Biodiversitas Hutan Indonesia

Posted by

Oleh : DR.Amanda Katili Niode

Prof. Dr. Jatna Supriatna, Guru Besar  Biologi Konservasi di Universitas Indonesia, baru saja meluncurkan adikaryanya minggu ini, sebuah buku berjudul “Konservasi Biodiversitas. Teori dan Praktik di Indonesia”  disaksikan oleh Erik Solheim, Executive Director United Nations Environment.

Buku setebal 541 halaman tersebut, dengan rujukan 1000 literatur ilmiah, menjawab tantangan utama tentang sumber daya alam yang semakin rusak di Indonesia. Padahal,  sumber daya alam, khususnya sumber daya hayati, merupakan anugerah bagi kemaslahatan umat manusia.

Biodiversitas atau keanekaragaman hayati adalah kekayaan hidup di bumi, jutaan tumbuhan, hewan, mikroorganisme, genetika yang dikandung, dan ekosistem yang dibangun menjadi lingkungan hidup.

Deforestasi, perubahan permanen dari kawasan berhutan menjadi tidak berhutan akibat aktivitas manusia, menyebabkan berkurangnya biodiversitas hutan yang mengandung bahan keperluan manusia seperti sandang, pangan, papan, dan obat-obatan.

The State of Indonesia’s Forests 2018 yang diterbitkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan bahwa 63 persen dari seluruh wilayah daratan Indonesia, atau 120,6 juta hektar,  ditetapkan sebagai Kawasan Hutan. Sebagian besar wilayah daratan yang tersisa merupakan lahan publik non-hutan, yang dikenal sebagai Areal Penggunaan Lain.

Kawasan Hutan dikelola sesuai dengan tiga fungsi. Hutan Produksi, seluas 68,8 juta hektar, atau 57 persen dari Kawasan Hutan. Hutan Konservasi, sebesar 22,1 juta hektar atau 18 persen (dengan tambahan 5,3 juta hektar kawasan konservasi laut). Hutan Lindung yang memiliki fungsi daerah aliran sungai mencakup 29,7 juta hektar atau 25 persen. Indonesia juga memiliki lebih dari 15 juta hektar lahan gambut, yaitu 12 persen dari lahan hutan.

The State of Indonesia’s Forest 2018 juga mencantumkan penurunan deforestasi Indonesia dari 3,5 juta hektar per tahun  pada periode 1996-2000  menjadi 0,48 juta hektar pada periode 2016-2017.

Penurunan deforestasi dapat terjadi  karena berbagai upaya yang dilakukan. Indonesia telah meningkatkan komitmen dan implementasi untuk mencegah deforestasi dan degradasi dari sektor kehutanan; mengembangkan sistem untuk sertifikasi pengelolaan hutan lestari; dan membangun sistem untuk menyelesaikan konflik terkait hak penguasaan hutan yang melibatkan komunitas, termasuk komunitas adat melalui program Perhutanan Sosial.

Komitmen Indonesia terhadap Persetujuan Paris 2015 tentang Perubahan Iklim digarisbawahi dengan mengurangi emisi karbon menjadi 26 persen di bawah business as usual pada  2020 dan 29 persen tahun 2030 dengan tanpa syarat, dan 12 persen tambahan pengurangan emisi dengan bantuan internasional.  Pengurangan yang paling signifikan akan dicapai di sektor kehutanan, yaitu sebesar 17,2 persen pada pengurangan 29 persen, dan 23 persen pada pengurangan 41 persen.

Perhutanan Sosial adalah sistem pengelolaan hutan lestari dalam kawasan hutan negara atau hutan hak/hutan adat. Ini dilaksanakan oleh masyarakat setempat atau masyarakat hukum adat sebagai pelaku utama untuk meningkatkan kesejahteraannya, keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial budaya. Perhutanan Sosial yang bertujuan untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan ini dapat berupa Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Rakyat, Hutan Adat dan Kemitraan Kehutanan.

Pada peluncuran buku Konservasi Biodiversitas, Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Bambang Supriyanto, memberikan data mutakhir terkait Pemberian Akses Kelola Kawasan Hutan. Jumlah yang telah terealisasi adalah 1,7 juta hektar. Melalui Tim Percepatan Pengusulan Perhutanan Sosial, target yang akan dicapai pada akhir tahun 2018 berjumlah 2,5 juta hektar dari total alokasi yang sudah dicanangkan Presiden Jokowi sebesar 12,7 juta hektar.

Ancaman biodiversitas, tulis Prof. Jatna Supriatna, berakar pada pertambahan populasi dan kegiatan manusia seperti pertanian, perikanan, industri, urbanisasi, dan perdagangan. Sumber daya alam hayati sebagai emas hijau adalah sumber daya yang terbarukan, terutama apabila dikelola dengan baik dan benar berdasarkan ilmu pengetahuan. 

SUMBER