Bahas Masalah Hutan, Forest Talk Ngobrol Bareng Dengan Blogger Pekanbaru

Posted by

Oleh : Media ParasRiau

PEKANBARU, PARASRIAU.COM – Untuk lebih mengenal kondisi hutan Indonesia saat ini, dimana tercatat bahwa secara global kurang lebih 60 juta orang terdampak cuaca ekstrem. Kondisi ini dibuktikan dengan adanya perubahan iklim cuaca, dimana tinggi muka air laut meningkat dan suhu Samudera terasa semakin panas. 

Hal ini disampaikan oleh Manager Climate Reality Indonesia, Dr. Amanda Katili Niode dalam acara roadshow dengan para blogger dan media di Pekanbaru, yang dikemas dalam acara “Forest Talk With Bloggers Pekanbaru”, Sabtu (20/7) kemarin di Hotel Grand Zuri Pekanbaru.

Dalam acara tersebut selain menghadirkan narasumber dari Climate Reality Indonesia, juga menghadirkan dari Topenbos Indonesia yakni Dr. Atiek Widayati yang memaparkan terkait pengelolaan hutan lestari dan lanskap. Juga dari Kantor Utusan Khusus Presiden Bidang Pengendalian Perubahan Ilim, Murni Titi Resdiana, MBA yang memaparkan terkait Pohon dan Ekonomi Kreatif. Serta dari Asia Pulp and Paper, Tahan Manurung yang memaparkan Desa Makmur Peludi Api. 

Dr. Amanda mengatakan memanasnya suhu global disebabkan karena kejadian ekstrem yakni pengasaman samudera sehingga berdampak es meleleh. Dimana sistem Global rentan iklim tersebut akan memberikan dampak pula terhadap ketersediaan bangan pangan, air, kesehatan dan infrastruktur. 

Oleh sebab itu, untuk menjaga dan melestarikan hutan dari cuaca ekstrem, perlu dilakukan mitigasi dan adaptasi. Untuk mitigasi, dengan melakukan upaya memperlambat proses perubahan iklim global, dengan mengurangi level gas-gas rumah kaca di atmosfer dan juga mengurangi emisi dari kegiatan manusia. 

Sementara untuk adaptasi, yang perlu dilakukan yakni mengembangkan berbagai cara untuk melindungi manusia dan ruang, dengan mengurangi kerentanan terhadap dampak iklim dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim global. 

“Penggunaan bahan bakar fosil seperti pembakaran hutan, tambang batu bara, proses industri, industri pertanian, tempat pembuangan sampah, dan gas rumah kaca dapat menyebabkan pemanasan global. Berdasarkan data dan survei bahwa industri fashion menjadi salah satu pencemar terbesar, dengan andil 10 persen, “ungkapnya.

Sementara, Atiek memaparkan bahwa hutan dan lanskap merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. isu kehilangan hutan ada solusinya yakni dengan mengembalikan fungsi hutan, dengan kontribusi terhadap perbaikan dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan baik langsung ataupun tidak langsung. Tentunya kondisi tersebut akan menyadarkan masyarakat dan turut merasakan manfaatkan apabila terjanya hutan dengan melestarikan hutan. 

Dalam kegiatan yang bekerjasama dengan Yayasan Dr. Sjarir tersebut turut mengajak para blogger dan media langsung turun ke hutan dengan daerah yang dikunjungi yakni Desa Batu Gajah. Dimana didaerah tersebut, seluruh blogger dan media diberikan pengalaman menarik yang diisi dengan kegiatan memasak, melihat secara langsung hasil karya masyarakat setempat dan berkumpul bersama para warga, sambil memperlihatkan kondisi hutan. 

“Pengalaman ini cukup memberikan banyak ilmu kepada kita, karena ternyata dengan jarak yang cukup jauh masih banyak masyarakat yang memiliki potensi dan mereka sangat menghargai hutan dan pohon,”ujar Putra salah seorang blogger Pekanbaru. 

Diharapkan kegiatan ini bisa terus digelar, untuk memberikan pengetahuan kepada para generasi muda akan pentingnya menjaga hutan,”pungkas Putra. (nie)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *