Bumi Tengah Sekarat, Waktunya Aksi Nyata Peduli Hutan dan Lingkungan

Posted by

Oleh Eva Soleha

Moms, pernah terpikir enggak apa yang akan terjadi dengan kehidupan kita jika semua pohon di dunia ini habis? Hii… untuk membayangkannya saja sudah ngeri ya, Moms.

Yups, keberadaan pohon dengan segudang manfaatnya nyatanya memiliki peran vital teramat penting dalam kehidupan manusia. Karena selain sebagai penghasil oksigen, pohon juga berperan sebagai penyimpan air bersih, penyerap karbondioksida juga sebagai pengendali banjir dan bencana alam lainnya.

Peran pohon tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan hutan di Indonesia. Definisi hutan, menurut Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2018, adalah suatu wilayah dengan pohon dewasa lebih tinggi dari 5 meter dan tutupan kanopi lebih besar dari 30 % dengan luasan lebih dari 6,25 ha. Kawasan hutan di Indonesia mengutip laporan State of the Forest Indonesia tahun 2018, meliputi wilayah sebesar 120,6 juta hektar dan dibagi dalam 3 kategori berupa hutan produksi seluas 68,8 juta hektar, hutan konservasi seluas 22,1 juta hektar dan hutan lindung seluas 29,7 hektar.

Hutan dan pohon menjadi satu kesatuan yang mencakup hajat hidup orang banyak juga makhluk hidup lainnya. Perlunya kesadaran akan pentingnya pelestarian hutan serta perubahan iklim yang tengah terjadi mendorong Yayasan Doktor Sjahrir dan The Climate Reality Project Indonesia menggelar acara bertajuk “Forest Talk with Bloggers” pada Sabtu pagi, tepatnya 9 Februari lalu berlokasi di Almond Zucchini Cooking Studio.

Penting untuk diketahui, Yayasan Doktor Sjahrir merupakan organisasi nirlaba yang dibentuk untuk meneruskan warisan DR. Sjahrir (alm) yang bergerak dibidang pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Dalam dua tahun terakhir, yayasan ini telah melaksanakan serangkaian kegiatan peningkatan kapasitas kepada pemuda dan masyarakat akan pentingnya aksi nyata menghadapi perubahan iklim global dan kesadaran pentingnya menjaga kelestarian hutan.

Sementara profil The Climate Reality Project Indonesia adalah yayasan yang konsen terhadap iklim dunia dan merupakan bagian dari The Climate Reality Project yang berbasis di Amerika Serikat dan dipimpin oleh Mantan Wakil Presiden Al Gore dengan lebih dari 300 relawan yang berasal dari berbagai latar belakang profesi.

Diisi oleh beberapa narasumber yang ahli di bidangnya, talkshow bertema peduli lingkungan ini dipandu secara apik oleh Blogger senior, Bapak Amril Taufik Gobel serta membahas beberapa materi dan hal-hal berkaitan perubahan iklim, pengelolaan hutan lestari dan lanskap serta pohon dan hubungannya dengan ekonomi kreatif.

Perubahan Iklim dan Isu Seputar Hutan
Tak bisa dipungkiri lagi, pada saat ini perubahan iklim sedang terjadi. Fenomena cuaca ekstrem kerap terjadi di berbagai belahan dunia. Contohnya seperti musim dingin yang saat ini terjadi di Amerika bagian barat tengah dan timur laut, suhunya mencapai -40 derajat celcius. Sementara di belahan bumi lainnya yaitu Australia, gelombang panas mencapai suhu 50 derajat celcius menyerang Australia bagian tengah dan selatan. Hal ini menyebabkan banyak hewan mati dan memakan korban jiwa puluhan orang.

Bu Amanda menerangkan perubahan iklim yang tengah terjadi (foto:dokpri)

Lebih jauh lagi, DR. Amanda Katili Niode dari The Climate Reality Indonesia menjelaskan perubahan iklim yang terjadi disebabkan oleh kegiatan manusia yang berlebihan dalam hal penggunaan transportasi, proses industri pabrik, penambangan batu bara, industri pertanian dan lain sebagainya menyebabkan bumi menjadi semakin panas yang berakibat pada perubahan iklim yang drastis.

Hal ini tentunya memiliki dampak terutama terhadap perempuan berupa gagal panen, kelangkaan air bersih, kekurangan bahan bakar, bencana alam, wabah penyakit dan penyebab konflik.

Lalu bagaimana aksi nyata kita sebagai masyarakat awam untuk mengatasi hal ini :

  • Mengurangi penggunaan kantong plastik dan beralih menggunakan kantong kain yang bisa dipakai berkali-kali. Setiap tahunnya, sebanyak 1 triliun kantong plastik sekali pakai digunakan di seluruh dunia. Jumlah yang begitu besar dan memprihatinkan mengingat sampah plastik butuh waktu berpuluh-puluh tahun agar bisa terurai. 
  • Kurangi kebiasaan berbelanja baju tiap bulan dan mulailah beralih ke produk ecofashion. Saat ini industri fashion menjadi salah satu penyumbang terbesar kerusakan bumi. Sisa kain dari baju yang sudah tak terpakai memerlukan waktu bertahun-tahun agar bisa hancur. 
  • Menanam dan memelihara pohon di lingkungan sekitar. 
  • Mulailah mengonsumsi pangan lokal. Merubah pola makan dengan lebih banyak konsumsi sayur dibanding daging juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus membuat kita lebih hemat, sehat dan bugar.
  • Mengajak anak dan generasi muda untuk terbiasa dekat dengan alam. Hal ini bisa menumbuhkan rasa cinta dan peduli untuk turut menjaga alam dan lingkungan.

Saat ini, hutan-hutan di Indonesia pun terancam punah dengan maraknya isu-isu kehutanan seperti : 

  1. Deforestasi yaitu kehilangan hutan akibat berbagai aktifitas manusia
  2. Degradasi hutan yaitu perusakan atau penurunan kualitas hutan
  3. Konversi hutan : hutan menjadi penggunaan non-hutan seperti pertanian dan perkebunan

Sementara laju deforestasi di Indonesia mengacu data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2018, sempat mengalami pelonjakan aktivitas pada tahun 1996-2000 namun seiring waktu, tingkat deforestasi semakin menurun seiring dengan berkurangnya luas hutan di Indonesia. Kenyataan yang bikin miris ya, Moms?

Ibu Atiek dari Tropenbos Indonesia (foto:dokpri)

Ibu DR. Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia menjelaskan lebih lanjut tentang solusi dan upaya-upaya mengembalikan fungsi hutan. Masyarakat umum pun dapat berkontribusi dengan cara :

  1. Mendukung pelestarian hutan yang ada
  2. Mendukung hasil hutan bukan kayu seperti rotan, madu hutan, gula aren dan rempah-rempah. 
  3. Pemanfaatan jasa ekosistem hutan. Contohnya dengan membeli air mineral yang menggunakan botol plastik ramah lingkungan.
  4. Mendukung ekonomi masyarakat tepi hutan dengan cara membeli hasil produksi mereka berupa kerajinan tangan dari rotan dan kain tenun.
  5. Mendukung produksi kayu berkelanjutan berupa produk kayu legal dan memiliki izin dari pemerintah.

Pohon dan Ekonomi Kreatif
Saat ini pemerintah Indonesia tengah menggalakkan ekonomi kreatif. Pohon menjadi erat kaitannya dalam hal ini karena pohon merupakan sumber serat dan pewarna alam. Selain itu, pohon juga difungsikan sebagai bahan kuliner, sebagai sumber furniture dan juga sebagai sumber barang dekorasi.

Ibu Titi menjelaskan langkah pemerintah menghadapi isu kehutanan yang tengah terjadi (foto:dokpri)

Ibu Ir. Murni Titi Resdiana MBA,  Asisten Utusan Khusus Presiden bidang Pengendalian Perubahan Iklim, menjelaskan lebih lanjut langkah-langkah yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi emisi sektor kehutanan berupa :

  • Pencegahan pembalakan liar
  • Kebijakan moratorium
  • Penanaman di kawasan hutan
  • Rehabilitasi hutan dan lahan
  • Rehabilitasi mangrove
  • Reklamasi lahan pasca tambang
  • Penanaman dengan tanaman perkebunan
  • Perluasan perkebunan di tanah terlantar

Selain itu, pemerintah telah menetapkan melalui Peraturan Presiden No.59 Tahun 2017 tentang pelaksanaan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs). Program prioritas pembangunan desa juga dikembangkan berupa Prukades (Produk Unggulan Kawasan Perdesaan), BUM Desa (Badan Usaha Milik Desa), Embung Desa dan Raga Desa (Sarana Olahraga Desa). 
Melalui program Action For Climate Empowerment yang melibatkan masyarakat, pemuda dan perempuan dibentuklah kemitraan di antara pemerintah, pelaku bisnis, LSM, universitas serta masyarakat dengan pengembangan kapasitas di bidang pendidikan, pelatihan, peningkatan kesadaran (dialog), akses informasi serta instrumen pendukung berupa pendanaan dan teknologi yang bertujuan menjadi aksi nyata demi meningkatkan ekonomi lokal, konservasi lingkungan dan dukungan terhadap TPB. 
Dari hutan pula banyak hal lain yang bisa diproduksi selain kayu, contohnya berupa :

  • Rotan dan lontar dapat diproduksi menjadi produk fashion dan kerajinan tangan.
  • Daun jati untuk diproduksi menjadi minuman pelangsing dan pewarna alami merah.
  • Kulit secang sebagai minuman dan pewarna alami merah coklat.
  • Indigofera dapat diolah menjadi makanan ternak dan pewarna alami biru.
  • Akar mengkudu sebagai pewarna alami merah.
  • Pohon kelapa bisa diambil gula, buah sabut dan kayunya. Sabut kelapa saat ini sedang dikembangkan menjadi sabut pencuci piring yang berbentuk seperti spons yang saat ini ada di pasaran. Hal ini bisa mengurangi impor dakron sebagai bahan baku spons cuci piring yang beredar sebelumnya.
  • Kaliandra merah bisa dijadikan pelet ternak dan sebagai pengganti batu bara.
  • Beberapa serat alam seperti serat Eucaliptus, serat daun Nanas, serat Bambu dan serat pelepah Pisang bisa digunakan sebagai bahan tekstil pakaian.

Yayasan Belantara dan Ikhtiar Pelestarian Alam Berbasis Masyarakat
Kondisi hutan yang makin memprihatinkan, membuat sebagian pihak tak pernah berhenti untuk terus peduli dan tetap berikhtiar dalam hal pelestarian hutan. Salah satunya dengan didirikannya yayasan Belantara sebagai yayasan konservasi hutan berbasis masyarakat yang terus berikhtiar untuk pelestarian alam berkelanjutan.

Ibu Sri Mariati dari Yayasan Belantara (foto:dokpri)

Ibu DR. Sri Mariati, Direktur Eksekutif dari yayasan Belantara menjelaskan bahwa yayasan ini merupakan salah satu institusi penyalur dana hibah yang bekerja untuk melindungi bentang alam Indonesia dengan mengembangkan program berkelanjutan di area konservasi, reforestaasi dan pengembangan masyarakat berkelanjutan.

Diluncurkan pada bulan Desember 2015 di Paris, yayasan ini memiliki alokasi hibah untuk mendukung kegiatan berbasis hutan dan perlindungan alam serta hewan langka di kawasan konservasi, kawasan hutan produksi, kawasan hutan lindung dan perhutanan sosial. Dengan pendekatan berbagai pihak,  yayasan Belantara memiliki tujuan mewujudkan pengelolaan yang berkelanjutan pada 10 area hibah  di 5 provinsi oleh seluruh pemangku kepentingan untuk melindungi kawasan konservasi dan habitat satwa liar yang dilindungi dan restorasi hutan dan lahan sambil meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada tahun 2021. Ke-10 area hibahnya meliputi kawasan Bukit Tigapuluh, Dangku-Meranti, Senepis, Giam Siak Kecil Bukit Batu, Semenanjung Kampar, Kerumutan, Berbak Sembilang, Padang Sugihan, Kubu dan juga Kutai.

Yayasan Belantara juga memiliki berbagai program di antaranya :

  • Program pengembangan konsensus untuk konservasi
  • Program pengembangan kelembagaan
  • Program aksi proteksi ekosistem
  • Program aksi restorasi ekosistem
  • Program pembangunan kapasitas
  • Program pemberdayaan masyarakat
  • Program pendidikan lingkungan dan konservasi alam
  • Program bantuan teknis dan monitoring

Perkebunan dengan pemanfaatan bioseptic-tank menjadi satu contoh  wujud program pemberdayaan masyarakat oleh yayasan ini. Pengembangan komoditi lokal berbahan dasar ikan dan udang mulai dari pelatihan, pembuatan produk ikan berkualitas, pengemasan sampai pemasaran di desa Sungsang IV dan dusun Sembilang juga menjadi salah satu proyek yayasan ini. Pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan di Dusun Sei Sembilang juga dilakukan bertujuan untuk mengembangkan dusun Sembilang menjadi desa ekowisata.
Mini Exhibition dan Demo Masak

Selain talkshow interaktif tentang kehutanan, terdapat juga mini exhibition yang memamerkan produk hutan non-kayu dan produk kreatif dari limbah kayu, hasil dari program Corporate Social Responsibility (CSR) seperti dari Javara dan Cipta Handycraft.

Ibu Mira dari Rumah Rakuji (foto:dokpri)

Ibu Myra dengan Rumah Rakuji-nya juga memperkenalkan aneka produk fashion yang turut serta memberdayakan pengrajin lokal serta memakai bahan dasar dari alam seperti :

  1. Serat Doyo atau Curculigo Latifolia sebagai bahan untuk menenun kain menggunakan alat tenun Gedog maupun ATBM.
  2. Serat Bemban atau Donax Carniformis untuk anyaman.
  3. Serat Bambu untuk dibuat linen karpet bambu juga anyaman dan tapestry.
  4. Serat daun Bronai untuk dibuat anyaman yang hasilnya sangat indah.
  5. Menggunakan pewarna alami untuk hasil tenun maupun serat.
  6. Semua produk Rakuji dibuat ecofriendly dan sudah mendapatkan Award of Excellence dari WCC WCCAPR.
Hasil produk Rumah Rakuji (foto:dokpri)

Menjelang makan siang, sesi talkshow pun usai dan dilanjutkan dengan demo masak oleh Chef Nurman dengan menu ayam bakar madu hutan yang dilanjut dengan makan siang bersama kuliner produk hutan serta pengumuman pemenang lomba live tweet dan instagram.

Sesi demo masak ayam bakar madu hutan.. hmm lezatnya (foto:dokpri)

Menjelang pukul 14.30, acara yang bertema lestari hutan ini pun usai. Pihak blogger pulang dengan pemahaman baru tentang hutan dan lingkungan serta diharapkan dapat memberi pemahaman lewat tulisannya tentang pentingnya aksi nyata peduli alam dan lingkungan di tingkat lokal.

Produk buatan Cipta Handycraft dari limbah kayu (foto:dokpri)
Display produk hutan non-kayu dari Javara (foto:dokpri)

Karena sejatinya, hutan dan lanskap sekitarnya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Karena itulah, masyarakat umum yang tidak berhubungan langsung dengan hutan tetap dapat berkontribusi secara tidak langsung dengan berhenti bersikap cuek dan mulai peduli terhadap lingkungan dan alam. Karena pada akhirnya kita juga yang akan merasakan manfaat adanya alam dan lingkungan yang lestari.

Foto bersama blogger dan narasumber usai talkshow (foto:dokpri)

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *