwa semua program berjalan dengan baik dan terbukti menambah pendapatan masyarakat. Ternak sapi sendiri dimulai tahun 2016 , awalnya 6 ekor sapi  dan sekarang jadi 18 ekor sapi di tahun 2019. Sistemnya adalah bergilir untuk memelihara sapi. Cabe juga menjadi andalan petani Desa Batu Gajah. Desa Batu Gajah menjadi pemasok cabe terbesar di Tapung. 
Kami para blogger melihat langsung bagaimana usaha kreatif di Desa Batu Gajah. Ada topi untuk kesawah berbahan dasar daun dan digambar dengan tinta dari asap lampu togok, ada keripik tempe dan keripik pisang yang digoreng langsung. Menariknya, keripik ini sudah memiliki pasar tersendiri dan melayani banyak pesanan dari luar daerah. Padahal desa ini jauh didalam kawasan hutan tapi permintaan makanan lokalnya banyak.  Luar biasa!

Keripik olahan ibu-ibu desa Batu Gajah
Melukis dengan tinta lampu togok 

Nah! Setelah ini semoga tulisan saya ini dapat mengajak semakin banyak yang mendukung gerakan pelestarian hutan demi masa depan bumi kita. Untuk yang penasaran dengan artikel terkait pelestarian hutan lainnya bisa mengunjungi link berikut.

Web Lestari Hutan  : lestarihutan.id
Yayasan Doktor Sjahrir 
Twitter : @YSjahrir
Instagram : @yayasandoktorsjahrir
Web  : yayasandoktorsjahrir.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *