Forest Talk With Blogger, Kampanye Lestari Hutan ala Millennials

Posted by

Oleh : I’ib Persada

I’ib PersadaSunday, May 05, 2019Forest Talk With Blogger, Kampanye Lestari Hutan ala Millennials – Pagi itu saya terbangun dalam keadaan bahagia, melihat langit yang biru, udara yang segar, angin sepoi-sepoi, dan mentari yang gagah menyongsong langit. Sepintas terpikir, bumi semakin tua, hutan terus berkurang. Apakah anak cucu kita, generasi penerus bangsa kelak dapat merasakan apa yang kini kita rasakan?


Untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pada hari Sabtu, 20 April 2019 saya bergegas menuju Hotel Ibis di Kota Pontianak karena terdapat kegiatan yang sangat menarik. Kegiatan ini bisa terlaksana karena kerja sama antara Yayasan Doktor Sjahrir dan The Climate Reality Project Indonesia dengan tajuk Forest Talk with Blogger. kegiatan ini diharapkan  dapat menyasar pada kalangan muda terutama kaum millennial.

Yayasan Doktor Sjahrir

Doktor Sjahrir adalah seorang ekonom kondang, seorang penulis produktif, pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden di masa Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau wafat tahun 2008. Meskipun telah wafat, namun berbagai macam sumbangsih dan pemikiran beliau masih terus diangkat. Yayasan Doktor Sjahrir hadir untuk melakukan hal itu. Yayasan ini fokus membahas berbagai isu seputar pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup.


Informasi mengenai Yayasan Doktor Sjahrir:

  1. Twitter  @YSjahrir
  2. Instagram @yayasandoktorsjahrir
  3. Alamat   Jalan Sukabumi No. 15, Menteng, Jakarta
  4. Email sekretariat@yayasandoktorsjahrir.id
  5. Website  lestarihutan.id dan yayasandoktorsjahrir.id

Pemateri dan Moderator yang Luar Biasa

Forest Talk with Blogger diisi oleh pemateri yang berkompeten di bidangnya masing-masing. Diantaranya ada Dr. Amanda Katili Niode dari The Climate Reality Project Indonesia, Dr. Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia, Titok Renaldi dari Asia Pulp and Paper (APP), Murni Titik Resdiana dari Kantor Urusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim, serta seorang moderator yakni Amril Taufik Gobel.

Penyampaian Materi oleh Dr. Atiek Widayati

Satu dari tiga pemateri tersebut tidak dapat hadir yakni Ibu Murni Titik Resdiana, kemudian materinya dipaparkan oleh Ibu Dr. Amanda Katili Niode. Ketiga pemateri yang hadir menyampaikan materi yang berbeda-beda serta menarik. Ibu Dr. Amanda Katili Niode menyampaikan materi tentang Perubahan Iklim dan Solusinya. Kemudian ibu Dr. Atiek Widayati menyampaikan materi tentang Pengelolaan Hutan dan Lanskap yang Berkelanjutan.

Dr. Amanda Katili Niode mewakili The Climate Reality Project Indonesia
Peta Koridor Ekologi, Materi dari Dr. Atiek Widayati

Baca selengkapnya : Mengenal Hutan dari Kegiatan Forest Talk with Blogger
Kemudian, materi Ibu Murni Titik Resdiana yang disampaikan oleh Ibu Amanda tentang Ekonomi Kreatif dari Hasil Hutan. Selanjutnya Bapak Titok menyampaikan materi tentang Desa Makmur Peduli Api.
Setelah selesai menyampaikan materi, Bapak Amril selaku moderator memberikan kesempatan eksekutor untuk memamerkan produknya dan memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengajukan pertanyaan.

Produk Lokal Kebanggaan Bangsa

Kegiatan Forest Talk with Blogger dihadiri oleh beberapa eksekutor yang akan melakukan pameran produk-produk lokal dari hutan yang berkualitas di Kalimantan Barat. Diantaranya ada Bapak Nur Fajriansyah dari Pemerintah Kabupaten Sintang, Ibu Suryani Muhaya dari Muhaya Collection, dan Bapak Demanuri dari INTAN Kalimantan.

Baca selengkapnya : Produk Lokal Berbasis Ekonomi Kreatif dari Hasil Hutan Kalimantan Barat

Pameran Produk Lokal dari Hasil Hutan
Produk dari Mahaya Collection
Mentega dari  Buah Tengkawang

Demo Masak, Bangga dengan Makanan Lokal

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam untuk mendengarkan materi lestari hutan, tentu fokus sudah menurun dan membutuhkan energi tambahan. Kami diarahkan untuk ke ruang makan, namun bukan sekedar datang, makan lalu pulang. Forest Talk with Blogger kali ini terasa spesial dikarenakan ada kegiatan demo masak. Para blogger dan peserta lain yang hadir tumpah ruah di sekeliling meja chef untuk meliput kegiatan upacara masak memasak tersebut melalui akun media sosial mereka, sang juru masak pun mendadak jadi pusat perhatian. 

Demo Masak
Peserta Sangat Antusias

Kegiatan demo masak ini bukan tanpa alasan. Namun juga bertujuan untuk memperkenalkan kepada peserta tentang berbagai sayuran, jamur, bumbu, dan bahan makanan lokal dari hasil hutan yang berkualitas. Sama kualitasnya dengan bahan makanan instan dan makanan mancanegara. 

Nikmatnya Makanan dari Bahan dan Bumbu Lokal hasil Hutan

Ketika demo masak sedang berlangsung, sang juru masak menuangkan Madu Kelulut di atas ayam yang sedang dimasak. Ketika masakan telah matang, saya pun berkesempatan untuk mencicipinya dan rasanya begitu luar biasa, gurih seperti ayam dan manis seperti madu, keduanya berpadu jadi satu.

Apa yang Perlu Kita Lakukan setelah Forest Talk With Blogger berakhir

Biasanya setelah selesai mengikuti suatu kegiatan seminar atau pelatihan. Kita condong untuk melupakan dan kurang aktif dalam mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan baru yang kita terima.
Namun dalam kegiatan Forest Talk with Blogger ini saya melakukan berbagai kegiatan yang dapat mengaplikasikan materi yang sudah diberikan. Bukan hanya untuk saya pribadi, namun juga mengajak semua pembaca blog ini untuk turun tangan mengkampanyekan lestari hutan. Apa lagi kaum millennial yang hidup di era globalisasi memiliki kemampuan untuk menyebarkan berita positif dengan cepat dan efektif.

Generasi Millennial Siap Kampanyekan #lestarihutan

Berikut ini adalah hal-hal sederhana yang telah saya lakukan, mungkin teman-teman semua dapat mencontohnya.

  1. Melakukan Mini Riset
  2. Kampanye dengan membuat 4 Konten Blog di Blogspot
  3. Kampanye dengan membuat 1 Konten Vlog di Youtube
  4. Kampanye melalui berbagai sosial media (Instagram, Twitter, dan Facebook)
  5. Mulai merajut kesadaran dan kebiasaan hidup dengan menjunjung tinggi kelestarian hutan
  6. Mulai menggunakan produk-produk lokal yang bersumber dari hutan

Vlog Perdana! Mini Research After Forest Talk with Blogger

Ibu Amanda sempat menjelaskan bahwa ada riset mengenai persepsi anak muda perkotaan di Indonesia  mengenai kondisi lingkungan hidup khususnya isu-isu tentang hutan.
Hal tersebut menggelitik saya untuk melakukan sebauh mini riset yang didokumentasikan dalam bentuk video blog di Channel Youtube I’ib Persada dan ini merupakan vlog perdana saya.

Baca selengkapnya : Video Blog (Vlog) : Mini Research after Forest Talk with Blogger 

Pulang dari kegiatan Forest Talk with Blogger dan serangkaian mini riset yang telah dilakukan membuat saya sangat lega. Karena telah menjawab pertanyaan saya di awal artikel ini “Apakah anak cucu kita, generasi penerus bangsa kelak dapat merasakan apa yang kini kita rasakan?”.

Ternyata, jawabannya ada pada kemauan kita untuk menjaga dan melestarikan hutan yang telah diwariskan kakek, nenek, dan orang tua kita sejak lama. Maka dari itu, jika tidak sekarang kapan lagi, jika bukan kita siapa lagi. Ada warisan keindahan dan kemanfaatan hutan untuk anak cucu kita, itu semua tergantung dari seberapa masif  kita mengkampanyekan dan menjaga hutan di Indonesia.

Diprediksi pada tahun 2045, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Tentu sebuah keuntungan besar apabila generasi muda ambil bagian dalam pelestarian hutan. Itulah yang sedang diusahakan dalam kegiatan Forest Talk with Blogger ini. Para millennialtampak sangat antusias dalam kegiatan tersebut, bahkan beberapa dari mereka melakukan live streaming di intagram, ada pula yang langsung upload di facebook, youtube, dan instagram, ada pula yang membuat status di twitter dan whatsapp.

Para pemateri, moderator, dan chef demo masak pun mendadak jadi pusat perhatian. Itu adalah salah satu upaya dan kreatifitas anak muda dalam hal mengkampanyekan berbagai macam hal positif dengan cepat dan efektif menggunakan sarana media sosial.

Rompi Lestari Hutan

Mari sama-sama kita bayangkan, jika seorang Atta Halilintar memiliki 14 juta subscriber, kemudian ia membuat sebuah konten youtube tentang lestari hutan maka akan ada 14 juta orang yang mungkin menyaksikan kampanye lestari hutan tersebut. Itu baru satu youtuber, belum ditambah youtuber lainnya.

Maka sebenarnya, kampanye lestari hutan ala millennials merupakan satu langkah yang tepat untuk menjangkau dan menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya melestarikan hutan. Namun tidak hanya sampai disitu, butuh kerjasama dari berbagai pihak seperti korporasi, tokoh agama, negarawan, dan pemerintah untuk sama-sama melestarikan hutan di bumi yang kita cintai ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *